Pendidikan Qur’ani-Senantiasa Berpihak pada Anak

15 04 2009

oleh: Andi Yudha Asfandiyar

Siswi yang sedang membaca di Perpustakaan

Siswi yang sedang membaca di Perpustakaan

Pendidikan Agama yang sumbernya pada nilai-nilai Quran semakin terasa diperlukan oleh anak-anak kita, untuk mempersiapkan masa depannya yang lebih maju, kompleks, canggih dan penuh tantangan. Hal ini disebabkan kecenderungan masa depan yang kompleks dalam memecahkan masalah yang cenderung secara rasional yang berdampak pada pengabaian nilai-nilai moral demi kemanfaatan sesaat.

Pendidikan anak kita perlu bermuara terhadap pengagungan nama Allah SWT, sehingga pendidikan apapun yang dia terima menjadi penopang ketauhidannya. Al Quran sebagai acuan kita, telah menginformasikan seperti dalam surat Shad ayat 29 “ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan atay-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”.

Untuk menanamkan kecintaan anak-anak kita terhadap Al Quran, tidak bisa menunggu mereka sampai bisa membaca, bahkan sejak tali perkawinan hal itu harus dimulai.

Keteladanan
Concern Rosulullah SAW menurut Al Quran adalah juga concern para nabi Allah terdahuku seperti doa Nabi Ibrahim “Tuhanku, karuniakanlah kepadaku anak-anak yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS. 26:83)

Tetap perlu diingat untuk menanamkan hal tersebut pada anak, kita harus memahami dunia anak, sesuai perkembangannya. Pada dasarnya anak “melihat” lebih besar dari yang didengar. Ada pepatah yang mengatakan “Anakmu akan lebih memperhatikan apa yang kamu lakukan, dibanding apa yang kamu katakan”.

Disini perlunya konsep keteladanan dalam bentuk perhatian, keterbukaan, kasih sayang dan contoh langsung. Hal itu didukung pula oleh anak-anak yang masih berfikir dengan indrawi, sehingga perlu contoh kongkrit (Egdar Dale: Manusia berfikir kongkrit ke abstrak

Pendidikan Sejak Dini

Menanamkan etos Islam dapat diupayakan jika lingkungan anak juga Islami. Dalam suasana demikian, transfer nilai dapat berjalan dengan mulus, karena orang tua dapat menjalankan fungsinya sebagai agen masyarakat. Upaya menanamkan etos Islam lebih berhasil jika dimulai sejak dini, bahkan sejak masa sebelum kelahiran anak.

beberapa fakta

Usia 3-5 tahun termasuk masa yang amat menentukan perkembangan kepribadian anak. Pada usia balita anak masih banyak bertindak daripada berfikir, menjajagi, mencari tahu, menciptakan, dsb. Pada usia awal anak, attitude education lebih penting dibanding ilmu. Islam mengajarkan ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun, disitulah penanaman nilai-nilai baik. Dari segi ilmu kedokteran, usia 0-12 tahun adalah saat penting dalam perkembangan otak anak.

Menurut Benyamin Spock, usia 0-12 tahun merupakan masa emas anak untuk dirangsang intelektual dan kreativitasnya, karena 80% perkembangan anak ditentukan pada usia tersebut. Penelitian mutakhir tentang otak, anak-anak cenderung berkembang lebih positif bila otaknya (kiri dan kanan) intensif dirangsang. Dari uraian tersebut bisa disimpulkan, niali-nilai agama selayaknya diperkenalkan sejak usia bayi dan dengan intensitas yang tinggi sampai dengan usia 12 tahun.

“Didiklah anak-anak kalian dan buatlah pendidikan mereka itu menjadi baik” (HR. Ibnu Majjah), “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”

Menggunakan Bahasa Anak

Sifat anak itu unik, sangat berbeda dengan karakter orangb dewasa. Demikian pula karakter orang dewasa. Demikian pula dengan metode pendidikan untuk anak-anak sangat berbeda, harus disesuaikan dengan perkembangan serta dunianya, “didiklah anak-anakmu, karena mereka dilahirkan untuk suatu waktu yang bukan waktumu/jamanmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Hendaklah anak kecil diberi kesempatan bermain. Melarangnya bermain dan menyibukkan dengan belajar akan mematikan hatinya, mengurangi kecerdasan dan membuatnya jemu terhadap hidup, sehingga ia akan sering mencari alasan untuk membebaskan diri dari keadaan sumpek ” (Imam Al Gozali)

“Gerak, gairah dan kekuatan berkumpul anak bersama teman-temannya yang lain pada masa kecilnya, akan memberikan tambahan pada akalnya ketika dewasa” (HR. At-Tirmidzi)

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Untuk menanamkan nilai-nilai Qurani secara dini pada anak-anak, peran orang tua sangatlah besar, karena orangtualah yang paling bertanggung jawab atas perkembangan anak selanjutnya. Hal tersebut bisa dilakukan dengan:

Memberikan contoh keteladanan

supaya anak bisa membaca Al-Quran berikan contoh dengan rutin baca Al-Quran. Supaya anak selalu menjaga kebersihan, biasakan menaruh, membuang sampah dsb. pada tempatnya.

Buatalah pendekatan sesuai “dunianya”

Ketika seorang wanita merenggut anaknya dengan kasar saat ia sedang “pipis” di pangkuan Rosulullah SAW, mencegahnya sambil bersabda, “tumpahan (kencing) ini dapat membersihkannnya, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dari ini (akibat renggutan yang keras itu)?”

Menerapkan pentahapan dan pembiasaan

Sebagai implikasi dari pandangan Al-Quran tentang proses pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia, Al-Quran dalam petunjuk-petunjuknya menjadikan pentahapan dan pembiasaan sebagai salah satu ciri sekaligus metoda guna mencapai sasaran.

 

 

Rosulullah bersabda : sesungguhnya Allah merahmati seseoranh yang membantu anaknya berbakti kepadanya”. Rosul ditanya : Bagaimana Dia membantunya?”, Beliau menjawab : “Dia menerima yang mudah dari anaknya. Dia memaafkan yang sulit, Dia tidak membebaninya dengan tugas yang berat, tidak juga memakinya (bila keliru).”

Menggunakan alat peraga untuk menyampaikan pendidikan agama, agar menyatu dengan kehidupan sehari-hari, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi

Mengusahakan suatu lingkungan yang kaya akan rangsangan, yaitu dengan menyediakan aneka ragam bahan dan sarana prasarana yang dapat merangsang semua alat indranya: penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dll. Anak belajar mengenal lingkungan melalui indranya (visual, auditorial dan kinestetikal)

Menerapkan watak positif

 

Bisa dilakukan dengan:


Fleksibilitas, kemampuan untuk melihat adanya alternatif-alternatif pemecahan masalah, keterbukaan: Suasana keterbukaan menghasilkan sikap demokrasi dan terbuka.

Ketegasan, era globalisasi menghadapkan kita pada banyak pilihan yang menuntut kita untuk bertindak tegas (bukan kasar). Ketegasan perlu dibatasi oleh etika dan prinsip agama

Percaya diri untuk berinisiatif, kompetisi merupakan ciri globalisasi, menuntut kita memiliki percaya untuk berinisiatif, toleransi kepada ketidakpastian: Sesuatu selalu berubah, hanya Allah yang konstan, kemandirian, berencana, disiplin, berani ambil resiko, dll.

Akhirnya perlu digarisbawahi, bahwa pendidikan sejak dini dengan pendekatan yang sesuai perkembangan anak yang didukung penuh oleh orang tua dengan keteladanan, akan menghasilkan generasi yang Islami. Pendidikan dalam pandangan Islam adalah ibadah, ia lahir dari pandangan Islam tentang menuntut ilmu, yang dinilainya sebagai ibadah.

Penutup

 

“Siapa yang menempuh jalan guna menuntutnya, maka Allah permudah baginya jalan menuju surga”

“Siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah pengalaman agamanya, maka dia tidak bertambah, kecuali kejauhan dari Allah”

Pendidikan secara utuh, intinya pendidikan dalam keluarga, intinya pendidikan agama, intinya pendidikan keimanan, intinya ketauhidan.

 


Aksi

Information

2 responses

17 04 2009
pakhanung

silaturrahmi blog …

17 04 2009
smayani

Terima kasih atas silaturrahminya. Semoga bisa menambah persaudaraan blog, amin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: