UJI KUALITATIF UNTUK IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT I DAN II

29 04 2009

 

I.       PENDAHULUAN

Karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan manusia. Karena ia adalah sumber energi utama manusia. Contoh makanan sehari-hari yang mengandung karbohidrat adalah pada tepung, gandum, jagung, beras, kentang, sayur-sayuran dan lain sebagainya.

Karbohidrat adalah polihidroksildehida dan keton polihidroksil atau turunannya. selian itu, ia juga disusun oleh dua sampai delapan monosakarida yang dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum Cn(H2O)n. Rumus itu membuat para ahli kimia zaman dahulu menganggap karbohidrat adalah hidrat dari karbon.  

Penting bagi kita untuk lebih banyak mengetahui tentang karbohidrat beserta reaksi-reaksinya,  karena ia sangat penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Oleh karena itu, tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui cara identifikasi karbohidrat secara kualitatif, membuktikan adanya polisakarida dalam suatu bahan, membuktikan adanya gula pereduksi atau gula inversi, membedakan antara monosakarida dan poliskarida, membuktikan adanya pentosa, membuktikan adanya gula ketosa (fruktosa), membedakan karbohidrat berdasarkan bentuk kristalnya, mengidentifikasi hasil hirolisis pati atau amilum, dan mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa.

 

II.    TINJAUAN PUSTAKA

Teori yang mendasari percobaan ini adalah penambahan asam organik pekat, misalanya HSO4 menyebabakan karbohidrat terhidrolisis menjadi monosakarida. Selanjutnya monosakarida jenis pentosa akan mengalami dehidrasi dengan asam tersebut menjadi furfural, sementara golongan heksisosa menjadi hidroksi-multifurfural. Pereaksi molisch yang terdiri dari a-naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural tersebut membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Uji ini bukan uji spesifik untuk karbohidrat, walaupun hasil reaksi yang negatif menunjukkan bahwa larutan yang diperiksa tidak mengandung karbohidrat. Warna ungu kemrah-merahan menyatakan reaksi positif, sedangka warna hijau adalah negatif.

Untuk kegiatan praktikum kedua, yang mendasari perconaan uji iodium adalah penambahan iodium pada suatu polisakarida akan menyababkan terbentuknya kompleks adsorpsi berwarna spesifik. Amilum atau pati dengan iodium menghasilkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur, glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis bereaksi dengn iodium membentuk warna cerah coklat.

Pada uji benedict, teori yang mendasarinya adalah gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alkalis, menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata.

Ion Cu2+  dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Hal inilah yang mendasari uji Barfoed.

Pada uji bial, dasar dari percobaannya adalah dehidrasi pentosa oleh HCl pekat menghasilkan furfural dengan penambahan orsinol (3.5-dihidroksi toluena) akan berkondesasi membentuk senyawa kompleks berwarna biru.

Sedangkan dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural dengan penambahan resorsinol akan mengalami kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah jingga menjadi dasar dari uji Seliwanoff.

Pada uji Osazon, yang mendasarinya adalah pemanasan karbohidrat yang memiliki gugus aldehida atao keton bersama fenilhidrazin berlebihan akan membentuk hidrazon atao osazon. Osazon yang terbentuk mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang spesifik.

Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih dan terbentuk kembali bila didinginkan, namun sukrosa tidak membentuk osazon karena gugus aldehida dan keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas., sebaliknya osazon monosakarida tidak larut dalam air mendidih.

Sedangkan teori yang mendasari hidrolisis pati dan sukrosa adalah, pati (starch) tau amilum merupakan polisakarida yang terdapat pada sebagian besar tanaman, terbagi menjadi dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa (+- 20 %) memilki strusktur linier dan dengan iodium memberikan warna biru serta larut dalam air. Fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (+- 80 %) dengan struktur bercabang. Dengan penambahan iodium fraksi memberikan warna ungu sampai merah. Patai dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis menjdi senyawa-senyawa yang lebih sedrhana. Hasil hidrolisis dapat dengan iodium dan menghaislkan warna biru samapi tidak berwarna. Hasil akhir hidrolisis dapat ditegaskan dengan uji Benedict.

Sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas akan terhirolisis, lalu menghasilkan glukosan dan fruktosa. Hal ini menyebabkan uji Benedict dan uji Seliwanoff yang sebelum hidrolisis memberikan hasil negatif menjadi positif. Uji Barfoed menjadi positif pula dan menunjukkan bahwa hidrolisis sukrosa menghasilakn monosakarida.           

     +HCl

Sukrosa ———–> Glukosa + Fruktosa

 

III. METODOLOGI

Metodologi yang digunakan pada percobaan ini adalah dengan menggunakan alat-alat, bahan-bahan dan prosedur sebagai berikut :

Alat

1.      Tabung reaksi Pyrex

2.      Rak tabung reaksi

3.      Pipet tetes

4.      Lempeng tetes poselin

5.      Penjepit tabung reaksi

6.      Penangas air

7.      Alat pemanas

8.      Pipet ukur

9.      Mikroskop

Bahan

1.      Amilum, glikogen, dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1 %.

2.      Pereaksi Molisch

3.      H2SO4 pekat

4.      Larutan Iodium

5.      Pereaksi Benedict

6.      Pereaksi Barfoed

7.      Perekasi Bial

8.      HCl pekat (37 %)

9.      Perekasi Seliwanoff

10.  Fenilhidrazin-hidroklorida

11.  Natrium asetat

12.  HNO3 pekat

13.  HCl 2 N

14.  NaOH  %

15.  Kertas lakmus

 

Prosedur

  1. Uji Molisch
  1. Masukkan 15 tetes larutan uji kedalam tabung rekasi yang masih kering dan bersih
  2. Tamabahkan 3 tetes pereaksi Molisch. Campurkan dengan baik.
  3. Miringkan tabung rekasi, lalu alirkan dengan hati-hati 1 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung supaya tidak bercampur.
  4. Perhatikan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan yang menandakan reaksi positif karbohidrat.
  5. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya.

 

 

  1. Uji Iodium
  1. Masukkan tiga tetes larutan uji kedalam tabung reaksi atau lempeng tetes porselin.
  2. Tambahkan dua tetes larutan Iodium
  3. Amati warna sepesifik yang terbentuk, catat dan buatlah kesimpulannya.
  1. Uji Benedict

1.      Masukkan 15 tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi Benedict ke  dalam tabung reaksi. Campurkan dengan baik.

2.      Didihkan di atas api kecil selama dua menit atau masukkan ke dalam penangas air mendidih selama 5 menit.

3.      Dinginkan perlahan-lahan. Perhatikan warna dan endapan yang terbentuk.

 

  1. Uji Barfoed

1.      Masukkan 10 tetes larutan uji dan 10 tetes pereaksi Barfoed ke dalam tabung reaksi. Campurkan dengan baik.

2.      Didihkan di atas api kecil selama satu menit atau masukkan ke dalam penangas air mendidih selama 5 menit.

3.      Dinginkan perlahan-lahan. Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata.

 

  1. Uji Bial

1.      Masukkan 5 mL larutan uji dan tambahkan 10 tetes pereaksi Bial dan 3 mL HCl pekat ke dalam tabung reaksi. Campurlah dengan baik.

2.      Panaskan di atas api kecil sampai timbul gelembung-gelembung gas ke permukaan larutan

3.      Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk. Terbentuknya warna biru menunjukkan adanya pentosa.

 

  1. Uji Seliwanoff

1.      Masukkan 5 tetes larutan uji dan tambahkan 15 tetes perekasi selliwanof ke dalam tabung reaksi

2.      Didihkan di atas api kecl selama 30 detik atai dalam penangas air selama 1 menit

3.      Hasil positif ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna merah jingga

 

  1. Uji Osazon

1.      Masukkan 2 mL larutan ke dalam tabungt reaksi

2.      Tambahkan seujung spatel fenilhidrazin-hidroklorida an kristal natrium asetat.

3.      Panaskan ke dalam penangas air mendidih selama beberapa menit (+- 30 menit)

4.      Dinginkan perlaha-lahan di bawah air kran

5.      Perhatikan kristal yang terbentuk dan identifikasi di bawah mikroskop.

 

  1. Hidrolisis Pati

1.      Masukkan ke dalam tabung rekasi Pyrex  5 mL larutan amilum 1 % kemudian tambahkan 2,5 mL HCl 2 N.

2.      Campurtlah dengan baik, lalau masukkan ke dalam penangas air mendidih.

3.      Setetlah tiga menit, ujilah dengan larutan iodium dengan cara mengambil 2 tetes larutan, lalu ditambah 2 tetes iodium dalam lempeng tetes porselin tetes. Catat perubahan warna yang terjadi.

4.      Lakukan uji iodium setiap tiga menit samapi hasilnya berwarna kuning pucat.

5.      Lakuakan hidrolisis selama 5 menit lagi

6.      Setelah didinginkan, ambil 2 mL larutan hasil hidrolisis, lalu netrelakan dengan NaOH 2 %. Uji dengan kertas lakmus

7.      Kemudaian lakuakan uji Benedict

8.      Simpulakan apa yang dihasilakan dari hidrolisis pati

 

  1. Hidrolisis Sukrosa

1.      Masukkan ke dalamtabung reaksi Pyrex 5 mL larutan sukrosa 1 % kemudian tambahkan 5 tetes HCl pekat.

2.      Campurlah dengan baik, lalu panaskan dalam penangas air medidih selama 30 menit.

3.      Setelah didiginkan, netralkan larutan dengan NaOH 2 % dan uji dengan kertas lakmus.

4.      Selanjutnya lakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed.

5.      Simpulkan apa yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa.

 

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Dari Praktikum 1, diperoleh hasil sebagaimana tertera di tabel. 1

Tabel. 2

No.

Zat Uji

Hasil Uji Molisch

Karbohidrat (+/-)

1.       

Amilum 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

2.       

Glikogen 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

3.       

Dekstrin 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

4.       

Sukrosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

5.       

Laktosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

6.       

Maltosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

7.       

Galaktosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

8.       

Fruktosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

9.       

Glukosa 1%

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

10.   

Arabinosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

Pada uji Molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat. hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :

                                                  H                                      O

                                       

CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + H2SO4           ─C—H + 

                                                                                                                         

                                                                                                                         OH

Pentosa                                                                               Furfural             α-naftol

 

 

                                                              H                                                              

                                                                

CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + H2SO4 

Heksosa                             

 O

                                 

→ H2C─       ─C—H       +

                                                                    

      OH                                             OH

5-hidroksimetil furfural                α-naftol

                                                                                                         

Rumus dari cincin ungu yang terbentuk adalah  sebagai berikut:                

                               O

                              

 

 

                                                               ­__SO3H

H2C─       ─────C─────          ─OH

 

 

Cincin ungu senyawa kompleks

 

Pada uji Iodium, pada masing-masing zat uji memiliki indikasi yang berbeda-beda. dari sepuluh zat uji, Amilum, Glikogen, dan Dekstrin positif polisakarida.

Untuk uji Iodium, didapat hasil sebagaimana tertera di tabel 2.

Tabel . 2

No.

Zat Uji

Hasil Uji Iodium

Polisakarida (+/-)

1.       

Amilum 1 %

Terbentuk warna Biru Tua

+

2.       

Glikogen 1 %

Terbentuk warna Merah Coklat

+

3.       

Dekstrin 1 %

Terbentuk warna Merah Anggur

+

4.       

Sukrosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

-

5.       

Laktosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

-

6.       

Maltosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

-

7.       

Galaktosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

-

8.       

Fruktosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

-

9.       

Glukosa 1%

Terbentuk warna Kuning

-

10.   

Arabinosa

Terbentuk warna Kuning

-

 

Pada uji Benedict, indikator terkandungnya Gula Reduksi  adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. hal teresebut dikarenakan terbentuknya hasil reaksi berupa Cu2O.

Hasil uji pada uji Benedict adalah sebagaimana tertera di tabel. 3

 Tabel 3

No.

Zat Uji

Hasil Uji Benedict

Gula Reduksi (+/-)

1.         

Amilum 1 %

Terbentuk warna hijau dan tidak terbentuk endapan

-

2.         

Glikogen 1 %

Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan

-

3.         

Dekstrin 1 %

Terbentuk warna biru dan endapan kuning

-

4.         

Sukrosa 1 %

Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan

-

5.         

Laktosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

6.         

Maltosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

7.         

Galaktosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

8.         

Fruktosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

9.         

Glukosa 1%

Terbentuk endapan merah bata

+

10.     

Arabinosa

Terbentuk endapan merah bata

+

Berikut reaksi yang berlangsung:

       O                                          O

                                                

R—C—H  + Cu2+ 2OH-  R—C—OH + Cu2O

Gula Pereduksi                                           Endapan Merah Bata

 

Pada uji Barfoed, yang terdeteksi monosakarida membentuk endapan merah bata karena terbentuk hasil Cu2O. berukut reaksinya :

       O                                       O

                   Cu2+ asetat        

R—C—H  + ─────→  R—C—OH + Cu2O+ CH3COOH

n-glukosa                                                 E.merah

monosakarida                                              bata

 

Hasil uji pada uji Barfoed adalah sebagaimana tertera di tabel. 4

Tabel. 4

No.

Zat Uji

Hasil Uji Barfoed

Monosakarida (+/-)

1.       

Sukrosa 1 %

tidak terbentuk endapan

-

2.       

Laktosa 1 %

tidak terbentuk endapan

-

3.       

Maltosa 1 %

Tidak terbentuk endapan

-

4.       

Galaktosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

5.       

Fruktosa1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

6.       

Glukosa1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

7.       

Arabinosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

 

Pada uji Bial, terkandungnya pentosa dideteksi dengan indikasi terbentuknya warna biru pada zat uji, dan hal itu terbukti pada zat uji Arabinosa 1 %.

Hasil uji pada uji Bial adalah sebagaimana tertera di tabel. 5

Tabel. 5

No.

Zat Uji

Hasil Uji Bial

Pentosa  (+/-)

1.   

Maltosa 1 %

Bening

-

2.   

Galaktosa 1 %

Bening

-

3.   

Fruktosa 1 %

Berwarna Kuning

-

4.   

Glukosa 1 %

Bening

-

5.   

Arabinosa1 %

Berwarna Biru

+

 

 

Berikut, reaksinya :                  

 

                                                              H                                          O            CH3

                    -3 H2O                          

CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + HCl  ­───→         ─C—H + 

                                                                                                                            

                                                                                                                      OH  OH

Pentosa                                                                                     Furfural         orsinol

                                                                                                                   (kompleks

                                                                                                           berwarna biru)

 

Pada uji Seliwanof, ketosa terdeteksi pada zat uji Fruktosa dengan terbentuknya warna jingga; yaitu karena terbentuknya resorsinol.

Hasil uji pada uji Seliwanoff adalah sebagaimana tertera di tabel. 6

Tabel. 6

No.

Zat Uji

Hasil Uji Seliwanof

Ketosa  (+/-)

1.   

Sukrosa 1 %

Kuning Jingga

-

2.   

Galaktosa 1 %

Bening

-

3.   

Fruktosa 1 %

Merah Jingga

+

4.   

Glukosa 1 %

Bening

-

5.   

Arabinosa1 %

Bening

-

Berikut reaksinya :

CH2OH             OH                                                                                                                              O               OH   OH

                                            +HCl                                                

        H               CH2OH     ───    H2C—       —C—H  +                kompleks

                                                                                                                 berwarna

           OH   H                                      OH                                             merah jingga

                                                  5-hidroksimetil furfural         resorsinol

 

Pada uji Osazon, diperoleh hasil yang berbeda-beda. Masing-masing zat uji mempunyai bentuk yang khas. Hal tersebut dapat digunakan untuk membedakan antara setu karbohidrat dengan karbohidrat yang lain.

Hasil Uji Osazon adalah sebagaimana tertera di tabel 7

Tabel. 7

No.

Zat Uji

Hasil Uji Osazon

Bentuk Kristal

1.    

Sukrosa 1 %

Terbentuk Kristal

 

2.    

Maltosa 1 %

Terbentuk Kristal

 

3.    

Galaktosa 1 %

Terbentuk Kristal

 

4.    

Glukosa 1 %

Terbentuk Kristal

 

 

 

 

Berikut reaksinya :

                 H    H  OH  H    H 

                               

CH2OH—C—C—C—C—C=O+H2NNHC6H5     (D-glukosa + fenilhidrazin)

                               

                OH OH  H  OH

 

 

                 H    H  OH  H    H 

                               

CH2OH—C—C—C—C—C=O+NNHC6H5 + H2  (D-glukosafenilhidrazon)

                               

                OH OH  H  OH

 

│2 C6H5 NHNH2

 

                 H    H  OH         H 

                                  

CH2OH—C—C—C—C—C=O+NNHC6H5  (D-glokosazon / Ozsazon kuning)

                               

                OH OH  H   NNH C6H5

 

Pada uji hidrolisis pati, hidrolisis sempurna apabila menjadi senyawa yang lebih sederhana yang terdeteksi pada perubahan warna. Hal ini terlihat padas perubahan warna setiap tiga menit disertai perbedaan hasil hidrolisis pula. Larutan hasil hidrolisis sebelum dilakukan uji Benedict untuk menentukan hasil akhir harus dinetralkan terlebih dahulu, karena semula masih dalam suasana asam. Berikut hasil uji Hidrolisis Pati adalah sebagimana tertera di Tabel. 8

Tabel. 8

Perlakuan

Hidrolisis (menit)

Hasil Uji Iodium

Hasil Hidrolisis

5 mL amilum 1 % ditambah 2,5 mL HCl 2 N kemudia dipanskan di penangas air mendidih

3

Biru

Amilopekstin

6

Ungu

Amilosa

9

Violet

Amilosa

12

Merah Tua

Ertitrodekstrin

15

Kuning Coklet

Akrodekstrin

18

Kuning Pucat

Maltosa

21

Pekat

Glukosa

Hasil Akhir dengan uji Benedict yaitu terbentuknya endapan merah bata

 

Pada uji Hidrolisis Pati ini dilakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed supaya dapat mengidentifikasi monosakarida-monosakarida yang terbentuk (glukosa dan fruktosa).

Sementara itu, yang dimaksud dengan gula inverse adalah gula yang dapat memutar bidang polarisasi, karena memiliki gugus aldehida dan keton bebas. Berikut hasil uji Hidrolisis Pati adalah sebagimana tertera di Tabel. 9

Tabel. 9

Perlakuan

Uji

Hasil Uji

5 mL sukrosa 1 % ditambah 5 tetes HCl pekat kemudian dipanaskan di penagas air mendidih

Benedict

Terbentuk Endapan Merah Bata

Seliwanoff

Terbentuk Merah Jingga

Barfoed

Terbentuk Endapan Merah Bata

 

V.     KESIMPULAN

 

1.      Amilum, glokogen, dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1 %. Terbukti positif karbohidrat

2.      Pada Amilum, Glikogen, dan Dekstrin adalah polisakarida

3.      Pada laktosa, Maltosa, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa terdapat gula inversi yaitu dengan terbentuknya endapan merah bata.

4.      Pada Sukrosa, Laktosa, dan Maltosa adalah monosakarida. Sedangkan, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa adalah disakarida

5.      Pada zat Uji Arabinosa, terdpaat pentosa dari uji Barfoed

6.      Pada Uji Seliwanof, Ketosa terdapat pada fruktosa

7.      Bentuk kristal karbohidrat pada hasil uji Osazon berbeda-beda sesuai dengan zat ujinya.

8.      Hasil hidrolisis pati dan amilum adalah amilopektin, amilosa, eritrodekstrin, akrodekstrin, maltosa, dan glukosa

9.      hasil hidrolisis sukrosa adalah monosakarida-monsakarida (glukosa dan freuktosa) yang terdeteksi pada uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed

 

 

 

VI.  DAFTAR PUSTAKA

 

Feseenden dan Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa Aksara. Jakarta

Jalip, IS. 2008. Praktikum Kimia Organik, Edisi  kesatu. Laboratorium Kimia Universitas Nasional. Jakarta





Ayat Qur’an Dalam Kromosom Manusia

28 04 2009

Seorang ilmuwan yang penemuannya sehebat Gallileo, Newton dan Einstein yang berhasil membuktikan tentang keterkaitan antara Al Qur’an dan rancang struktur tubuh manusia adalah Dr. Ahmad Khan. Dia adalah lulusan Summa Cumlaude dari Duke University. Walaupun ia ilmuwan muda yang tengah menanjak, terlihat cintanya hanya untuk Allah dan untuk penelitian genetiknya. Ruang kerjanya yang dihiasi kaligrafi, kertas-kertas penghargaan, tumpukan buku-buku kumal dan kitab suci yang sering dibukanya, menunjukkan bahwa ia merupakan kombinasi dari ilmuwan dan pecinta kitab suci.

 

Salah satu penemuannya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan adalah itemukannya informasi lain selain konstruksi Polipeptida yang dibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitiannya adalah Surat “Fussilat” ayat 53 yang juga dikuatkan dengan hasil-hasil penemuan Profesor Keith Moore ahli embriologi dari Kanada. Penemuannya tersebut diilhami ketika Khatib pada waktu salat Jumat membacakan salah satu ayat yang ada kaitannya dengan ilmu biologi. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut:

 

“…Sanuriihim ayatinaa filafaaqi wa fi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu ul-haqq…”

 

Yang artinya; Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran”.

 

Hipotesis awal yang diajukan Dr. Ahmad Khan adalah kata “ayatinaa” yang memiliki makna “Ayat Allah”, dijelaskan oleh Allah bahwa tanda- tanda kekuasaanNya ada juga dalam diri manusia. Menurut Ahmad Khan ayat-ayat Allah ada juga dalam DNA (Deoxy Nucleotida Acid) manusia.

 

Selanjutnya ia beranggapan bahwa ada kemungkinan ayat Alquran merupakan bagian dari gen manusia. Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyaknya DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali. Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah.

 

Kenyataannya DNA tersebut menurut Ahmad Khan jauh sekali dari makna sampah. Menurut hasil hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir. Sebagaimana disindir oleh Allah: “Afala tafakaruun “ (apakah kalian tidak mau bertafakur atau menggunakan akal pikiran?).

 

Setelah bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya ditujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya Ahmad Khan berupaya untuk menemukan huruf Arab yang mungkin dibentuk dari rantai Kodon pada kromosom manusia. Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat-ayat Al Qur’an. Akhirnya pada tanggal 2 Januari tahun 1999 pukul 2 pagi, ia menemukan ayat yang pertama “Bismillah ir Rahman ir Rahiim. “Iqra bismirrabbika ladzi Khalq”, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A’laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut ayat lain muncul satu persatu secara cepat. Sampai sekarang ia telah berhasil menemukan 1/10 ayat Alquran.

 

Dalam wawancara yang dikutip “Ummi” edisi 6/X/99, Ahmad Khan menyatakan: “Saya yakin penemuan ini luar biasa, dan saya mempertaruhkan karier saya untuk ini. Saya membicarakan penemuan saya dengan dua rekan saya; Clive dan Martin seorang ahli genetika yang selama ini sinis terhadap Islam. Saya menyurati dua ilmuwan lain yang selama ini selalu alergi terhadap Islam yaitu Dan Larhammar dari Uppsala University Swedia dan Aris Dreisman dari Universitas Berlin.

 

Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuannya dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada cromosome manusia yaitu; T, C, G, dan A masing-masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.

 

Di akhir wawancaranya Dr. Ahmad Khan berpesan “Semoga penerbitan buku saya “Alquran dan Genetik”, semakin menyadarkan umat Islam, bahwa Islam adalah jalan hidup yang lengkap. Kita tidak bisa lagi memisahkan agama dari ilmu politik, pendidikan atau seni. Semoga non muslim menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmu dengan agama. Demikian juga dengan ilmu-ilmu keperawatan.

 

Penulis berharap akan datang suatu generasi yang mendalami prinsip-prinsip ilmu keperawatan yang digali dari agama Islam. Hal ini dapat dimulai dari niat baik para pemegang kebijakan (decission maker) yang beragama Islam baik di institusi pendidikan atau pada level pemerintah. Memfasilitasi serta memberi dukungan secara moral dan finansial.

 

Terbukanya tabir hati ahli Farmakologi Thailand Profesor Tajaten Tahasen, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Chiang Mai Thailand, baru- baru ini menyatakan diri masuk Islam saat membaca makalah Profesor Keith Moore dari Amerika. Keith Moore adalah ahli Embriologi terkemuka dari Kanada yang mengutip surat An-Nisa ayat 56 yang menjelaskan bahwa luka bakar yang cukup dalam tidak menimbulkan sakit karena ujung-ujung syaraf sensorik sudah hilang. Setelah pulang ke Thailand Tajaten menjelaskan penemuannya kepada mahasiswanya, akhirnya mahasiswanya sebanyak 5 orang menyatakan diri masuk Islam.

 

Bunyi dari surat An-Nisa tersebut antara lain sebagai berkut : “Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kali kulit mereka terbakar hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain agar mereka merasakan pedihnya azab. “Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

Ditinjau secara anatomi lapisan kulit kita terdiri atas 3 lapisan global yaitu; Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan Sub Cutis banyak mengandung ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf. Pada saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus sub cutis) salah satu tandanya yaitu hilangnya rasa nyeri dari pasien.

 

Hal ini disebabkan karena sudah tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent yang mengatur sensasi persefsi. Itulah sebabnya Allah menumbuhkan kembali kulit yang rusak pada saat ia menyiksa hambaNya yang kafir supaya hambaNya tersebut dapat merasakan pedihnya azab Allah tersebut. Mahabesar Allah yang telah menyisipkan firman-firmannya dan informasi sebagian kebesaranNya lewat sel tubuh, kromosom, pembuluh darah, pembuluh syaraf dsb.

 

Rabbana makhalqta hada batila, Ya…Allah tidak ada sedikit pun yang engkau ciptakan itu sia-sia. Dari bahtera menuju Islam Seorang pakar kelautan menyatakan betapa terpesonanya ia kepada Al Qur’an yang telah memberikan jawaban dari pencariannya selama ini.

 

Prof. Jackues Yves Costeau seorang oceanografer, yang sering muncul di televisi pada acara Discovey, ketika sedang menyelam menemukan beberapa mata air tawar di tengah kedalaman lautan. Mata air tersebut berbeda adar kimia, warna dan rasanya serta tidak bercampur dengan air laut yang lainnya. Bertahun-tahun ia berusaha mengadakan penelitian dan mencari jawaban misteri tersebut.

 

Sampai suatu hari bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia menjelaskan tentang ayat Al Qur’an Surat Ar-Rahman ayat 19-20 dan surat Al-Furqon ayat 53. Awalnya ayat itu ditafsirkan muara sungai tetapi pada muara sungai ternyata tidak ditemukan mutiara.

 

Terpesonalah Mr. Costeau sampai ia masuk Islam. Kutipan ayat tersebut antara lain sebagai berikut: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan, yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antar-keduanya dinding dan batas yang menghalang” (QS Al-Furqon: 53).

 

Berdasarkan contoh kasus di atas, dapat memberikan gambaran pada kita bahwa ayat suci Alquran mampu menjelaskan fenomena Cromosome, Anatomi, Oceanografi, Keperawatan dan antariksa (baca “Jurnal Keperawatan Unpad” edisi 4, hal 64-70). Sebenarnya masih banyak ayat- ayat Al Qur’an yang menerangkan fenomena evolution and genetic seperti QS As-Sajdah 4, QS al-A’raf 53, QS Yusuf 3, QS Hud 7, tetapi karena keterbatasan ruangan pada kolom ini, serta dengan segala keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki penulis, maka kepada Allah jualah hendaknya kita berharap dan hanya Allah-lah yang Mahaluas dan Mahatinggi ilmunya.

Wallahu a’lam.***





PEDOMAN AL QUR’AN DALAM PENDIDIKAN ANAK

25 04 2009

Oleh : M. Syamsi Ali

 

Tulisan sederhana ini memaparkan secara singkat pandangan, pedoman dan dasar-dasar pendidikan bagi anak. Saya sadar sepenuhnya bahwa tulisan ini sangat rendah ke-ilmiyah-annya, jika keilmiyahan itu didasarkan pada tumpukan rujukan berbagai ahli dalam berbagai bidang.

Alasan penulis sangat sederhana. Pertama, penulis ingin membangun kesadaran baru bahwa dasar-dasar keilmuan yang ditampilkan oleh Kitab Allah dan Sunnah RasulNya belum dan tak akan tertandingi oleh konsep keilmuan manapun juga. Perhatikan beberapa ayat Al Qur’an yang menantang mereka yang mengaku pintar untuk menciptakan suatu konsep yang dapat menyaingi Kitab kebenaran ini. Lihat misalnya QS. Al Baqarah: 23.

Kedua, penulis juga ingin membangun sebuah kesadaran kiranya kaum intelektual Muslim, khususnya kaum muda, terbiasa mengolah otak/ijtihad dalam memahami dan menjabarkan konsep-konsep dasar keilmuan dalam berbagai bidang yang tertuang secara jelas dalam Kitab Sucinya. Tidak sebagaimana sering terjadi dimana kaum intelektual terperosok ke dalam kutipan-kutipan orang lain, yang belum tentu beri’tiqad baik terhadap agama Allah. Belajar menegakkan independensi intelektual ummat adalah aset besar masa depannya.

Namun hal ini tidaklah berarti bahwa ummat Islam tidak mau atau tidak perlu mengambil pendapat orang lain. Melainkan belajar untuk tidak selamanya bergantung pada pendapat orang lain. Dengan demikian, ummat ini betul-netul merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, termasuk kemerdekaan intelektual. Bahkan harapan kita, ummat ini harus menjadi pedoman keilmuan bagi ummat manusia sebagaimana masa-masa lalunya yang indah.

PENDIDIKAN ANAK

Dalam Islam, berbicara mengenai pendidikan tidak dapat dilepaskan dari asal muasal manusia itu sendiri. Kata “pendidikan” yang dalam bahasa arabnya disebut “tarbiyah” (mengembangkan, menumbuhkan, menyuburkan) berakar satu dengan kata “Rabb” (Tuhan). Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan adalah sebuah nilai-nilai luhur yang tidak dapat dipisahkan dari, serta dipilah-pilah dalam kehidupan manusia. Terpisahnya pendidikan dan terpilah-pilahnya bagian-bagiannya dalam kehidupan manusia berarti terjadi pula disintegrasi dalam kehidupan manusia, yang konsekwensinya melahirkan ketidak-harmonisan dalam kehidupannya itu sendiri.

Menurut Al Qur’an, asal muasal komposisi manusia itu terdiri dari tiga hal yang tidak terpisahkan: 1. Jasad. 2. Ruh. 3. Intelektualitas. Lihat QS. As Sajadah: 7-9).

Semua manusia adalah sama dalam komposisi ini. Mereka semua tercipta dan dilahirkan ke alam dunia ini dengan dasar penciptaan dan kehidupan yang tidak berbeda. Kesimpulan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai haditsnya, al:

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas dasar fithrah. Hanya saja, kedua ibu bapaknya yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi” (hadits)

“Setiap hambaKu Aku ciptakan dengan kesiapan menjadi lurus (baik). Hanya saja, syetan-syetan menjadikan mereka tergelincir (dalam kesesatan)” (hadits Qudsy).

Bahkan Al Qur’an itu sendiri dengan tegas menyatakan bahwa komposisi penciptaan yang sempurna ini (ahsanu taqwiim) dan diistilahkan dengan “fithrah Allah” (insaniyah/kemanusiaan), tidak mungkin terganti atau terubah. Lihat QS: Ar Ruum: 30. Hakikat ini terkadang pula disebut “Sunnatullah” (hukum Allah). Lihat QS: Al Ahzaab: 33, QS: Faathir: 35, dan QS: Al Fath: 48.

ARTI DAN FUNGSI PENDIDIKAN

Jika dasar kemanusiaan (komposisipenciptaan/fithrah) manusia tidak dapat berubah dan berganti, lalu apa arti dari suatu pendidikan?

Telah kita singgung terdahulu bahwa pendidikan atau tarbiyah berasal dari kata “rabaa-yarbuu-riban wa rabwah” yang berarti “berkembang, tumbuh, dan subur”. Dalam Al Qur’an, kata “rabwah” berarti bukit-bukit yang tanahnya subur untuk tanam-tanaman. Lihat QS: Al Baqarah:265. Sedangkan kata “riba” mengandung makna yang sama. Lihat QS: Ar Ruum:39.

Dengan pengertian ini jelas bahwa mendidik atau “rabba” bukan berarti “mengganti” (tabdiil) dan bukan pula berarti “merubah” (taghyiir). Melainkan menumbuhkan, mengembangkan dan menyuburkan, atau lebih tepat “mengkondisikan” sifat-sifat dasar (fithrah) seorang anak yang ada sejak awal penciptaannya agar dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik. Jika tidak, maka fithrah yang ada dalam diri seseorang akan terkontaminasi oleh “kuman-kuman” kehidupan itu sendiri. Kuman-kuman kehidupan inilah yang diistilahkan oleh hadits tadi dengan “tahwiid” (mengyahudikan) “tanshiir” (menasranikan) dan “tamjiis” (memajusikan). Pada hadits yang lain disebutkan “ijtaalathu as Syaithaan” (digelincirkan oleh syetan).

Kuman-kuman kehidupan atau meminjam istilah hadits lain “duri-duri perjalanan” (syawkah) tentu semakin nyata dan berbahaya di zaman dan di mana kita hidup saat ini. Masalahnya, apakah kenyataan ini telah membawa kesadaran bagi kita untuk membentengi diri dan keluarga kita? “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kamu dan keluarga-keluarga kamu dari api neraka” (QS: At Tahriim:6).

AL QUR’AN DAN PENDIDIKAN ANAK

Ummat Islam saat ini nampaknya membuktikan prediksi Rasulnya lima belas abad yang lalu. Dalam haditsnya Rasulullah menjelaskan: “Suatu saat kamu akan menjadi seperti buih di tengah samudra luas. Terombang-ombang oleh ombak serta mengikut ke arah mana jalannya angin. Para sahabat bertanya: Apakah karena kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah? Tidak, namun kamu ditimpa penyakit “wahan”. Para sahabat bertanya: Apakah penyakit wahan itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Hubbu ad Dunya wa karaahiyat al Maut (Cinta dunia dan benci mati)” (hadits).

Cinta dunia yang berlebihan, sebagai konsekwensi logis dari tertanamnya faham materialisme dalam diri kita melahirkan sikap-sikap yang seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi (abadi). Lihat QS: Al Humazah: 2-3.

Sikap yang demikian pula yang menyebabkan kita menyikapi pendidikan anak-anak kita seolah-olah tak ada aspek lain dalam hidupnya kecuali memburu dunia dengan segala manifestasinya. Sehingga kita bersikap buta hati terhadap kisah Ibrahim dan Ya’quub untuk menghayati bagaimana mereka telah mendidik anak keturunan mereka. Al Qur’an mengisahkan, Ibrahim dan Ya’qub senantiasa mewasiatkan anak-anaknya tentang agama ini. “Sungguh Allah telah memilih bagimu agama ini, maka janganlah sekali-kali kamu mati kecuali telah berislam secara benar” (QS: Al Baqarah: 132). Bahkan Ya’qub AS disaat-saat menjelang maut menjemputnya, menyempatkan diri bertanya kepada anak-anaknya: “madzaa ta’buduuna min ba’di” (Apa gerangan yang akan kamu sembah setelah kematianku)? Lihat QS: Al Baqarah:133.

Gambaran Ibrahim dan Ya’qub AS di atas mengajarkan betapa besar perhatian mereka terhadap kelestarian kesadaran beragama bagi anak-anak mereka. Sebaliknya, ummat Muslim saat ini seolah-olah telah mengganti ayat “maadza ta’buduuna” (apa yang kamu sembah) dengan kata-kata “maadza ta’kuluuna” (apa yang akan kamu makan setelah aku meninggal). Kepedulian terhadap kelangsungan kesadaran beragama anak-anak kita sangat minim sekali. Sehingga sebagai ilustrasi, seringkali jika anak kembali dari sekolah yang ditanyakan adalah nilai berapa yang kamu dapatkan? Sementara shalatnya tidak terpedulikan sama sekali.

Perhatikan kebanggaan seorang orang tua bila anaknya meraih suatu predikat kesarjanaan (Dr, MBA, dst). Namun alangka sedikitnya yang menyadari kiranya predikat-predikat tersebut dapat menjadi jembatan kebahagiaan anaknya dunia-Akhirat, serta menjaganya dari jilatan api neraka. Kesadaran kita terhadap doa sapu jagad kita (memohon kebajikan dunia-Akhirat) masih berada di sekitar lingkaran lisan kita. Sementara dalam fakta sikap kita menunjukkan bahwa kita menghendaki dunia semata.

PENDIDIKAN ISLAM SIFATNYA TERPADU

Telah disebutkan terdahulu bahwa Islam memandang pendidikan sebagai sesuatu yang identik dan tidak terpisahkan dari asal muasal penciptaan manusia/ fithrah/ insaniyah manusia itu sendiri, yakni terdiri dari tiga hal: Jasad, Ruh, dan Intelektualitas. Dengan demikian, pendidikan dalam pandangan Islam meliputi tiga aspek yang tidak dapat dipilah-pilah: 1. Pendidikan jasad (tarbiyah jasadiyah), 2. Pendidikan Ruh (tarbiyah ruhiyah), 3. Pendidikan intelektualitas (tarbiyah ‘aqliyah).

Ketiga bentuk pendidikan tersebut tidak mungkin dan tak akan dibenarkan pemilahannya dalam ajaran Islam. Sebabnya , sebagaimana telah dijelaskan, pendidikan berhubungan langsung dengan komposisi penciptaan/kehidupan manusia. Memilah-milah pendidikan manusia, berarti memilah-milah kehidupannya.

Hakikat inilah yang menjadi salah satu rahasia sehingga wahyu dimulai dengan perintah “Iqra” (membaca), lalu dikaitkan dengan “khalq” (ciptaan) dan “Asma Allah” (Bismi Rabbik). Lihat QS: Al ‘Alaq: 1-5. Maksudnya, bahwa dalam menjalani kehidupan dunianya manusia dituntut untuk mengembangkan daya inteletualitasnya dengan suatu catatan bahwa ia harus mempergunakan sarana “khalq” (ciptaan) sebagai object dan “Asma Allah” (ikatan suci dengan Nama Allah/hukumnya) sebagai acuan. Bila ketiganya terpisah, akan melahirkan, sebagaimana telah disinggung terdahulu, suatu ketidak-harmonisan dalam kehidupan manusia itu sendiri.

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ANAK DALAM AL QUR’AN

Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan dari berbagai ayat, antara lain QS: Luqman: 12 – 19 dan QS: As Shafaat: 102, serta berbagai hadits Rasulullah SAW.

Kisah Luqman yang oleh sebagian ulama digelari dengan “al hakiim” atau “Luqman yang bijaksana” mengajarkan bahwa “sifat bijak” bagi seorang pendidik termasuk para orang tua adalah suatu keharusan. Luqman yang memang secara khusus dikaruniakan ni’mat “hikmah” oleh Allah itu menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah bagian dari keni’matan Ilahi yang menjadi cobaan (fitnah) atasnya. Oleh sebab itu ia menanamkan pendidikan kepada anaknya sebagai manifestasi kesyukurannya terhadap Allah Pemberi ni’mat. (ayat: 12)

Berikut ini adalah dasar-dasar pokok pendidikan anak yang tersimpulkan dari berbagai ayat Al Qur’an dan Sunnah Rasul:

  1. Mananamkan nilai “tauhidullah” dengan benar.
  2. Mengajarkan “ta’at al waalidaen” (mentaati kedua orang tua), dalam batas-batas ketaatan kepada Pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran seseorang kepada Ilahi.
  3. Mengajarkan “husnul mu’asyarah” (pergaulan yang benar) serta dibangun di atas dasar keyakinan akan hari kebangkitan, sehingga pergaulan tersebut memiliki akar kebenaran dan bukan kepalsuan.
  4. Menanamkan nilai-nilai “Takwallah”.
  5. Menumbuhkan kepribadian yang memiliki “Shilah bi Allah” yang kuat (dirikan shalat.
  6. Menumbuhkan dalam diri anak “kepedulian sosial” yang tinggi. (amr ma’ruf-nahi munkar).
  7. Membentuk kejiwaan anak yang kokoh (Shabar).
  8. Menumbuhkan “sifat rendah hati” serta menjauhkan “sifat arogan” .
  9. Mengajarkan “kesopanan” dalam sikap dan ucapannya.
    Kesembilan poin tersebut di atas disimpulkan dari QS. Luqmaan: 12-19.

10.      Sedangkan QS: As Shafaat: 102, mengajarkan “metodologi” pendidikan anak. Ayat ini mengisahkan dua hamba Allah (Bapak-Anak), Ibrahim dan putranya Ismail AS terlibat dalam suatu diskusi yang mengagumkan. Bukan substansi dari diskusi mereka yang menjadi perhatian kita. Melainkan approach/cara pendekatan yang dilakukan oleh Ibrahim dalam meyakinkan anaknya terhadap suatu permasalahan yang sangat agung itu.
Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa metode “dialogis” dalam mengajarkan anak sangat didukung oleh ajaran Islam. Kesimpulan ini pula menolak anggapan sebagian orang kalau Islam mengajarkan ummatnya otoriter, khususnya dalam mendidik anak.

11.      Pendidikan hendaknya dimulai sejak sedini mungkin, sehingga tertanam kebiasaan dalam diri anak sejak awal. Kebiasaan ini akan didukung oleh kesadaran penuh jika anak telah mencapai tingkat balighnya. Dalam hadits nabi dijelaskan: “Suruhlah anak-anak kamu shalat jika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur sepuluh tahun (dan masih tidak melakukannya)”
Pukulan yang disebutkan pada hadits tersebut hendaknya ditafsirkan sesuai dengan situasi di mana kita hidup. Pertama, tentu pukulan tersebut bukanlah sutau pukulan yang sifatnya “siksaan”. Melainkan pukulan yang bersifat “didikan” semata.
Kedua, pukulan ini tidak selamanya diartikan dengan pukulan “fisik”. Melainkan dapat pula diartikan dengan pukulan “psykologis” atau kejiwaan. Sebagai misal, jika anak kita senang piknik di hari libur, dan hal ini sudah menjadi kebiasaan keluarga, maka jika mereka tidak melakukan kewajiban agamanya (shalatnya) maka kebiasaan ini dapat dihentikan sementara. Menghentikan piknik bagi anak-anak yang sudah terbiasa dengannya dapat menjadi pukulan bathin bagi mereka.

12.      Tegakkah shalat berjama’ah di rumah tangga masing-masing. Rasulullah SAW bersabda: “Sinarilah rumah kamu dengan shalat” Menghidupkan shalat berjama’ah di rumah memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan kejiwaan seorang anak.

13.      Tanamkan Al Qur’an dalam diri anak sejak sedini mungkin. Al Qur’an adalah Kalam Ilahi yang bukan saja sebagai petunjuk (hudan), melainkan juga sebaga “Syifaa limaa fis Shuduur” (obat terhadap berbagai penyakit jiwa), dan “Nuur” (cahaya/pelita hati). Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak ada Al Qur’an di hatinya maka ia seperti rumah runtuh” (hadits)

14.      Membiasakan praktek-praktek sunnah dalam kehidupan keseharian. Misalnya makan dengan membaca “Bismillah” dan doa, mengakhirinya dengan “Al Hamdulillah” dan doa, masuk/keluar rumah dengan salam, dll. Menghapalkan doa-doa sejak sedini mungkin memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan anak.

15.      Yang terakhir dan yang terpenting adalah hendaknya para orang tua menjadi “tauladan” (uswah) dalam kehidupan anak-anak mereka. Hidupkan agama Allah dalam diri kita, keluarga kita, insya Allah dengan izinNya anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran keagamaan yang tinggi. Pepatah Arab mengatakan “Perbaiki dirimu, niscaya manusia akan baik denganmu”. Jangan seperti apa yang biasa terjadi. Orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah Al Qur’an, agar anaknya belajar shalat, namun orang tuanya justeru mengabaikan Al Qur’an serta shalat di rumah tangganya juga seringkali terabaikan.

16.      Memperbanyak doa. Bagaimanapun juga usaha manusia sifatnya terbatas. Namun dengan pertolongan Allah, sesuatu dapat berubah di luar perkiraannya. Oleh sebab itu, doa dalam hidup kita sangat penting untuk menunjang usaha-usaha yang kita lakukan.

 

PENUTUP

Demikian sekilas tentang pendidikan anak dalam pandangan Islam. Saya yakin bahasan ini masih jauh dari kesempurnaan, sebab berbicara mengenai pendidikan anak berarti berbicara pula sejak awal kandungan seorang ibu. Bahkan sejak seorang pasangan masing-masing mencari pasangannya telah terpatri usaha-usaha untuk membentuk suatu generasi yang baik, yaitu generasi Islami dan Qur’ani.

Akhirnya hanya kepadaNya semata kita bergantung dan berserah diri. Semoga Allah senantiasa menanamkan kesadaran kepada kita semua untuk mendidik anak-anak kita menjadi harapan masa depan ummat. Yang terpenting, demi keselamatan mereka dan kita dari jilatan api neraka. “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kamu dan keluarga-keluarga kamu dari api neraka”.

Bersihkanlah jalanan (kehidupan) anak kita dari kuman-kuman yang merusak. Tanamkan benteng penjaga ketakwaan dan keimanan yang kokoh, pedang keilmuan yang tajam, sarana ibadah yang mantap, strategi akhlaq yang mulia dalam kehidupan anak kita.

Wassalam. NY/18 Mei 99.



* Disampaikan dalam acara Seminar Pendidikan Anak yang diadakan bersamaan dengan acara Musyawarah Tahunan IMAAM (Indonesian Muslim Association of America) Washington tanggal 22 Mei 1999.





Catatan Kritis Dunia Pendidikan Kita

25 04 2009

Sumber : Buletin SULUH SMA Islam Ahmad Yani, edisi 3 th 2008

Siapa pun mengakui bahwa melalui pendidikan-lah karakter sebuah bangsa dibangun. Sehingga tidak aneh jika yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar Jepang setelah negaranya dibom atom Sekutu adalah berapa banyak guru yang tersisa? Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Jepang menyadari bahwa melalui para guru itulah mereka akan bangkit kembali setelah kehancuran akibat kalah perang. Terbukti 62 tahun sejak dibom atom, Jepang kini telah menjadi salah satu Macan Asia yang disegani. Bagaimana dengan Indonesia?

100 tahun yang lalu, tepatnya saat lahirnya organisasi Budi Utomo, bangsa Indonesia mulai bangkit menata kehidupan masyarakatnya untuk mempersiapkan diri menjadi sebuah bangsa yang merdeka. 62 tahun yang lalu, bangsa Indonesia memproklamasi kemerdekaannya setelah melalui pengorbanan dan perjuangan yang berdarah-darah. 10 tahun yang lalu, bangsa Indonesia mereformasi diri untuk menegakkan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara yang dilandasi nilai-nilai demokrasi dan penghargaan yang tinggi atas hak asasi manusia. Bagaimana dengan Indonesia?

***

Ujian Nasional telah selesai digelar. Tahun ini diwarnai dengan penangkapan 12 orang guru oleh Densus 88 Polri karena tertangkap basah sedang membetulkan jawaban para siswanya. Menyedihkan memang. Tetapi itulah potret buram dunia pendidikan di Indonesia di mana sekolah (di dalamnya ada guru, siswa, dan orangtua) selalu menjadi korban atas kebijakan pemerintah yang tidak bijaksana itu. Kejadian di atas diyakini seperti fenomena gunung es di mana bagian yang tidak tampak jauh lebih besar dari yang muncul di permukaan.

Namun, sepertinya pemerintah tetap tutup mata dan tetap menganggap ujian nasional sebagai satu-satunya ‘cara cepat’ untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Pemerintah tidak pernah berpikir bahwa kebijakan UN telah membuat siswa lebih berorientasi pada hasil (yang penting lulus) dan sekolah dengan ‘berbagai cara’ berusaha menjaga citranya di mata masyarakat.

***

Sebuah bangsa yang ingin maju seharusnya menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunannya. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Jerman meletakkan pendidikan sebagai lokomotif perubahan. Kita pasti pernah mendengar cerita saat Kaisar Jepang bertanya berapa jumlah guru yang tersisa setelah Jepang dibom atom Sekutu? Cerita ini menunjukkan betapa bangsa Jepang menyadari bahwa untuk bangkit dari keterpurukan pasca perang hanyalah dengan memajukan pendidikan. Terbukti sekarang Jepang menjadi salah satu Macan Asia yang diperhitungkan di kancah pergaulan internasional.

Indonesia sebenarnya memiliki sejarah pendidikan yang tidak kalah dibandingkan Jepang. Para bapak bangsa kita mulai membangkitkan semangat perjuangan di kalangan rakyat Indonesia melalui pendidikan kebangsaan yang mereka lakukan baik melalui sekolah maupun organisasi pergerakan. 20 Mei 1908 menjadi tonggak kebangkitan kesadaran bangsa Indonesia bahwa mereka memiliki hak sama dengan bangsa lain untuk mengatur kehidupannya sendiri.

Pendidikan adalah investasi yang bersifat jangka panjang. Artinya hasil dari sebuah pendidikan tidak akan bisa langsung kita nikmati dalam waktu satu atau dua tahun. Lagi-lagi sejarah membuktikan baru 37 tahun kemudian sejak 1908, bangsa Indonesia melepaskan diri dari penjajahan bangsa asing pada tahun 1945 setelah melalui perjuangan dan pengorbanan segenap bangsa Indonesia.

***

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kondisi pendidikan Indonesia berada pada titik paling rendah. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai media menanamkan nilai-nilai kepribadian bangsa yang adiluhung. Pendidikan saat ini telah salah kaprah hanya menjadi media mentransfer ilmu pengetahuan yang celakanya hanya berorientasi pada hasil.

Kurikulum yang sering berubah-ubah sehingga memunculkan ungkapan ‘ganti menteri, ganti kurikulum’ menyebabkan kebingungan pelaku pendidikan yaitu guru dan siswa. Belum sempat kurikulum yang lama dilaksanakan dengan baik sudah diganti lagi dengan kurikulum yang baru.

Ujian Nasional berubah menjadi hantu yang begitu menakutkan sehingga memaksa siapapun harus melakukan apa saja untuk menghadapinya. Ujian Nasional menjadikan pola pikir generasi penerus bangsa ini lebih berorientasi pada hasil. Soal bagaimana proses meraih hasil tersebut tidak menjadi persoalan.

Anggaran 20 % untuk pendidikan sampai saat ini masih sebatas slogan belaka. Akibatnya, mutu pendidikan Indonesia tidak kunjung meningkat karena terkendala masalah dana.

***

Kenaikan harga BBM dipastikan akan semakin menghantam kehidupan rakyat kecil. Ketika prioritas utama rakyat saat ini adalah bagaimana mendapatkan uang untuk membeli beras, minyak tanah, gula, dan kebutuhan pokok lainnya, selalu ada yang harus dikorbankan terlebih dahulu. Tragisnya yang dikorbankan adalah pendidikan untuk anak-anaknya.

Kenaikan harga BBM yang diikuti (atau bahkan didahului) kenaikan harga kebutuhan pokok dipastikan akan semakin meningkatkan angka putus sekolah anak-anak Indonesia. Apalagi kenaikan harga BBM ini terjadi menjelang Tahun Ajaran Baru di mana para orangtua harus menyiapkan dana ekstra bagi pendidikan anak-anak mereka.

BLT atau Bantuan Langsung Tunai yang dijanjikan pemerintah dapat mengurangi dampak kenaikan harga BBM bagi rakyat kecil hanya akan berubah menjadi Bantuan Langsung Telas karena habis untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok yang sudah keburu naik sebelum harga BBM naik.

BLT yang tidak efektif itu seharusnya diganti dengan peningkatan bantuan biaya pendidikan bagi para siswa dari kalangan tidak mampu yang disalurkan langsung kepada sekolah-sekolah. Dengan pola semacam ini bantuan akan lebih tepat sasaran dan tepat guna sehingga bisa mengantisipasi tinggi angka putus sekolah.





Orang Miskin (tidak) Dilarang Sekolah !

25 04 2009

Oleh : M. Arif Rahman Hakim, S.S. (Guru Bhs. Indonesia)

 

Tetap Semangat Belajar

Tetap Semangat Belajar

Saya masih ingat betul saat seorang siswi di SMP tempat saya mengajar tiba-tiba mendatangi saya sambil menangis setelah menerima pengumuman kelulusannya dua tahun lalu. Dia mengadu kepada saya karena bingung. Dia masih ingin melanjutkan sekolah tetapi kedua orangtuanya melarang karena merasa sudah tidak sanggup membiayainya.

 

 

Saya tahu persis nilainya cukup untuk mendaftar bahkan di sekolah negeri favorit di kota ini. Namun, keadaan ekonomi yang memaksanya harus berpikir ulang. Sebab, untuk masuk di sekolah negeri biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kabarnya, ada sebuah sekolah negeri yang ‘memasang tarif’ hingga jutaan rupiah bagi calon siswa barunya.

 

Akhirnya saya memberanikan diri untuk ‘nembung’ kepada Kepala Sekolah SMA Islam Ahmad Yani Batang, sekolah di mana saya juga mengajar di sana, agar bersedia menerima anak tersebut. Saya meminta kepada beliau untuk memberi keringanan biaya bahkan jika mungkin, beasiswa penuh.

 

Kejadian itu menyadarkan saya bahwa keberadaan sekolah swasta sangat dibutuhkan oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Saat sekolah-sekolah lain (terutama negeri) mematok biaya sekolah yang cukup tinggi, sekolah swasta bisa menjadi alternatif pilihan bersekolah bagi anak-anak mereka.

 

Peristiwa di atas juga menjadi bukti bahwa tidak semua siswa yang bersekolah di sekolah swasta pasti siswa ‘buangan’. Ada anak-anak yang sebenarnya secara akademik berprestasi namun karena keterbatasan biaya secara sadar lebih memilih bersekolah di sekolah swasta.

 

Namun terkadang toleransi (baca: kemudahan) yang diberikan sekolah swasta kepada para orangtua murid membawa dilema tersendiri. Seringkali orangtua murid terlambat membayar SPP sampai berbulan-bulan dengan alasan uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari. Pada situasi seperti ini, pihak sekolah bingung apakah harus memberi toleransi lagi ataukah harus ‘memaksa’ orangtua karena sekolah juga membutuhkan biaya operasional?

 

Di sinilah seharusnya peran pemerintah dibutuhkan untuk menjamin sekolah swasta bisa tetap ‘survive’. Kepedulian pemerintah terhadap sekolah swasta masih sangat rendah. Bantuan-bantuan yang diberikan lebih sering jatuh kepada sekolah negeri yang secara finansial sebenarnya mampu membiayai kebutuhannya sendiri.

 

Kembali ke kisah murid saya di atas, akhirnya dia bisa tetap bersekolah di SMA Islam Ahmad Yani Batang. Beasiswa dan berbagai keringanan yang diterimanya terbayar dengan prestasi diraihnya. Ada satu prinsip yang terpatri di hati saya sejak peristiwa itu bahwa orang miskin (tidak) dilarang sekolah.





Mental Tangguh Seorang Siswa

25 04 2009

Oleh Sri Wahyuningsih

Suara Merdeka, 24-04-2009  

 

Bila saat muda saja sudah berani melakukan kecurangan demi lulus ujian, nanti setelah lulus dan ‘menjadi orang’ bagaimana. Apakah mau jadi koruptor? Atau seperti caleg yang depresi ketika tujuannya tidak tercapai. Wah jadi apa negara Indonesia di masa yang akan datang?

Seharusnya anak-anak ini dibekali iman yang kuat. Kalau mereka berbuat curang pastilah akan merugikan diri sendiri, dan tidak ada manfaatnya. Anak-anak dikenalkan dosa dan pahala. Tujuan yang baik harus disertai dengan langkah yang baik. Karena keduanya ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

 

Mental anak-anak harus sering atau dibiasakan dengan kompetisi. Dengan demikian mereka punya tujuan, yakni menang. Untuk dapat menang mereka harus berlatih dengan baik dan teratur. Sama dengan ujian, baik ujian semester, ujian kenaikan kelas, ujian nasional sampai nanti bersaing mencari pekerjaan. Mereka dibiasakan berusaha dengan semangat yang tinggi. Dan soal hasilnya mereka harus menyerahkan hasilnya kepada keputusan Allah SWT.

 Mereka seharusnya tidak menyalahkan pengawas, jika tidak dapat mengerjakan soal. Alasan mereka pengawasnya terlalu ketat, mengganggu konsentrasi, semua itu hanya alasan mereka dan mencari kambing hitam. Sebenarnya mereka tidak dapat menyontek karena pengawasnya mengamati dengan benar. Pengawas khan memang tugasnya mengawasi supaya ujian berjalan dengan tertib dan jujur. Pengawas ini ditugaskan dari panitia ujian untuk mengawasi peserta ujian dalam mengerjakan soal-soal dengan jujur.


Jika mereka terbiasa mengerjakan dengan kemampuan diri sendiri dan terbiasa jujur, maka mereka tidak memperdulikan pengawasnya. Mereka tetap bisa konsentrasi mengerjakan soal ujian, meski pengawasnya melotot selalu mengawasi terus, mereka tidak memperdulikannya. Sekali lagi, kejujuran harus mulai diterapkan pada mereka sejak dini, semua perbuatan selalu diawasi oleh Allah SWT yang Maha melihat dan Maha mengetahui semua perbuatan makhluknya, meskipun tidak ada yang melihat Allah SWT pasti melihatnya dan selalu dimintai pertanggung-jawaban kelak.

 

Belum terlambat untuk menerapkan kejujuran mulai sekarang. Anak-anak kita harus menerapkan kejujuran mulai sekarang. Perlu diberi contoh. Guru dan orang tua harus memberi contoh dalam keseharian kita. Orang jujur di sekitar kita mungkin sedikit, tetapi kejujuran tidak sulit dilakukan jika ikhlas dan menerima. Perasaan ringan (entheng dalam bahasa Jawa) dalam menjalani kehidupan. Sekali kita bohong maka akan disusul dengan bohong kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sampai kita merasa capek karena bohong terus menerus.

Untuk anak-anak dan rekan-rekan semua mulailah dengan kejujuran dalam segala hal mulai sekarang. Tidak ada waktu lagi untuk memulai sebuah kejujuran. Kejujuran selalu berakhir dengan kebaikan, meski kelihatannya menyakitkan. Alangkah enaknya jika semuanya jujur, pasti tidak berpikir untuk korupsi, memperkaya diri sendiri.





Hanya Ciptakan Kesenjangan Pendidikan

25 04 2009

Oleh Maya Susiani*

 

“HABIS gelap terbit terang, masa depan jelang!” Lirik lagu yang menjadi soundtrack iklan layanan masyarakat tentang BOS (bantuan operasional sekolah) dengan Dik Doank-nya itu belakangan begitu akrab di telinga kita. Iklan tersebut begitu gencar dimunculkan di televisi, yang menggambarkan bahwa semua anak Indonesia sekarang bisa sekolah. Tentu saja, mereka yang tidak mampu dibantu dana BOS.

Gencarnya iklan layanan masyarakat itu juga mengingatkan saya pada gencarnya iklan wajib belajar 9 tahun, yang dulu identik dengan Bang Doel-nya. Keduanya sama, sama-sama mengingatkan bangsa ini bahwa pendidikan sangat penting. Pendidikan tidak boleh disepelekan. Sebab, tidak bisa dimungkiri, kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan kualitas sumber daya manusianya, yang notabene kualitas itu berasal dari pendidikan.

Dengan adanya keinginan untuk memperbaiki kualitas SDM bangsa ini, yang mutlak dilakukan adalah memperbaiki pendidikan. Puluhan cara sudah dilakukan untuk mencapai hal itu. Triliunan dana sudah dikeluarkan. Tapi, semua tahu, kenyataannya tak seindah yang dibayangkan. Boro-boro mau memperbaiki kualitas, yang bisa mengenyam pendidikan saja masih sedikit kok.

 

Sekolah Internasional

 

Salah satu cara untuk meningkatkan standar pendidikan, akhir-akhir ini banyak didirikan sekolah dengan embel-embel bertaraf internasional. Berbagai sekolah unggulan pun tak ketinggalan membuka kelas-kelas yang juga bertaraf internasional. Diharapkan dengan model pendidikan seperti itu, kualitas pendidikan kita tak kalah dengan kualitas pendidikan negara lain.

Namun, banyak hal yang sebenarnya tersembunyi di balik kata-kata internasional tersebut. Saya sepakat dengan yang diungkapkan Eko Prasetyo dalam bukunya, Guru: Mendidik Itu Melawan, bahwa berdirinya sekolah internasional malah memberi kekerasan pada murid.

Betapa tidak, model pendidikan seperti itu seolah-olah menggambarkan bahwa sekolah adalah tempat bagi mereka yang dianggap unggul dan cerdas saja, yang bisa memenuhi standar keunggulan sekolah. Padahal, orientasi dasar penetapan standar itu belum jelas.

Selain itu, sekolah bertaraf internasional sangat jelas dapat dimaknai sebagai jalur pendidikan yang berorientasi pasar. Ada kecenderungan bahwa standar kecerdasan yang dimaksud mengikuti kebutuhan-kebutuhan industri. Yaitu, menciptakan murid-murid yang kemampuan intelektualnya sesuai dengan sistem produksi dunia industri.

Hal itu dibuktikan dengan penerapan pengetahuan pasar dalam metode pengajaran. Misalnya, berhitung dengan metode cepat, penguasaan bahasa asing dan bahasa mesin, serta memfungsikan waktu sekolah sesuai dengan program produksi. Waktu sekolah diperpanjang mulai pagi hingga sore, seperti jam kerja. Tentu saja, itu membuat murid menjadi lebih eksklusif dengan tidak membiarkannya bergaul dengan masyarakat sekitar lebih lama.

Hasilnya hanya akan membuat bangsa kita kian terpuruk. Dengan segala model pendidikan seperti itu, mustahil akan terlahir murid-murid yang kritis dan mengerti esensi pendidikan yang sebenarnya.

Pendidikan model sekolah internasional tersebut hanya melahirkan kumpulan murid dengan kemampuan cepat menerima segala macam sampah informasi dan pemahaman bahwa pendidikan hanya sebagai batu loncatan untuk menyejahterakan dirinya kelak.

 

Internasional atau Nasional ?

 

Menurut saya, yang lebih efisien untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah menerapkan standar nasional terlebih dahulu. Hal itu tentu bukan hanya terletak pada angka-angka hasil akhir yang dicapai dalam unas (ujian nasional).

Memang, sekolah bertaraf internasional sangat bagus untuk memacu pendidikan dan membuktikan bahwa pendidikan bangsa ini tak ketinggalan dengan pendidikan di negara lain. Tetapi, apakah hal itu tidak terlalu berlebihan jika pendidikan di seluruh negara ini saja belum merata. Yang ada hanya menciptakan eksklusivitas dan kesenjangan sosial antara sekolah di kota-kota besar dan sekolah-sekolah di pelosok daerah.

Makin menjamurnya sekolah-sekolah bertaraf internasional juga tidak dapat dijadikan acuan untuk melihat kualitas pendidikan. Sebab, yang bersekolah di sana tentu hanya segelintir murid elite yang mampu membayar iuran sekolah yang harganya selangit.

Karena itu, lebih baik kita hidupkan sekolah-sekolah yang berstandar nasional dulu di seluruh negeri ini. Kalau perlu, tenaga-tenaga pendidik yang katanya berkompeten dalam mengajar di sekolah internasional diperbantukan di sana.

Dengan begitu, seluruh murid di Indonesia mampu tersenyum saat memandang sesama temannya. Bukan malah mendongakkan atau menundukkan kepala akibat banyaknya kesenjangan.

 

* Maya Susiani, mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Jember, pemimpin redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ecpose FE Unej

 








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.