Catatan Kritis Dunia Pendidikan Kita

25 04 2009

Sumber : Buletin SULUH SMA Islam Ahmad Yani, edisi 3 th 2008

Siapa pun mengakui bahwa melalui pendidikan-lah karakter sebuah bangsa dibangun. Sehingga tidak aneh jika yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar Jepang setelah negaranya dibom atom Sekutu adalah berapa banyak guru yang tersisa? Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Jepang menyadari bahwa melalui para guru itulah mereka akan bangkit kembali setelah kehancuran akibat kalah perang. Terbukti 62 tahun sejak dibom atom, Jepang kini telah menjadi salah satu Macan Asia yang disegani. Bagaimana dengan Indonesia?

100 tahun yang lalu, tepatnya saat lahirnya organisasi Budi Utomo, bangsa Indonesia mulai bangkit menata kehidupan masyarakatnya untuk mempersiapkan diri menjadi sebuah bangsa yang merdeka. 62 tahun yang lalu, bangsa Indonesia memproklamasi kemerdekaannya setelah melalui pengorbanan dan perjuangan yang berdarah-darah. 10 tahun yang lalu, bangsa Indonesia mereformasi diri untuk menegakkan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara yang dilandasi nilai-nilai demokrasi dan penghargaan yang tinggi atas hak asasi manusia. Bagaimana dengan Indonesia?

***

Ujian Nasional telah selesai digelar. Tahun ini diwarnai dengan penangkapan 12 orang guru oleh Densus 88 Polri karena tertangkap basah sedang membetulkan jawaban para siswanya. Menyedihkan memang. Tetapi itulah potret buram dunia pendidikan di Indonesia di mana sekolah (di dalamnya ada guru, siswa, dan orangtua) selalu menjadi korban atas kebijakan pemerintah yang tidak bijaksana itu. Kejadian di atas diyakini seperti fenomena gunung es di mana bagian yang tidak tampak jauh lebih besar dari yang muncul di permukaan.

Namun, sepertinya pemerintah tetap tutup mata dan tetap menganggap ujian nasional sebagai satu-satunya ‘cara cepat’ untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Pemerintah tidak pernah berpikir bahwa kebijakan UN telah membuat siswa lebih berorientasi pada hasil (yang penting lulus) dan sekolah dengan ‘berbagai cara’ berusaha menjaga citranya di mata masyarakat.

***

Sebuah bangsa yang ingin maju seharusnya menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunannya. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Jerman meletakkan pendidikan sebagai lokomotif perubahan. Kita pasti pernah mendengar cerita saat Kaisar Jepang bertanya berapa jumlah guru yang tersisa setelah Jepang dibom atom Sekutu? Cerita ini menunjukkan betapa bangsa Jepang menyadari bahwa untuk bangkit dari keterpurukan pasca perang hanyalah dengan memajukan pendidikan. Terbukti sekarang Jepang menjadi salah satu Macan Asia yang diperhitungkan di kancah pergaulan internasional.

Indonesia sebenarnya memiliki sejarah pendidikan yang tidak kalah dibandingkan Jepang. Para bapak bangsa kita mulai membangkitkan semangat perjuangan di kalangan rakyat Indonesia melalui pendidikan kebangsaan yang mereka lakukan baik melalui sekolah maupun organisasi pergerakan. 20 Mei 1908 menjadi tonggak kebangkitan kesadaran bangsa Indonesia bahwa mereka memiliki hak sama dengan bangsa lain untuk mengatur kehidupannya sendiri.

Pendidikan adalah investasi yang bersifat jangka panjang. Artinya hasil dari sebuah pendidikan tidak akan bisa langsung kita nikmati dalam waktu satu atau dua tahun. Lagi-lagi sejarah membuktikan baru 37 tahun kemudian sejak 1908, bangsa Indonesia melepaskan diri dari penjajahan bangsa asing pada tahun 1945 setelah melalui perjuangan dan pengorbanan segenap bangsa Indonesia.

***

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kondisi pendidikan Indonesia berada pada titik paling rendah. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai media menanamkan nilai-nilai kepribadian bangsa yang adiluhung. Pendidikan saat ini telah salah kaprah hanya menjadi media mentransfer ilmu pengetahuan yang celakanya hanya berorientasi pada hasil.

Kurikulum yang sering berubah-ubah sehingga memunculkan ungkapan ‘ganti menteri, ganti kurikulum’ menyebabkan kebingungan pelaku pendidikan yaitu guru dan siswa. Belum sempat kurikulum yang lama dilaksanakan dengan baik sudah diganti lagi dengan kurikulum yang baru.

Ujian Nasional berubah menjadi hantu yang begitu menakutkan sehingga memaksa siapapun harus melakukan apa saja untuk menghadapinya. Ujian Nasional menjadikan pola pikir generasi penerus bangsa ini lebih berorientasi pada hasil. Soal bagaimana proses meraih hasil tersebut tidak menjadi persoalan.

Anggaran 20 % untuk pendidikan sampai saat ini masih sebatas slogan belaka. Akibatnya, mutu pendidikan Indonesia tidak kunjung meningkat karena terkendala masalah dana.

***

Kenaikan harga BBM dipastikan akan semakin menghantam kehidupan rakyat kecil. Ketika prioritas utama rakyat saat ini adalah bagaimana mendapatkan uang untuk membeli beras, minyak tanah, gula, dan kebutuhan pokok lainnya, selalu ada yang harus dikorbankan terlebih dahulu. Tragisnya yang dikorbankan adalah pendidikan untuk anak-anaknya.

Kenaikan harga BBM yang diikuti (atau bahkan didahului) kenaikan harga kebutuhan pokok dipastikan akan semakin meningkatkan angka putus sekolah anak-anak Indonesia. Apalagi kenaikan harga BBM ini terjadi menjelang Tahun Ajaran Baru di mana para orangtua harus menyiapkan dana ekstra bagi pendidikan anak-anak mereka.

BLT atau Bantuan Langsung Tunai yang dijanjikan pemerintah dapat mengurangi dampak kenaikan harga BBM bagi rakyat kecil hanya akan berubah menjadi Bantuan Langsung Telas karena habis untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok yang sudah keburu naik sebelum harga BBM naik.

BLT yang tidak efektif itu seharusnya diganti dengan peningkatan bantuan biaya pendidikan bagi para siswa dari kalangan tidak mampu yang disalurkan langsung kepada sekolah-sekolah. Dengan pola semacam ini bantuan akan lebih tepat sasaran dan tepat guna sehingga bisa mengantisipasi tinggi angka putus sekolah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: