Orang Miskin (tidak) Dilarang Sekolah !

25 04 2009

Oleh : M. Arif Rahman Hakim, S.S. (Guru Bhs. Indonesia)

 

Tetap Semangat Belajar

Tetap Semangat Belajar

Saya masih ingat betul saat seorang siswi di SMP tempat saya mengajar tiba-tiba mendatangi saya sambil menangis setelah menerima pengumuman kelulusannya dua tahun lalu. Dia mengadu kepada saya karena bingung. Dia masih ingin melanjutkan sekolah tetapi kedua orangtuanya melarang karena merasa sudah tidak sanggup membiayainya.

 

 

Saya tahu persis nilainya cukup untuk mendaftar bahkan di sekolah negeri favorit di kota ini. Namun, keadaan ekonomi yang memaksanya harus berpikir ulang. Sebab, untuk masuk di sekolah negeri biasanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kabarnya, ada sebuah sekolah negeri yang ‘memasang tarif’ hingga jutaan rupiah bagi calon siswa barunya.

 

Akhirnya saya memberanikan diri untuk ‘nembung’ kepada Kepala Sekolah SMA Islam Ahmad Yani Batang, sekolah di mana saya juga mengajar di sana, agar bersedia menerima anak tersebut. Saya meminta kepada beliau untuk memberi keringanan biaya bahkan jika mungkin, beasiswa penuh.

 

Kejadian itu menyadarkan saya bahwa keberadaan sekolah swasta sangat dibutuhkan oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Saat sekolah-sekolah lain (terutama negeri) mematok biaya sekolah yang cukup tinggi, sekolah swasta bisa menjadi alternatif pilihan bersekolah bagi anak-anak mereka.

 

Peristiwa di atas juga menjadi bukti bahwa tidak semua siswa yang bersekolah di sekolah swasta pasti siswa ‘buangan’. Ada anak-anak yang sebenarnya secara akademik berprestasi namun karena keterbatasan biaya secara sadar lebih memilih bersekolah di sekolah swasta.

 

Namun terkadang toleransi (baca: kemudahan) yang diberikan sekolah swasta kepada para orangtua murid membawa dilema tersendiri. Seringkali orangtua murid terlambat membayar SPP sampai berbulan-bulan dengan alasan uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari. Pada situasi seperti ini, pihak sekolah bingung apakah harus memberi toleransi lagi ataukah harus ‘memaksa’ orangtua karena sekolah juga membutuhkan biaya operasional?

 

Di sinilah seharusnya peran pemerintah dibutuhkan untuk menjamin sekolah swasta bisa tetap ‘survive’. Kepedulian pemerintah terhadap sekolah swasta masih sangat rendah. Bantuan-bantuan yang diberikan lebih sering jatuh kepada sekolah negeri yang secara finansial sebenarnya mampu membiayai kebutuhannya sendiri.

 

Kembali ke kisah murid saya di atas, akhirnya dia bisa tetap bersekolah di SMA Islam Ahmad Yani Batang. Beasiswa dan berbagai keringanan yang diterimanya terbayar dengan prestasi diraihnya. Ada satu prinsip yang terpatri di hati saya sejak peristiwa itu bahwa orang miskin (tidak) dilarang sekolah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: