Mental Tangguh Seorang Siswa

25 04 2009

Oleh Sri Wahyuningsih

Suara Merdeka, 24-04-2009  

 

Bila saat muda saja sudah berani melakukan kecurangan demi lulus ujian, nanti setelah lulus dan ‘menjadi orang’ bagaimana. Apakah mau jadi koruptor? Atau seperti caleg yang depresi ketika tujuannya tidak tercapai. Wah jadi apa negara Indonesia di masa yang akan datang?

Seharusnya anak-anak ini dibekali iman yang kuat. Kalau mereka berbuat curang pastilah akan merugikan diri sendiri, dan tidak ada manfaatnya. Anak-anak dikenalkan dosa dan pahala. Tujuan yang baik harus disertai dengan langkah yang baik. Karena keduanya ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

 

Mental anak-anak harus sering atau dibiasakan dengan kompetisi. Dengan demikian mereka punya tujuan, yakni menang. Untuk dapat menang mereka harus berlatih dengan baik dan teratur. Sama dengan ujian, baik ujian semester, ujian kenaikan kelas, ujian nasional sampai nanti bersaing mencari pekerjaan. Mereka dibiasakan berusaha dengan semangat yang tinggi. Dan soal hasilnya mereka harus menyerahkan hasilnya kepada keputusan Allah SWT.

 Mereka seharusnya tidak menyalahkan pengawas, jika tidak dapat mengerjakan soal. Alasan mereka pengawasnya terlalu ketat, mengganggu konsentrasi, semua itu hanya alasan mereka dan mencari kambing hitam. Sebenarnya mereka tidak dapat menyontek karena pengawasnya mengamati dengan benar. Pengawas khan memang tugasnya mengawasi supaya ujian berjalan dengan tertib dan jujur. Pengawas ini ditugaskan dari panitia ujian untuk mengawasi peserta ujian dalam mengerjakan soal-soal dengan jujur.


Jika mereka terbiasa mengerjakan dengan kemampuan diri sendiri dan terbiasa jujur, maka mereka tidak memperdulikan pengawasnya. Mereka tetap bisa konsentrasi mengerjakan soal ujian, meski pengawasnya melotot selalu mengawasi terus, mereka tidak memperdulikannya. Sekali lagi, kejujuran harus mulai diterapkan pada mereka sejak dini, semua perbuatan selalu diawasi oleh Allah SWT yang Maha melihat dan Maha mengetahui semua perbuatan makhluknya, meskipun tidak ada yang melihat Allah SWT pasti melihatnya dan selalu dimintai pertanggung-jawaban kelak.

 

Belum terlambat untuk menerapkan kejujuran mulai sekarang. Anak-anak kita harus menerapkan kejujuran mulai sekarang. Perlu diberi contoh. Guru dan orang tua harus memberi contoh dalam keseharian kita. Orang jujur di sekitar kita mungkin sedikit, tetapi kejujuran tidak sulit dilakukan jika ikhlas dan menerima. Perasaan ringan (entheng dalam bahasa Jawa) dalam menjalani kehidupan. Sekali kita bohong maka akan disusul dengan bohong kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sampai kita merasa capek karena bohong terus menerus.

Untuk anak-anak dan rekan-rekan semua mulailah dengan kejujuran dalam segala hal mulai sekarang. Tidak ada waktu lagi untuk memulai sebuah kejujuran. Kejujuran selalu berakhir dengan kebaikan, meski kelihatannya menyakitkan. Alangkah enaknya jika semuanya jujur, pasti tidak berpikir untuk korupsi, memperkaya diri sendiri.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: