DILEMA SEKOLAH SWASTA

13 04 2009

Oleh : Arif RH, S.S

Guru Mapel Bahasa Indonesia

Sekolah swasta selalu dicitrakan sebagai sekolah ‘kandang ayam’, sekolah ‘buangan’, dan berbagai citra buruk lainnya. Memang tidak semua sekolah swasta seperti yang digambarkan tadi, ada juga sekolah-sekolah swasta yang kualitasnya sama bahkan lebih baik dari sekolah negeri. Tetapi fakta menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah swasta di Indonesia memang masih seperti yang dicitrakan di atas. Sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan sekolah swasta mempunyai citra yang buruk di mata masyarakat Indonesia. Faktor-faktor itulah yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat sehingga masyarakat terlanjur menghakimi terlebih dahulu sekolah swasta seperti yang dicitrakannya tanpa melihat konteks permasalahannya secara komprehensif. Secara umum, ada tiga hal mendasar yang menyebabkan banyak sekolah swasta masih dianggap sebagai “sekolah kelas dua”. Pertama, input siswa yang rendah. Kedua, profesionalitas dan kesejahteraan guru yang rendah. Ketiga, pembiayaan yang terbatas. Input siswa yang rendah Setiap awal tahun ajaran, hampir semua sekolah swasta dagdigdug karena khawatir apakah tahun ini masih bisa mendapatkan siswa baru seperti tahun-tahun sebelumnya? Rasa cemas itu akan semakin menjadi-jadi apabila di daerah tersebut sudah berdiri banyak sekolah lainnya, baik negeri maupun swasta. Sehingga akhirnya, tanpa terlalu mempertimbangkan kualitasnya, sekolah swasta cenderung untuk selalu menerima bagaimanapun kualitas siswa baru tersebut. Alasan yang dikemukakan sangatlah masuk akal yaitu “yang penting dapat murid”. Di banyak daerah kita bisa dengan mudah menjumpai, sebuah sekolah negeri bisa menerima siswa baru sampai 200 – 300 siswa setiap tahun ajaran baru sedangkan sebuah sekolah swasta yang ada di dekatnya bisa memperoleh siswa baru 45 orang saja sudah sangat beruntung. Dari sisi kuantitas input (masukan) siswa saja, sekolah swasta sudah kalah bersaing dengan sekolah negeri. Di samping itu dari sisi kualitas input siswa, kita semua mafhum bahwa rata-rata siswa yang mendaftar di sekolah swasta adalah siswa yang sudah tidak diterima di sekolah negeri. Sehingga jelas dari sisi kualitas, input siswa sekolah swasta jauh di bawah sekolah negeri. Makanya tidak aneh apabila kita sering mendengar bahwa sekolah swasta adalah sekolah ‘buangan’. Tentunya kita bisa membayangkan bagaimana jika sebuah sekolah adalah kumpulan siswa yang kualitasnya ‘pas-pasan’. Di sinilah kemudian, guru dituntut untuk berlaku lebih dalam mendidik mereka. Lebih tekun, lebih kreatif, dan tentu saja lebih sabar. Profesionalitas dan kesejahteraan guru yang rendah. Profesionalitas dan kesejahteraan guru adalah dua hal yang seharusnya berjalan beriringan. Artinya, ketika kesejahteraannya sudah terjamin tentu saja menuntut peningkatan profesionlitas dan begitu pula sebaliknya. Namun di sekolah swasta kondisinya berbeda dan terkadang menimbulkan dilema. Bagaimana tidak? Guru dituntut untuk meningkatkan profesionalismenya dalam mendidik. Hal tersebut tentu saja mengharuskan pengelola sekolah swasta meningkatkan kesejahteraan para gurunya. Padahal, jangankan berpikir untuk meningkatkan kesejahteraan guru, bulan depan masih tersedia cukup dana untuk membayar gaji guru saja, pengelola sekolah swasta sudah sangat bersyukur. Akibatnya, guru-guru di sekolah swasta selalu digambarkan sebagai guru yang pemalas, selalu terlambat datang, kerjanya santai, dan sebagainya. Pengelola sekolah swasta bukannya tidak mengetahui dan menyadari hal tersebut, namun pengelola tidak bisa berbuat banyak selain hanya menghimbau. Pengelola sekolah swasta tidak bisa bersikap tegas dan menuntut lebih kepada para guru tersebut untuk meningkatkan profesionalismenya karena mereka menyadari belum bisa meningkatkan kesejahteraan guru. Pendanaan yang terbatas Masalah mendasar lainnya yang sering dikeluhkan pengelola sekolah swasta adalah terbatasnya dana untuk operasional dan pengembangan sekolah. Sekolah swasta favorit mungkin tidak ragu untuk menarik iuran bulanan dari para siswanya dengan jumlah besar karena sebagian besar orang tua siswa berasal dari kalangan mampu. Berbeda halnya dengan sekolah swasta nonfavorit yang rata-rata siswanya berasal dari kalangan tidak mampu. Untuk membayar iuran bulanan sebesar Rp. 50.000 saja banyak yang menunggak bahkan ada yang merasa berat. Padahal iuran bulanan siswa adalah satu-satunya sumber pembiayaan sekolah yang bisa diharapkan setiap bulannya. Sekolah swasta menghadapi dilema terkait dengan masalah pendanaan ini. Di satu sisi, sekolah membutuhkan biaya operasional dan pengembangan sekolah. Di sisi lain, kemampuan orang tua siswa untuk membayar iuran bulanan masih rendah. Sementara, bantuan pemerintah tidak bisa diandalkan karena tidak setiap tahun mereka bisa mendapatkan bantuan tersebut. Menggantikan peran negara Diakui atau tidak, negara belum mampu menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai untuk seluruh masyarakat Indonesia. Di sinilah kemudian, sekolah-sekolah swasta mengambil peran untuk menutupi ‘ketidakmampuan’ negara tersebut. Oleh karena itu, sudah seharusnya pemerintah ‘menghargai’ peran sekolah swasta dengan memberikan perhatian yang lebih besar kepada mereka. Memang benar bahwa pendidikan adalah tanggung jawab seluruh masyarakat, bukan hanya tanggung jawab negara semata. Namun, alasan tersebut tidak bisa terus-menerus dijadikan argumen klise negara untuk berkelit dari tanggung jawabnya untuk lebih memperhatikan sekolah swasta. Tidak ada satupun pengelola sekolah swasta yang tidak menginginkan sekolahnya menjadi sekolah yang berkualitas. Namun kondisi-kondisi di ataslah yang menghambat keinginan tersebut. Dengan segala keterbatasan yang dihadapi, pengelola sekolah swasta harus pandai-pandai menyiasati keadaan tersebut dengan harapan, setapak demi setapak, perubahan ke arah yang lebih baik dapat diwujudkan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: