Aku Muhammad, Bukan Emek

24 03 2010

Langit masih sendu. Dengan warna buram di wajahnya. Sebaliknya permukaan-permukaan bumi bertingkah riang. Membasahi diri dengan kristal-kristal air. Di atas permukaannya, seluruh makhluk mulai merangkak. Dan seakan-akan mereka menyambut kelahiran sang surya entah untuk yang ke berapa kalinya.

Di sebuah desa yang tenang. Desa yang masih bisa menjaga dirinya dari asap-asap hitam. Desa yang dibatasi oleh dua sungai sehingga hamparan sawah terbentang luas dengan pergantian dwi warna yang cepat. Desa Lawangaji begitulah namanya.

Seperti biasanya pada setiap pagi para petani di desa itu pergi ke sawah. Berduyun-duyun menyandang cangkul di pundaknya. Menghapus air mata rumput-rumput dengan ayunan kakinya. Tetapi tidak bagi pak Kasman. Langkah kakinya tidak menuju ke sawah melainkan di jalan desa yang beraspal dan terasa dingin. Derap-derap langkahnya begitu cepat sama sekali tak menghiraukan keadaan sekitarnya.

Sampailah ia di tempat yang ia tuju yaitu sebuah rumah bermodel joglo. Ia akan membuat perhitungan kepada pemilik rumah itu atau tepatnya ingin meminta pertanggungjawaban.

Digedor pintu rumah itu oleh pak Kasman dengan kerasnya. Tetapi tetap saja si empunya rumah tak kunjung keluar, membuat pak Kasman mondar-mandir kegeraman.

“Pak Harno, buka pintunya!” teriaknya pada si empunya rumah.

Namun tetap saja hening. “Pak Harno….!” teriaknya lagi

Dengan cepat si empunya rumah menjawab.

“Ya…ya…sabar, siapa itu pagi-pagi sudah gedor-gedor pintu orang?” ucap si empunya rumah.

Dibukalah pintu rumah itu. Melihat siapa yang datang ke rumahnya, membuat Pak Harno memaklumi mengapa pintu rumahnya digedor.

“Mana Emek, saya mau kasih pelajaran padanya. Tiga ayam saya telah dicurinya semalam.” ucapnya penuh amarah.

Karena sudah terbiasa menghadapi orang seperti Pak Kasman membuat Pak Harno tenang. Dengan penuh pengertian Pak Harno mengambil uang untuk ganti rugi di saku atas baju batiknya warna biru.

“Ini Pak, sedikit uang untuk ganti rugi. Semoga saja Bapak mengikhlaskan perbuatan anak saya.” ucap Pak Harno memohon.

Dengan wajah terpasang cemberut namun penuh kelegaan, Pak Kasman menerima uang itu. Segera saja ia selipkan di antara gulungan sarungnya yang ia pakai.

“Gini kan masalahnya jadi beres. Tapi ingat jangan sekali-kali anak Bapak itu mencuri ayam saya lagi.” ancam Pak Kasman.

Tamu tak diundangnya itu pun beranjak dari hadapan Pak Harno. Terbesit dalam hatinya untuk meminta penjelasan dari orang itu, namun percuma saja. Segera ia tutup pintu rumahnya, putaran pintu itu semakin tak patuh pada ruasnya karena terlalu sering digedor orang.

Pak Harno melangkahkan kakinya menuju ke kamar anaknya. Dibukalah pintu kamar itu yang tak terkunci. Pandangannya tak lepas dari wajah anaknya. Dan saat seperti itulah ia selalu teringat akan istrinya yang terlebih dahulu pergi meninggalkan dirinya. Dan Tuhan menggantinya dengan anak semata wayangnya ini: Muhammad.

Masuklah ia ke dalam kamar anaknya. Dia duduk di sampingnya. Tangannya tak lepas membelai rambut anaknya yang halus lurus. Selalu saja ia ingat istrinya yang menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah melahirkan Muhammad.

Lamunannya buyar ketika anaknya menggeliat bangun dari tidurnya.

“Sudah jam berapa, Pak?” tanya Muhammad.

“Setengah tujuh. Lekas mandi sana nanti terlambat ke sekolah.”perintah Pak Harno.

Segera Muhammad beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan badan.

***

Meskipun bangun agak terlambat namun tak membuat Muhammad telat di sekolah. Ia selalu nebeng truk material yang lewat di kampungnya untuk mengambil pasir dan batu di sungai desanya. Dan biasanya ia turun di Desa Kecepak, di depan sekolahnya, SMP N 8 Batang. Muhammad memang terkenal paling nakal namun untuk urusan berangkat sekolah ia jarang terlambat ataupun membolos. Alasannya hanya satu, dia tak ingin melewatkan absensi di kelas. Dengan alfabetis M membuat Muhammad menunggu tak sabar namanya dipanggil. Segera ia berdiri dan diacungkan tinggi-tinggi tangan kanannya saat guru yang mengajar di kelasnya memanggil namanya.

Nama bagi Muhammad adalah segalanya. Ini adalah sebuah kenangan dari ibunya yang sangat ia cintai. Ketika ada orang sekampungnya, umumnya mereka sudah dewasa, memanggilnya dengan panggilan, Emek plesetan dari Amat, anak kata nama Muhammad. Maka bersiaplah kebun atau hewan peliharaan mereka ludes dijarah Muhammad dengan komplotannya. Sayangnya orang-orang sekampungnya tak tahu sebab musabab ini. Jadilah Muhammad nakalnya semakin menjadi.

Saat pulang sekolah Muhammad berpapasan dengan anak kampung lain. Mereka berdua. Mereka iseng menyapa Muhammad.

“Mek, baru pulang sekolah ya?” ucap salah satu dari mereka. Anak itu kenal Muhammad karena ia sering ke Lawangaji.

Mendengar panggilan itu kuping Muhammad panas. “Aku Muhammad bukan Emek.” ucapnya dengan gigi bergemelutuk menahan marah.

Melihat Muhammad marah tak membuat mereka menyadari kesalahan mereka karena Muhammad bertubuh sedikit lebih kecil dari mereka. Mereka siap akan segala kemungkinan.

“Apa peduli kami, Emek?“ ucap yang satunya. Tanpa banyak basa-basi Muhammad menerkam mereka. Tak peduli lagi akan ukuran tubuh dan jumlah. Muhammad mengamuk dikuasai emosi. Tetapi jumlah dan ukuran mereka memang lebih kuat. Muhammad terpelanting ke pinggir jalan yang berumput. Ia lelah dan napasnya tak teratur. Tiba-tiba tangannya menyentuh batu. Melihat kedua lawannya lengah, disambitlah mereka berdua dengan batu di tangannya. Lalu, Muhammad lari secepat kilat.

***

Melihat anaknya pulang babak belur, Pak Harno terkejut. Tak biasanya Muhammad pulang seperti itu, meskipun nakalnya minta ampun.

“Kenapa kau Muhammad? Apa kau berkelahi?” tanyanya.

Muhammad tak menghiraukan kata bapaknya. Ia terus saja melangkah menuju kamarnya. Saat akan bertanya kembali, Pak Harno dikejutkan oleh pintu rumahnya yang digedor cukup keras. Diurungkan maksud awalnya, segera ia menuju ke ruang depan.

“Keluar kau anak setan!” teriak seseorang dari luar rumah.

Mendengar suara itu Pak Harno miris. Dia hanya bisa bersabar dan sabar. Segera dibukanya pintu rumahnya.

“Kamu bapaknya anak setan itu ya? Mana dia? Biar kutebas lehernya!” ucap lelaki yang tak dikenal oleh Pak Harno itu dengan parang yang ia selipkan di pinggangnya.

“Sabar Pak. Apa masalah sebenarnya?” tanya Pak Harno.

“Sabar … sabar … lihat anakku. Kepalanya bocor dipukul anakmu pakai batu” ucapnya dengan menunjukkan kepala anaknya yang berdiri di sampingnya sambil meringis kesakitan.

Dengan cepat Pak Harno tanggap dengan masalah ini. Seperti biasanya, ia memberikan ganti rugi untuk menebus kesalahan anaknya  dengan disertai ucapan maaf yang tak henti-hentinya.

***

Terkulai lemas tubuh Pak Harno di kursi. Ia sandarkan tubuhnya dengan tenang. Namun pikirannya tak mampu diikutkan untuk tenang. Anaknya, Muhammad, telah banyak melakukan sesuatu yang membuatnya kecewa. Dia sudah kehabisan akal untuk mengatasi kenakalan-kenakalan yang diperbuat anaknya tersebut.

Dalam lamunannya itu, dia teringat perkataan Lik Marno, saudara jauh dari pihak almarhumah istrinya, yang menyarankan kepada Pak Harno agar mengganti nama anaknya tersebut. Menurut Lik Marno, nama Muhammad terlalu berat untuk anak kesayangannya tersebut. Dalam kepercayaan orang Jawa, seorang anak yang ‘kabotan jeneng’ akan membuat anak itu sakit-sakitan atau menjadi anak yang susah diatur. Obatnya hanya satu yaitu mengganti nama anak tersebut dengan nama yang lebih cocok untuk ukuran derajat dan kedudukan si anak dan orangtuanya.

Namun saran itu tak mudah dilakukan oleh Pak Harno. Jujur dia suka akan nama itu. Meskipun dia awam dengan agama namun entah mengapa setiap mendengar nama itu ia merasa bangga. Sangat berat hatinya untuk menuruti saran Lik Marno. Apalagi jika dia mengingat janji yang telah dia ucapkan kepada istrinya dulu.

Pak Harno menunduk. Pikirannya menyelam ke dalam sekat-sekat kebimbangan. Akankah dia harus mengkhianati permintaan terakhir istrinya? Perjuangan istrinya melahirkan seorang buah hati yang harus ia bayar dengan nyawanya sendiri. Masih terbayang senyum istrinya yang terakhir itu. Ia bahagia dapat melahirkan seorang anak tepat di Hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Dengan belaian halus kepada sang bayi serta senyum termanis kepada sang suami, ia berkata dalam hembusan napasnya yang terakhir, “Berikan nama anak ini, Muhammad.”

Pak Harno menangis. Kepalanya merungkuk bersatu dengan lututnya. Dia bingung. Dia harus mengambil sebuah keputusan yang sulit. Pak Harno menarik napas dalam-dalam. “Walau bagaimanapun aku harus mencobanya. Mungkin ini jalan keluar dari masalah ini!” pikirnya.

Ia tegakkan kembali kepalanya. Ia hapus air mata dengan lengan bajunya. Ia berdiri tegak dan melangkahkan kakinya dengan mantap. “Maafkan aku, istriku!” bisiknya perih dalam hati.

***

Di Lawangaji matahari telah gulung layar diikuti oleh sekawanan burung kuntul yang terbang pulang ke ladang tebu. Bersembunyi di balik surai-surai hijaunya. Semua tumbuhan dan binatang di desa itu seakan terdiam karena sebentar lagi layar baru akan digelar. Layar hitam yang bernama malam. Musik jangkerik dimulai. Primadona malam pun muncul diikuti oleh para pejantan yang bersinar malu-malu dari kejauhan yang setia berkedip terus dan akan terus begitu hingga malam nanti yang semakin larut.

Pak Harno mendapati Muhammad sedang asyik memandang kerlipan-kerlipan bintang  lewat jendela.

“Mad” panggil Pak Harno lirih, tak ingin mengejutkannya. Tapi Muhammad tetap saja acuh.

“Mad, ada suatu hal yang ingin Bapak sampaikan” ucap Pak Harno.

“Langsung diomongin aja Pak. Saya dengerin kok!” jawab Muhammad dengan mata tak lepas memandang ke langit. Pak Harno menghela napas dalam-dalam.

“Dengerin ya, Mad! Bapak ingin namamu diganti. Nama yang biasa kita sandang sebagai orang Jawa dan orang kecil.” kata Pak Harno tegas namun dengan hati-hati.

Sekejap pesona bintang di hamparan langit yang hitam lenyap dalam lamunan Muhammad. Dia segera membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan bapaknya.

“Apa Bapak sudah lupa? Namaku ini adalah permintaan terakhir dari Ibu. Aku tidak mau namaku diganti karena aku sayang Ibu.” jawab Muhammad tak kalah tegas.

“Bapak tahu dan Bapak tak akan pernah lupa. Tapi kau tak menyadarinya bahwa kamu tak mampu menyandang nama agung itu.” kata Pak Harno memelas.

“Apa maksud Bapak?” tanya Muhammad.

Pak Harno berdiri, “Ibumu memberikan nama itu karena beliau ingin kamu bisa meneladani pemilik nama agung itu. Namun kenyataannya, tingkah lakumu selama ini tidak mencerminkan sama sekali hal itu” terang Pak Harno. “Ibumu pasti kecewa sekali” lanjutnya.

Muhammad hanya terpekur diam. Pak Harno mendekatinya dan dibantunya Muhammad berdiri dengan mengangkat bahunya.

“Untuk itulah Bapak akan membantumu, Nak! Yaitu dengan mengubah namamu.” kata Pak Harno meyakinkan. Muhammad masih terdiam.

“Pak, jika Bapak hanya ingin aku menghentikan segala kenakalanku, maka aku berjanji tidak akan nakal lagi. Tapi aku mohon, Pak, jangan ubah namaku karena ini mungkin satu-satunya cara bagiku untuk menunjukkan rasa sayangku kepada Ibu.” kata Muhammad dalam tangisnya.

“Pak, aku mohon!” pinta Muhammad dengan penuh harap.

Giliran Pak Harno sekarang yang terdiam. Kebimbangan kembali menyeruak dalam benaknya. Selayaknya bulan dan bintang yang berdampingan. Diamnya anak-bapak itu adalah kebisuan yang meletup-letupkan beribu makna di malam itu.

===> T A M A  T <===

Biodata Penulis :

Nama : Iwan Arifiyanto

Kelas  : XI IPA

Juara Lomba Cerpen “IQRO” se-Kab. Batang



Aksi

Information

3 responses

12 05 2010
mba'yum

jayoo adek q,bwa nma baek scul qta ae……….

13 03 2012
Eni ristiani

Bgus,,
tapi kurang pnjng crita’a. Jd pngen tw lanjutn.a

27 10 2012
rahmiza fitri

hmmmm mnarik,,,,tpi syng crita nya trputus,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: