Potret Curang Ujian Nasional

2 12 2009

KECURANGAN masih saja terjadi pada pelaksanaan Ujian Nasional yang jenjang SLTA dilaksanakan mulai 20 April tahun lalu. Yang mengejutkan kecurangan terjadi secara sistematis karena melibatkan kepala sekolah, guru, tim sukses sekolah bahkan dinas pendidikan.
Berikut data kecurangan yang terjadi selama tiga tahun terakhir. Tahun 2007 jenis kecurangan UN bervariasi antara lain di Sumatera Barat 1 kasus, Sumatera Selatan 42 kasus, Sumatera Utara 26 kasus, Sulawesi Tengah 1 kasus, NTB 6 kasus, Maluku 5 kasus, Jawa Barat 4 kasus, Banten 2 kasus, Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing 2 kasus. Modus operandinya pencurian naskah, penjualan naskah ujian, kebocoran naskah, keterlambaatan pelaksanaan ujian, dan membuatkan kunci jawaban UN.

Sementara untuk UN tahun 2008 tingkat SMA/SMK diwarnai dengan kebocoran soal dan kecurangan serta lemahnya pengawasan seperti terjadi di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam, Deliserdang Sumatera Utara, sejumlah 16 guru kepergok sedang membetulkan lembar jawaban mata pelajaran Bahasa Inggris dengan jumlah peserta didik 284 yang dimotori Kepala Sekolah yang berkapasitas sebagai ketua kelompok (rayon) yang membawahi lima sekolah.

Di Solo juga ditemukan kecurangan dengan mengungkap jawaban UN melalui SMS yang dikirim oleh seseorang dan bocornya soal UNPK paket C. Di Banten juga terjadi kebocoran di Madrasah Tsanawiyah Kabupaten Pandeglang karena membuka segel pada malam hari untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan menandai 52 lembar naskah soal Bahasa Indonesia yang merupakan kunci jawaban untuk membantu peserta didik.

Yang terbaru pada tahun 2009 di Kabupaten Bengkulu Selatan 16 kepala sekolah terlibat pembocoran soal UN. Soal-soal cadangan UN yang mestinya disimpan secara rahasia justru oleh petugas dinas pendidikan setempat dibawa ke SMAN 1. Di tempat itu petugas kemudian membagi-bagikan soal-soal itu kepada 16 kepala sekolah yang telah berkumpul. Ketika polisi masuk ke ruangan didapati para kepala sekolah sedang mengerjakan soal-soal UN SMA yang diawasi langsung Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Bengkulu Selatan.

Di Bandung Jawa Barat soal UN mata pelajaran Bahasa Inggris diduga bocor. Bahkan di Bandung juga ditemukan beredarnya kunci jawaban Matematika melalui telepon seluler dan setelah di-cross check dengan soal yang asli ternyata sesuai. SMS tersebut beredar di kalangan siswa, guru, dinas setempat bahkan wartawan. Sementara di Medan, Sumatera Utara pengawas menemukan 20 lembar jawaban ada di tangan siswa.

Karena tingginya ancaman kecurangan di Yogyakarta sejumlah peserta UN merasa terganggu dengan tindakan guru pengawas yang memperketat pengawasan. Perilaku pengawas yang cenderung berlebihan dirasa mengganggu konsentrasi pelajar. Pengawas tersebut mondarmandir di dalam kelas dan terlalu mencurigai siswa sehingga justru mengganggu konsentrasi siswa.

Meski UN dilaksanakan setiap tahun masih tampak adanya kekurangsiapan sekolah menghadapinya. Salah satu akibat yang mudah kita lihat adalah hilangnya kepercayaan diri pada banyak sekolah kita. Diundangnya lembaga bimbingan tes serta kecurangan yang marak mencerminkan hilangnya rasa percaya diri tersebut.

UN selama ini masih diyakini oleh para guru sebagai tujuan dan sasaran akhir kelulusan siswa. Pendewaan UN menyebabkan proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan untuk menyambut UN. Guru akan dianggap sukses dan bergengsi jika berhasil membawa siswanya menuju perhentian akhir kelulusan dan akan divonis telah gagal menjalankan tugas apabila banyak siswanya yang gagal alias tidak lulus.

Tak ayal lagi, suasana pembelajaran semacam itu semakin jauh dari nilai-nilai edukatif dan makin kering dari sentuhan problem-problem sosial yang mestinya diinternalisasikan dalam dunia peserta didik. Bahkan, praktik pendidikan semacam itu dinilai sangat bertentangan dengan tujuan diselenggarakannya pendidikan formal di negara mana pun karena akan menyebabkan terjadinya proses penyempitan kurikulum.

Fakta di lapangan UN tidak sejalan dengan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang wajib dilaksanakan oleh semua satuan pendidikan di berbagai jenjang dan tingkatan mulai tahun 2009/2010. Dalam KTSP, sekolah memiliki otoritas penuh untuk mengatur rumah tangganya sendiri, termasuk dalam mengevaluasi kompetensi siswa didik. Tidaklah relevan kalau pada akhirnya justru yang mengevaluasi pihak lain.

UN sangat rawan terhadap berbagai penyimpangan atau tepatnya kecurangan dalam beragam bentuk. Modus operandinya pencurian naskah, penjualan naskah ujian, kebocoran naskah, keterlambaatan pelaksanaan ujian dan membuatkan kunci jawaban UN. Ironisnya, banyak penyimpangan yang terjadi tiap tahun, tetapi tak ada tindak lanjutnya. Dalam konteks ini, bangsa kita seolaholah sudah menghalalkan kecurangan dan penyimpangan pelaksanaan UN sebagai bagian dari sebuah budaya.

Idealnya UN hanya digunakan untuk kepentingan pemetaan mutu pendidikan secara nasional, sedangkan kelulusan diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme yang ada di sekolah. Dengan cara demikian, proses kelulusan akan mampu memotret kompetensi siswa didik secara komprehensif, utuh, dan menyeluruh, baik dari sisi catatan akademis maupun perilaku siswa di sekolah. Tentu saja hal ini memerlukan komitmen politik dan membangun saling percaya antara pemerintah dan pengelola sekolah, termasuk guru.

Jangan sampai terjadi fenomena pengambilalihan penentuan kelulusan siswa dari mekanisme sekolah oleh pemerintah melalui UN terus berlangsung. Sudah saatnya dunia pendidikan kita melepaskan diri dari kekuasaan hegemoni negara. Menyitir Mochtar Buchori (1995) dunia pendikan harus mampu menentukan sistem untuk dirinya sendiri; perubahanperubahan apa yang boleh terjadi dan apa yang tidak boleh terjadi. Dengan kata lain, dunia pendidikan harus lebih aktif untuk mengarahkan pertumbuhan dirinya dan tidak menyerah begitu saja kepada perintah dan imbauan yang datang dari luar.

Paulus Mujiran
Pemerhati pendidikan


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: