Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri
Seorang kawan budayawan dari satu daerah di Jawa Tengah yang biasanya hanya SMS-an dengan saya, tiba-tiba siang itu menelpon. Dengan nada khawatir, dia melaporkan kondisi kemasyarakatan dan keagamaan di kampungnya. Keluhnya antara lain,“Kalau ada kekerasan di Jakarta oleh kelompok warga yang mengaku muslim terhadap saudara-saudaranya sebangsa yang mereka anggap kurang menghargai Islam, mungkin itu politis masalahnya. Tapi ini di kampung, Gus, sudah ada kelompok yang sikapnya seperti paling Islam sendiri. Mereka dengan semangat jihad, memaksakan pahamnya ke masyarakat. Sasarannya jamaah-jamaah di masjid dan surau. Rakyat pada takut. Bahkan, na’udzu billah, Gus, saking takutnya ada yang sampai keluar dari Islam. Ini bagaimana? Harus ada yang mengawani masyarakat, Gus. NU dan Muhammadiyah kok diam saja ya?”
Nama KH. A. Wahid Hasyim (selanjutnya disingkat AWH) mungkin tidaklah setenar Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, ataupun Muh. Yamin. Namun, sumbangsihnya dalam membangun pondasi bangsa dan negara Indonesia tidaklah kalah dengan mereka. Kiprahnya dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan juga Panitia Sembilan BPUPKI menjadi salah satu bukti jasa AWH bagi bangsa Indonesia.



















Komentar Sahabat