SEKILAS AKREDITASI SMA

24 08 2010

Alhamdulillah, rasa capek dan pegal-pegal yang melanda selama beberapa hari ini telah terobati dengan perasaan lega, dengan berakhirnya visitasi, validasi dan assessment ke sekolah kami yang dilaksanakan pada hari Senin-Selasa tepatnya tanggal 23-24 Agustus 2010. Akreditasi tahun ini kami rasa cukup berat karena harus memenuhi kriteria penilaian 8 komponen yang baru pertama kali kami lakukan.

Dengan semangat untuk memajukan proses dan mutu pendidikan sekolah, kami para tim dengan ikhlas lembur dan melelngkapi poin-poin penilaian akreditasi untuk 8 komponen.

Tepat jam 07.20 hari Senin tanggal 23 Agustus, tim assessor yang berjumlah 2 orang yaitu Pak Iwan Mulyawan dan Pak Ahmad Said mengadakan  visitasi ke sekolah kami. Acara pertama adalah penyambutan dan ramah-tamah sebelum acara inti penilaian dan validasi. Pelaksanaan akreditasi selama 2 hari, dimulai dari jam 07.30 sampai jam 14.30. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan sukses, walaupun saat awal validasi kami merasa sedikit grogi.

Berikut ini beberapa trik dan tip untuk menghadapi akreditasi sekolah :
A. Persiapkan administrasi mengajar guru minimal 2 bulan sebelumnya, sehingga maksimal 1 minggu sebelum akreditasi, perangkat sudah terkumpul.
  1. Perangkat yang harus disiapkan : Silabus dan RPP dari tapel 1 tahun terakhir dan tpel yang sedang berjalan.  RPP dari Tapel yang berjalan  harus ada perbedaan walaupun sedikit,  dengan tapel sebelumnya untuk menunjukan perbaikan.
  2. Semua silabus dan RPP yang diakui hanya yang sudah ditandatangani guru dan kepala sekolah, serta telah distempel.
  3. Perangkat mengajar dipisahkan antara silabus, RPP, Pemetaan SK-KD, Pemetaan materi dll, karena akan dihitung porsentasenya.
  4. Untuk perangkat penilaian, usahakan guru selengkap mungkin membuatnya mulai dari daftar nilai, KKM, analisis UH, contoh soal, program kerja dan pengayaan, bukti tugas terstruktur dan tidak terstruktur serta UH  siswa yang sudah diberi umpan balik oleh guru dan orang tua siswa serta mendapatkan tanda tangan dari orang tua.
  5. Untuk akreditasi A, minimal 90% dari guru  atau mapel pada semua tingkatan  harus sudah mengumpulkan perangkat di atas ( yang dihitung hanya yang sudah memenuhi persyaratan)
B. Persiapkan bukti fisik untuk 8 standar pendidikan yakni :
  1. Standar isi : KTSP, pemetaan SK-KD, pemetaan materi dll yang menyangkut KTSP
  2. Standar proses : Silabus model terbaru, RPP model terbaru, Pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan pengawasan, tindak lanjut dll.
  3. Standar kompetensi lulusan
  4. Standar Pendidik dan tenaga kependidikan
  5. Standar sarana prasarana
  6. Standar pengelolaan
  7. Standar penilaian
  8. Standar pembiayaan
C.  Persiapkan semua bukti fisik yang memungkinkan termasuk:
  1. Foto, CD, hasil karya siswa,
  2. Daftar hadir: daftar hadir  harus ada untuk semua kegiatan di sekolah, baik rapat, kegiatan OSIS, workshop, lomba, pelatihan, bahkan sampai ke daftar hadir upacara.
  3. Dokumentasi lomba, kegiatan, notulen rapat, nota, kuitansi , surat tugas, ekspedisi, sertifikat, berita acara dll. yang terkait, harus disiapkan.
  4. Semua kegiatan baik akademik dan  administratif harus sudah diprogramkan sebelumya, yang dibuktikan dengan program kegiatan, pelaksanaan kegiatan dan dilanjutkan dengan laporan dan tindak lanjut kegiatan.
  5. Semua standar bukti fisik semua standar sudah direkap, dan dihitung persentase masing-masing komponen sebelum akreditasi dimulai sehingga penilai tinggal mencocokkan saja (tidak perlu menghitung lagi). Angka harus didukung oleh bukti fisik. Sekali lagi, untu akreditasi A, usahakan bukti fisik yang memenuhi persyaratan > 90 %.
  6. Masukkan tiap-tiap bukti fisik maupun dokumen ke dalam stofmap sesuai item pertanyaan di tiap komponen standar penilaian.
  7. Buat tim akreditasi sekolah, untuk tiap standar penilaian sebaiknya minimal 2 orang guru yang menangani. Pilih penjawab yang telaten, dan mau kerja keras sehingga bisa mengumpulkan bukti fisik lebih banyak.

Silahkan download Perangkat Akreditasi SMA/MA :


SEJARAH AKREDITASI SEKOLAH

Sejarah akreditasi sekolah di Indonesia mencatat tiga fase perkembangan. Fase pertama terjadi ketika Direktorat Sekolah Swasta melakukan akreditasi terhadap sekolah-sekolah swasta. Fase kedua terjadi ketika Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS) melakukan akreditasi terhadap semua sekolah, baik negeri maupun swasta berdasar 9 (sembilan) komponen penyelenggaraan sekolah. Sedangkan fase ketiga ditandai dengan pelaksanaan akreditasi sekolah oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) dengan instrumen yang disusun berdasarkan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Fase terakhir sistem akreditasi sekolah merupakan penyempurnaan dan sekaligus jawaban terhadap kritik berbagai pihak atas kelemahan sistem akreditasi sebelumnya. Selama ini sistem akreditasi yang pernah berlaku dianggap sebagai mengabaikan keadilan.

Pada fase pertama, akreditasi sekolah yang hanya diperuntukkan bagi sekolah swasta sangat diskriminatif. Terlebih dengan kriteria pemeringkatan sebagai Terdaftar, Diakui dan Disamakan, sekolah swasta dianggap selalu under position. Disamakan sebagi peringkat terbaik hasil akreditasi dipertanyakan pula. Disamakan dengan siapa ? Apakah disamakan dengan sekolah negeri ? Jika demikian, maka sebaik apapun sekolah swasta tidak akan lebih baik dari sekolah negeri. Padahal faktanya, sekolah terbaik di Indonesia adalah sekelompok sekolah swasta, meskipun yang “terjelek” juga sekelompok sekolah swasta.

Sistem akreditasi sekolah fase kedua dianggap tidak adil lebih ditujukan kepada sifat instrumennya yang kategorik dan sangat diskrit. Respon instrumen hanya ada dua kemungkinan jawaban, ialah antara “ya” atau “tidak”. Jika “ya” maka diberi skor 1, sedangkan jika “tidak” diberi skor “0”. Sifatnya yang sangat diskrit cenderung mengabaikan sisi rentang kualitatif, kuantitatif dan kefungsian. Taruhlah contoh, sebuah sekolah memiliki bola kaki sebuah. Karena instrumennya berbunyi “Sekolah memiliki sarana olah raga” maka harus diberi skor 1. Pada hal sengguhnya bola kaki yang hanya sebuah tidak dapat menggambarkan kualitas dan kefungsiannya dalam pembelajaran Olahraga. Skor yang sama diberikan kepada sekolah yang sarana olah raganya lengkap dengan Hall dan pusat pelatihan atlet, misalnya. Di sinilah letak ketidakadilan itu.

Demikianlah, ketika sistem akreditasi sekolah memasuki fase ketiga, seluruh kekurangan yang terjadi dalam sistem akreditasi sekolah pada fase sebelumnya diperbaiki. Hal ini terkait dengan mulai tumbuhnya kesadaran, bahwa akreditasi bukan hanya sekadar kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah. Lebih dari itu akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan untuk akuntabilitas publik.


About these ads

Aksi

Information

One response

13 07 2011
ikhwan

It’s Okey, tolong kalau ada contoh yang sudah jadi khususnya untuk standar pengelolaan kirim lewat email ikhwan_dafa@yahoo.co.id. terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.