Teroris Merekrut Remaja, Hati-hati!

3 09 2009
Dani Dwi Permana, remaja berusia 18 tahun yang baru lulus SMA telah meninggalkan dunia yang fana. Dia telah menjadi “pengantin” yang meledakkan bom bunuh diri di Hotel JW Marriot bulan Juli 2009 silam. Jaringan teroris Noordin M Top telah berhasil merekrut remaja belia tersebut yang aktif di sekolahnya sebagai Ketua Rohis dan Ekskul Basket. Padahal sekolah Dani bukanlah pesantren atau madrasah, tapi SMA Yadika Bogor yang dikenal bercorak nasional dan plural. Aksi terorisme pun memasuki babak baru, dengan remaja belasan tahun sebagai eksekutor bom bunuh diri.
Lantas mengapa Dani nekat melakukan aksi biadab tersebut yang menewaskan sejumlah orang tak berdosa dan mencoreng citra Indonesia ? Rupanya Dani direkrut dan dicuci otaknya oleh Ustadz Saefudin Jaelani (SJ) yang menjadi imam masjid As-Suruur Telaga Kahuripan Sawangan Bogor. Dani yang menjadi marbot (penjaga masjid) di As-Suruur dikenal dekat dan sangat patuh terhadap SJ yang ditunjuk warga menjadi imam masjid tiga tahun terakhir karena pandai berceramah dan hafal Al Qur’an. SJ telah berhasil mengindoktrinasi Dani sehingga nekat menjadi “pengantin” bom bunuh diri.

Menurut mantan aktivis Jamaah Islamiyah (JI) Nassir Abbas, metode indoktrinasi JI atau Noordin M Top terhadap remaja atau orang yang akan direkrut tidaklah sulit. Pertama, calon “pengantin” diberikan informasi seputar ketertindasan umat Islam di berbagai belahan dunia seperti Palestina, Afghanistan, Irak dan sebagainya dan peranan Amerika dan Israel sebagai musuh umat Islam. Untuk melegitimasi AS dan Israel sebagai musuh umat Islam, biasanya dibacakan ayat Qur’an “Tidak akan ridho orang yahudi dan nashoro sampai kamu (umat Islam) mengikuti langkah (millah) mereka”. Setelah dilihat calon “pengantin” tersebut sudah tercuci otaknya, maka ditawarkanlah kepada mereka untuk menjadi mujahid yang siap menjadikan (mati) syahid sebagai cita-cita tertinggi. Kita pun lantas teringat kepada lima prinsip dasar Ikhwanul Muslimin, “Allah Ghayatuna, Rasulullah Qudwatuna, Qur’an Dusturuna, Jihad Sabiluna, Syahid Asma’amanina” (Allah tujuan kami, Rasulullah teladan kami, Quran konstitusi kami, Jihad jalan hidup kami, Mati Syahid cita-cita kami)”.

Dan, remaja atau pelajar usia sekolah adalah kelompok yang paling rentan menerima indoktrinasi seperti uraian di atas.. Ketika penulis masih bersekolah di sebuah SMA negeri di kawasan Palmerah Jakarta Barat periode 1992-1995, penulis pun menjumpai metode indoktrinasi keagamaan seperti itu dengan label “ghazwul fikri” (perang pemikiran) di acara-acara ekskul Rohis (Rohani Islam). Bahkan, di suatu acara dauroh (training tingkat lanjut), pernah diadakan simulasi “perang-perangan” antara pejuang Palestina dengan tentara Israel . Stiker-stiker bernuansa jihad seperti “ Afghanistan , The Land of Jihad”, “ Palestine , University of Jihad ” maupun 5 prinsip dasar Ikhwanul Muslimin kerap penulis temui tertempel di rumah dan kamar sesama aktivis Rohis. Para anggota Rohis pun wajib menjalani halaqoh (mentoring keagamaan) yang diadakan seminggu sekali dalam sebuah kelompok kecil beranggotakan 5-7 orang yang dipandu seorang murabbi dari alumni Rohis yang sedang kuliah. Anehnya, para anggota kelompok tidak boleh memberitahukan siapa murabbi kelompok mereka kepada guru agama di sekolah dan anggota suatu kelompok tidak boleh mengetahui anggota kelompok lainnya, mirip seperti sistem sel tertutup ala komunis.

Di kemudian hari, ternyata pengajian (baca: indoktrinasi) sistem sel tersebut berkembang di kota-kota besar di Indonesia, terutama di kampus-kampus PTN terkemuka seperti UI, ITB dan UGM dan juga turun sampai ke SMA-SMA negeri yang tidak mampu dimasuki ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah (karena organisasi pelajar NU dan Muhammadiyah dilarang masuk sekolah negeri oleh rezim Orde Baru hingga saat ini!). Dan hari ini, kita melihat komunitas tersebut telah bertransformasi menjadi partai Islam yang perolehan suaranya mampu melewati partai-partai yang didukung NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar yang selama ini merepresentasikan umat Islam Indonesia .

Maka, tidaklah mengherankan bila Noordin M Top masih dapat lolos dan bersembunyi dari kejaran aparat, karena cukup banyak yang se-ide dengan Noordin (walaupun mereka tidak setuju cara bom bunuh diri ala Noordin). Dan, cukup banyak remaja seperti Dani yang telah menerima indoktrinasi ala JI tersebut. Indonesia masih lahan yang subur bagi teroris untuk merekrut calon “pengantin” termasuk merekrut remaja usia sekolah. Hati-hati! (alfanny)

Sumber : GusMus.Net

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: