MENGUAK MISTERI ISRA’ MI’RAJ DALAM TINJAUAN FISIKA DAN TAFSIR

14 06 2010

Prolog

Ilmuwan terkemuka Sinka mengatakan: siapa pun yang melayangkan pendangannya ke arah langit pasti akan memejamkan kedua matanya dengan penuh kekaguman dan katakjuban. Sebab ia melihat jutaan bintang yang bersinar terang, mengamati pergerakannya di garis orbitnya, dan beralih memandangi rasi-rasinya. Masing-masing bintang, planet, nebul, dan satelit adalah dunia yang berdiri sendiri, dan jauh lebih besar daripada bumi beserta segala yang ada diantaranya dan yang melingkupinya (Ahmad, 2006:42).

Bayangkan, jika kita sedang menengadah ke langit di malam hari, kita melihat sinar bulan yang begitu indah. Nah, sinar bulan yang kita lihat itu membutuhkan waktu untuk menempuh jarak dari bulan ke bumi sekira 350.000 kilometer. Karena kecepatan cahaya sekitar 300.000 meter per detik, maka cahaya bulan itu membutuhkan waktu lebih dari satu detik untuk sampai ke bumi. Artinya, ketika kita melihat bulan, sebenarnya bulan yang kita lihat itu bukanlah bulan pada saat yang sama. Sebab, bulan membutuhkan waktu selama satu detik untuk mencapai bumi. Paling tidak, bulan yang kita lihat saat ini adalah bulan satu detik yang lalu.

Hal itu juga terjadi ketika kita melihat matahari. Karena jarak Matahari – Bumi yang demikian jauhnya sekitar 150 juta kilometer, maka kecepatan cahaya membutuhkan waktu 8 menit untuk sampai ke bumi. Artinya, jika waktu itu kita melihat matahari, maka matahari yang kita lihat itu sebenarnya bukalah matahari pada saat itu, melainkan matahari 8 menit yang lalu (Mustofa, 2006:71).

Kenaehan dan keterkaguman kita akan semakin bertambah, manakala kita menyaksikan benda-benda langit yang lain, bintang umpamanya. Malah ada bintang yang berjarak sangat jauh dari bumi hingga memakan waktu 8 tahun cahaya dari bumi. Maka jika kita melihat bintang itu, sebenarnya kita sedang menyaksikan bintang yang usianya 8 tahun lalu. Mengagumkan.

Bahkan, dalam abad kekinian, sering juga kita dengar istilah satelit atau sputnik, yaitu kendaraan ruang angkasa yang diluncurkan menuju bulan dan planetnya di dalam kelompok matahari. Persitiwa satelit atau sputnik itu merupakan hasil kecerdasan otak manusia sekaligus merupakan alat terpenting dalam mencapai kemajuan lahir ke arah pengetahuan dan teknologi.

Lalu, pada abad ke-7 atau sekitar 1400 tahun silam, kita juga mendengar suatu peristiwa maha hebat dari tanah Arab. Persitiwa itu jauh lebih mengagumkan dari satelit ataupun sputik dan benda-benda langit lainnya. Peristiwa itu dinamakan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw. Muhammad tidak saja menembus ruang angkasa di sekitar bulan, bahkan sudah meluncur ke ufuk yang tertinggi , melalui sistem planet, menerobos ruang langit yang luas, berlanjut terus ke gugusan Bintang Bima Sakti, meningkat kemudian mengarungi Semesta Alam hingga sampai di ruang yang dibatasi oleh ruang yang tak terbatas. Kemudian sampailah Rasulullah Muhammad saw pada Ruang yang Mutlak yang dinamakan “Maha Ruang”. Inilah yang disebut “Dan dia Muhammad di ufuk yang tertinggi” (Mudhary, 1996:21).

Peristiwa luar biasa ini kontan membuat kontroversi di masyarakat. Ada masyarakat yang mencemooh; kebanyakan dari mereka orang kafir. Mereka menggemboskan isu bahwa Muhammad telah gila. Kelompok kedua adalah mereka yang ragu-ragu. Mereka terbawa oleh suasana kontradiksi, mau percaya kok rasanya berita itu tidak masuk akal. Tapi ngga percaya, kan Muhammad tidak pernah berbohong. Kelompok ketiga adalah mereka yang begitu yakin akan ke-Rasulan Muhammad. Perjalanan yang kontroversial ini pun bagi mereka justru meningkatkan kayakinannya bahwa beliau benar-benar utusan Allah.

Lantas bagaimana dengan kita? Termasuk golongan yang mana: tidak yakin, ragu-ragu, atau yakin? Alternatif dari jawaban itu adalah bahwa kita harus yakin dengan di-Isra-kan dan di-Mi’raj-kannya Muhammad, sekaligus meyakinkan kaum peragu bahwa peristiwa ini pun masuk akal, logis, dan rasional. Sebab, bisa dibuktikan secara empiris dalam ilmu pengetahuan modern

Bukankah manusia adalah salah satu magnum opus-nya Tuhan dengan keistimewaan akalnya. Bukankah telah disinyalir Tuhan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menjelajah seantero jagat raya dengan kekuasannya (QS.Ar Rahman:33). Bahkan, Al Khazin, Al Baidlawi, dan An Nasai (Mudhary, 1996:21), memberi tafsiran bahwa arah kata sulthan atau kekuasanannya ialah ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh kecerdasan otak lahir dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan otak batin. Otak lahir disebut juga indera badani atau jasmani, sedangkan otak batin disebut indra rohani. Keduanya dikenal dengan sensus interior dan eksterior.

Hubungan antara tanda-tanda kebenaran di dalam al Quran dan alam raya dipadukan melalui mukjizat Al Quran dengan mukjizat alam raya yang menggambarkan kekuasaan Tuhan. Masing-masing mengakui dan membenarkan keduanya menjadi pelajaran bagi setiap orang yang mau mendengar. Bahkan Abbas Mahmud Aqqad (dikutip Pasya, 2004:24), memberi penjelasan makna mukjizat ilmiah dalam al Quran dan Hadits secara lebih mendalam yakni terdapat dua macam mukjizat yang harus dibedakan: mukjizat yang harus dicari, dan mukjizat yang memang tidak perlu dicari.

Sayangnya pembedaan antara kedua macam mukjizat tersebut hampir tidak kita temukan pada mereka yang pemikirannya hanya berhenti pada batas penafsiran ilmiah terhadap fenomena alam. Tidak adanya pembedaan tersebut kadang menyebabkan pencampuradukkan anatra mukjizat ilmiah (yang berarti bahwa Al Quran dan Hadits telah terlebih dahulu memberitahukan kita tentang fakta atau fenomena alam sebelum ditemukan oleh ilmu empiris) dan penafsiran Al Quran secara ilmiah (yang berarti mengungkap makna-makan baru ayat Quran atau Hadits sesuai kebenaran teori sains). Dengan kata lain, sains menjadi perangkat untuk menafsirkan Al Quran dan Hadits, seperti halnya ilmu bahasa dan asal usul fikih yang juga menjadi perangkat untuk menafsirkan ayat-ayat Al Quran di bidang ilmu keagamaan. Nah.

Dengan demikian, perjalanan Isra Mi’raj yang menjadi fenomena mukjizat Allah tersebut mampu dikaji secara ilmiah. Pembuktian-pembuktian sains modern telah menampakan sebuah paradigma bahwa perjalanan Muhammad menjumpai Tuhannya dengan menembus batas-batas langit adalah benar. Sebab, perjalanan itu bisa ditafsir ulang dengan sains kekinian, dan dibuktikan secara ilmiah.

Skenario Isra Mi’raj dan Tafsir Fisik

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1).

Dalam ayat in, Allah sudah menjelaskan skenario perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad. Sehingga dengan berpatokan pada ayat ini, kita bisa memperoleh pemahaman yang sangat memadai tentang mukjizat Isra dan Mi’raj tersebut.

Dalam tinjauan Agus Mustofa (2006:11), setidak-tidaknya ada delapan kata kunci yang menjadi catatan penting dan menuntut pemahaman kita menembus batas-batas langit untuk menafsir perjalanan kontroversial ini. Baiklah, jika kita mencoba untuk menguraikan makna kata-kata tersebut, maka akan menjadi seperti ini:

Catatan pertama, terdapat pada akata Subhanallah, Maha Suci Allah. Hal ini mengisyaratkan bahwa persitiwa ini sangat luar biasa. Saking spesialnya kejadian ini, Allah sendiri memuji diri-Nya dengan ucapan Subhanallah. Barangkali inilah salah satu bukti bahwa Allah adalah Maha dari segala Maha. Maha tanpa batasan ruang, waktu, bahkan massa. Sehingga lanjut Quraish Shihab (1992:338), peristiwa ini membuktikan bahwa ‘ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas ruang dan waktu.

Catatan kedua, adalah dalam kata asraa, yang telah memperjalankan. Ini berarti bahwa perjalanan Isra Mi’raj bukan atas kehendak Rasulullah, melainkan kehendak Allah. Dengan kata lain, kita juga memperoleh ‘bocoran’ bahwa Rasul tidak akan sanggup melakukan perjalanan itu atas kehendaknya sendiri. Saking dahsyatnya perjalanan ini, jangankan manusia biasa, Rasul sekali pun tidak akan bisa tanpa diperjalankan oleh Allah.

Oleh karena itu lanjut Agus (2006:15), Allah lantas mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi melanglang ‘ruang’ dan ‘waktu’ didalam alam semesta ciptaan Allah. Mengapa Jibril? Sebab Jibril merupakan makhluk dari langit ke tujuh yang berbadan cahaya. Dengan badan cahayanya itu, Jibril bisa membawa Rasulullah melintasi dimensi-dimensi yang tak kasat mata.

Pembuktian menurut ilmu Fisika lanjut Mudhary (1996;28), bahwa eter menjadi zat pembawa sekaligus pelantara daya elektromagnetik. Eter adalah udara yang ringan sekali, lebih ringan dari udara yang dihirup oleh manusia: O2. Dalam bahasa Arab disebut dengan “Itsir”. Jika eter bergetar, niscaya membutuhkan pula zat pembawa yang lebih halus lagi dari eter itu sendiri, agar getaran eter itu bisa tersebar ke mana-mana.

Sedangkan menurut Ilmu Metafisika, Rasul naik ke ruang angkasa melakukan perjalanan Mi’rajnya tentu membutuhkan zat pembawa yang lebih halus dari jiwa atau rohaninya. Oleh karena itu, makhluk hidup yang memiliki dua jasad: jasmani dan rohani, maka diperlukan zat pembawa yang lebih halus dari rohani itu sendiri dan mampu mengangkat jasmani Rasul sekaligus. Dan ternyata makhluk yang sangat halus itu bernama Jibril.

Selain Jibril, perjalanan super istimewa itu disertai juga oleh kendaraan spesial yang didesain Allah dengan sangat spesial bernama Buraq. Ia adalah makhluk berbadan cahaya yang berasal dari alam malakut yang dijadikan tunggangan selama perjalanan tersebut. Buraq berasal dari kata Barqum yang berarti kilat. Maka, ketika menunggang Buraq itu mereka bertiga melesat dengan melebihi kecepatan cahaya sekitar 300.000 kilometer per detik (Mustofa, 2006:15).

Jika seandainya kecepatan Buraq diambil serendah-rendahnya setara dengan perbandingan kecepatan elektris saja: 300.000 kilometer per detik, maka jarak anatara Masjidil Haram di Mekkah dengan Masjidil Aqsha di Palestina yang berjarak 1.500 kilometer, paling tidak memakan waktu 1/200 detik. Padahal, Buraq adalah makhluk hidup yang kecepatannya pun bisa melebihi kecepatan elektris tadi.

Pertanyaannya kemudian, bukankah kecepatan cahaya adalah kecepatan paling tinggi yang telah dihasilkan Fisika Modern? Bukankah kecepatan cahaya telah mendapat legalitas berdasarkan keputusan kongres Internasional tentang Standar Ukuran yang digelar di Paris tahun 1983: bahwa kecepatan cahaya berada dalam vakum sebesar 299.792.458 meter per detik dibulatkan sekira 300.000 kilometer per detik. Dan tentu saja, kecepatan cahaya berlaku sama bagi seluruh gelombang spektrum dan mempersentasikan batas kecepatan dalam alam fisika (Ahmad, 2006:168).

Tentu saja kecepatan setinggi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang benda. Hanya sesuatu yang sangat ringan saja yang bisa memiliki kecepatan yang bisa melebihi kecepatan cahaya. Bahkan, saking ringannya, maka sesuatu itu harus tidak memiliki massa sama sekali. Yang bisa melakukan kecepatan itu hanya photon saja, yaitu kuantum-kuantum penyusun cahaya. Bahkan, electron sekali pun yang bobotnya hamper nol sekalipun tidak bisa memiliki kecepatan setinggi itu.

Sedangkan manusia sendiri terkonstruksi dari satuan-satuan utama yang sangat kecil dinamakan sel. Jumlahnya sekitar 390 milyar. Sel tubuh ini tidak sama, baik bentuk, besar, maupun fungsinya. Sel-sel ini tidak terpisah satu sama lain, tetapi hidup dalam organisasi yang harmonis (Pasya, 2004:250).

Jika dilihat dari penyusunnya, maka berbagai macam sel itu tersusun dari molekul-molekul. Baik yang sederhana maupun molekul yang kompleks. Mulai dari H2O, sampai pada molekul asam amino atau proteir kompleks lainnya. Dan jika dicermati, maka molekul itu juga tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil disebut atom. Dan atom ini pun tersusun dari partikel-partikel sub atomik seperti: proton, neutron, elektron, dan sebagainya.

Karena manusia memiliki bobot, jangankan untuk dipercepat dengan kecepatan setingkat kecepatan cahaya. Dengan percepatan beberapa kali gravitasi bumi (G) saja, sudah akan mengalami kendala serius, bahkan bisa meninggal dunia.

Dalam ilustrasinya, Agus Mustofa (2006:17) memberi gambaran tentang seorang pilot yang melakukan manuver di angkasa. Ketika ia melakukan gerakan vertikal naik ke langit atau manuver ‘jatuh’ ke bumi misalnya, saat itu badannya akan mengalami tekanan alias beban yang sangat berat bergantung pada besarnya percepatan yang ia lakukan.

Jika pilot bermanuver ke langit dengan percepatan dua kali gravitasi bumi (2G), maka badannya akan mengalami tekanan dua kali lipat dari biasanya. Jika bobot pilot dalam kondisi normal 80 kg misalnya, maka pada saat melakukan manuver bobotnya akan menjadi 160 kg. Bahkan jika percepatannya lebih tinggi lagi, rasa ‘nyuut’ di otak akan semakin besar. Seperti orang yang jatuh bebas ke dalam sebuah sumur yang dalam. Bisa-bisa seseorang akan mengalami ‘hilang kesadaran’. Apalagi manuver pilot dengan kecepatan 5G, pilot yang tidak terlatih bisa-bisa mengalami balck out alias semaput atau pingsan di angkasa.

Jika demikian, bukankah Muhammad juga seorang manusia biasa yang memiliki struktur sama dengan pilot dalam ilustrasi tadi ketika ia melakukan perjalanan Isra Mi’raj tersebut? Lalu bagaimana jasmani Muhammad mampu menembus lapisan langit dengan bantuan kecepatan cahaya ? Apakah Muhammad di-Isra-kan dan di-Mi’raj-kan dengan jasmani dan rohaninya sekaligus? Nah.

Salah satu ‘skenario rekonstruksi’ untuk mengatasi problem ini adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama (Mustofa, 2006:20).

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir masih dalam buku yang sama (2006:20), bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan antiproton, atau elektron dengan positron sebagai antielektronnya, maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing-masing 0,11 MeV untuk pasangan elektron dan 938 MeVuntuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi dua buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukan bahwa materi memang bisa berubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.

Nah, proses pengubahan materi menjadi cahaya terjadi sesaat sebelum perjalanan Isra Mi’raj dimulai. Kejadian ini ketika Rasul disucikan oleh Jibril di dekat sumur zam-zam. Bisa dikatakan jika proses ini adalah proses operasi hati Muhammad dengan air zam-zam.

Kenapa operasi hati? Bukan otak atau jantung misalnya? Ya, sebab hati adalah pangkal dari seluruh aktifitas badani. Bahkan Rasul mengatakan bahwa hati adalah pangkal dari segala aktifitas badani. Jika baik hatinya, maka baik pula seluruh aktifitas badannya. Begitu juga sebaliknya jika buruk hatinya, maka buruk juga segala aktifitas badaniahnya.

Bahkan, resonansi dari hati yang baik itulah kelembutan akan muncul. Bagaikan buluh perindu yang akan menghasilkan suara merdu ketika ditiup. Kenapa? Karena hati yang lembut bagaikan sebuah tabung resonansi yang bagus. Getarannya menghasilkan frekuensi yang semakin lama semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi frekuensinya. Pada frekuensi 10 pangkat 8, maka akan menghasilkan gelombang radio. Dan jika frekuensinya lebih tinggi misal 10 pangkat 14, maka akan menghasilkan gelombang cahaya (Mustofa, 2008:153).

Itulah agaknya yang terjadi pada diri Rasulullah saat ‘dioperasi’ oleh malaikat Jibril di dekat sumur zam-zam. Jibril melakukan manipulasi terhadap sistem energi menjadi badan cahaya. Dengan kesiapan ini, Muhammad siap untukdibawa melalui kawalan Jibril dengan mengendarai Buraq menembus batas langit hingga akhirnya berjumpa dengan Sang Pemilik Cahaya Abadi.

Catatan ketiga, terdapat dalam kata ‘abdihi, Hamba-Nya. Hal ini berarti bahwa tidak semua orang secara sembarangan mampu melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Perjalanan fantastis yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang sudah mencapai tingkatan ‘abdihi, hamba-Nya. Atau dalam istilah Quraish Shihab sebagai insan kamil.

Catatan keempat, dalam kata laila, malam hari. Perjalanan spesial ini dilakukan pada malam hari dan bukan siang hari. Kenapa? Inilah dia bukti kebesaran Tuhan Sang Maha Gagah itu. Ia mengendalikan perjalanana Isra Mi’raj dengan apik dan sangat canggih. Apalagi alasan logis mengenai hal itu, bahwa pada siang hari radiasi sinar matahari demikian kuatnya, sehingga bisa membahayakan badan Nabi Muhammad yang sebenarnya memang bukan badan cahaya. Badan nabi yang sesungguhnya tentu saja adalah materi. Perubahan menjadi badan cahaya itu bersifat sementara saja, sesuai kebutuhan untuk melakukan perjalanan bersama Jibril. Dengan melakukannya pada malam hari, maka Allah telah menghindarkan Nabi dari interferensi gelombang yang bakal membahayakan badannya. Suasana malam memberikan kondisi yang baik buat perjalanan itu (Mustofa, 2006:25).

Sebagai gambaran sederhana, ketika di malam hari kita menyalakan radio, maka gelombang yang kita tangkap akan jernih dan lebih mudah dari siang hari. Sebab gelombang radio tersebut tidak mengalami gangguan terlalu besar yang saling bersinggungan dengan gelombang lainnya. Begitulah gambaran sederhananya, sebab waktu malam hari adalah waktu yang paling kondusif untuk perjalanan super spesial demi kelancaran perjalanan ini.

Catatan kelima, terdapat dalam kata minal Masjidil haram ilal masjidil Aqsha, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Perjalanan ini dimulai dari mesjid ke mesjid, sebab mesjid adalah bangunan yang memiliki energi positif. Disanalah orang-orang berusaha untuk menyucikan diri, mendekat, bahkan merapat kepada Tuhannya. Masing-masing mesjid tersebut ibarat tabung energi positif bagi perjalanan Nabi.

Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dijadikan sebagai terminal pemberangkatan dan kedatangan. Hal ini mirip dengan tabung transmitter dan recieveri, yang dipergunakan dalam proses perubahan badan Nabi Muhammad dari materi menjadi cahaya jauh lebih mudah. Apalagi proses itu melalui ‘operasi’ lewat pelantara Jibril yang memang makhluk cahaya. Maka semuanya berjalan dengan lancar sesuai kehendak Allah. Dia-lah yang berkehendak, sedang Jibril yang melaksanakannya (Mustofa, 2006:28).

Catatan keenam, yakni dalam kata baaraknaa haulahu, Kami berkahi sekelilingnya. Perjalanan ini adalah perjalanan yang tak lazim. Oleh karena itu Allah mempersiapkan semua fasilitas dengan keberkahan untuk menjaga kelancaran perjalanan sekali dalam sepanjang sejarah manusia.

Nah, disinilah pentingnya Allah menjaga lingkungan sekitar perjalanan Isra Mi’raj agar tidak terjadi hal-hal yang merusak. Sebab, jika badan Rasul tiba-tiba berubah menjadi ‘badan materi’ lagi saat melakukan perjalanan berkecepatan tinggi itu, maka badannya bisa terurai menjadi partikel-partikel kecil sub atomik, tidak beraturan lagi. Untuk itulah, keberkahan itu selalu ada; di setiap tempat di setiap keadaan, bahkan tak mengenal tempat, waktu, dan keadaan sekalipun.

Catatan ketujuh, terdapat dalam kata linuriyahu min ayaayaatina, tanda-tanda kebesaran Allah. Ya, tepat sekali Isra Mi’raj adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang Maha Hebat. Dalam perjalanan itu Rasul menyaksikan pemandangan yang tidak pernah beliau saksikan sebelumnya. Terutama ketika melintasi dimensi-dimensi langit yang lebih tinggi pada saat Mi’raj ke langit ke tujuh. Tanda kebesaran dan keagungan Allah ini terhampar di jagat raya. Dan dengan tanda-tanda itu, seseorang mukmin bisa melakukan ‘dzikir sekaligus pikir’ sehingga menghasilkan kedekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan kata kunci yang terakhir adalah innahu huwas samii’ul bashir, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Ini adalah proses penegasan informasi kalimat sebelumnya. Dengan adanya kalimat ini, seakan-akan Alalh ingin memberikan jaminan kepada kita bahwa apa yang telah Dia ceritakan dalam ayat ini adalah benar adanya. Kenapa? Karena berita ini datang dari Allah, Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka tak perlu ada keraguan tentang kisah fenomenal ini (Mustofa, 2006:41).

Penjelasan Teori Eisntein (E= m.c2)

Relativitas, adalah teori yang saat ini menjadi pusat ilmu pengetahuan. Teori ini terdiri atas Relativitas Khusus dan Umum. Dua teori ini pun memiliki sejarah yang berbeda.

Relativitas Khusus diterima dalam beberapa tahun setelah Albert Einstein mengumumkannya. Dan ini terjadi di tengah derasnya peristiwa-peristiwa ilmiah, dan karena ini menjawab pertanyaan yang membingungkan banyak ilmuwan. Teori ini juga memiliki kegunaan dalam bidang-bidang utama riset yang dilakukan saat itu, seperti fisika nuklir dan mekanika kwantum. Saat ini, relativitas khusus menjadi alat sehari-hari bagi para ahli fisika yang meneliti susunan materi dan gaya yang menyatukannya.

Relativitas Umum berlaku dalam skala yang jauh lebih besar, pada bintang-bintang, galaksi, dan ruang angkasa yang luas. Dibutuhkan waktu lebih lama untuk diterima, karena teori ini tampaknya tidak memiliki kegunaan prakltis. Einstein menggunakannya untuk menjelaskan kesederhanaan dan tatanan di balik alam semesta. Teori ini baru dapat diuji tahun 1960-an setelah akselerator partikel raksasa dan perlatan lain ditemukan menjadi lebih kuat.

Relativitas khusus meramalkan bahwa ketika sebuah objek mendekati kecepatan cahaya, maka akan terjadi hal-hal ganjil sebagai berikut:

1. Waktu melambat:

Ini disebut dilatasi waktu. Ini diamati tahun 1941 dalam ekperimen partikel atom berkecepatan tinggi yang disebut muon. Ini juga ditunjukkan tahun 1971, ketika jam yang amat sangat akurat, diterbangkan dengan cepat keliling dunia di atas pesawat terbang jet. Setelah dua hari,jam itu berkurang sepersekian detik dibandingkan dengan jam yang sama di permukaan bumi, karena jam itu bergerak lebih cepat.

2. Objek mengecil.

Objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya, akan mengalami pemendekan sesuai arah geraknya. Kalau roket antariksa bisa bergerak dengan separoh kecepatan cahaya, panjangnya akan sekitar enam per tujuh panjang aslinya di landasan luncur. Efek ini sudah diteliti sejak tahun 1890-an.

3. Massa objek bertambah.

Ini artinya objek akan bertambah berat. Ini sudah diperlihatkan berulang kali dengan eksperimen partikel yang bergerak dengan kecepatan tinggi seperti elektron. Dari ide inilah Eistein mengembangkan rumus terkenalnya E = mc².

Mungkinkah manusia bisa bergerak secepat cahaya? Seiring bertambahnya massa orang tersebut, maka gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya bergerak lebih cepat lagi juga terus bertambah. Pada hampir kecepatan cahaya, massa akan begitu besar sampai gaya yang dibutuhkan untuk memberikan dorongan ekstra itu akan sangat besar sampai mustahil. Akibatnya kecepatan cahaya tidak akan benar-benar tercapai.

Dalam A Brief History of Time-nya, fisikawan Stephen Hawking dengan merendah mengatakan seluruh model jagat raya kontemporer yang dibangun oleh para fisikawan/astrofisikawan masa kini (termasuk dirinya, Roger Penrose, Bekenstein, Carl Sagan dll) berdasarkan pada asumsi bahwa Relativitas Umum dan Mekanika Kuantum itu benar. Dari statemen ini memang terbuka peluang bahwa mungkin saja baik Relativitas Umum ataupun Mekanika Kuantum itu “tidak benar”.

Namun jika kita merujuk pada fakta-fakta yang ada di jagat raya ini, kita fokuskan ke Relativitas Umum, ada sangat banyak fenomena yang menunjukkan kesahihan teori ini. Tak perlu jauh-jauh melangkah ke lubang hitam alias black hole, fenomena itu merentang mulai dari yang paling sederhana seperti langit malam yang tetap gelap padahal kita tahu ada milyaran bintang yang selalu bersinar di sana (paradoks Olber), presesi perihelion Merkurius (dimana titik perihelion planet ini selalu bergeser dalam tiap revolusinya, yang secara akumulatif mencapai 43 detik busur per abad), pembengkokan lintasan cahaya dan gelombang radar di dekat Matahari seperti ditunjukkan dalam Gerhana Matahari maupun pemuluran waktu tunda gema radar dari oposisi Venus, hingga melimpahnya foton gelombang mikro bersuhu amat rendah (2,725 K) yang tersebar homogen di segenap penjuru jagat raya tanpa terkait dengan kumpulan galaksi maupun bintang-bintang, foton yang kita kenal sebagai cosmic microwave background radiation.

Dengan bekal kesahihan Relativitas Umum ini (dan juga kesahihan Mekanika Kuantum) kita sekarang bisa memperkirakan dengan ketelitian tinggi bagaimana dinamika jagat raya kita sejak ‘bayi’ hingga sekarang.

Relativitas Umum menunjukkan bahwa jagat raya kita ini terdiri dari empat dimensi, dengan tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu (dalam sumbu imajiner) yang saling mempengaruhi sehingga membentuk entitas baru yang disebut ruang-waktu (spacetime), dimana disini tak ada lagi waktu mutlak karena waktu sepenuhnya bergantung kepada ruang, dan sifat ruang-waktu sepenuhnya bergantung kepada distribusi massa yang ada didalamnya. Sehingga sifat ruang-waktu di Bumi misalnya, jelas berbeda dengan ruang-waktu di Matahari ataupun bintang maharaksasa merah Antares tetangga kita, apalagi dengan bintang neutron dalam inti Crab Nebulae.

Hawking menggambarkan ruang-waktu dalam jagat raya kita sebagai melengkung mirip gelembung balon, dengan permukaan balon sebagai ruang-waktu dan disinilah tempat kedudukan galaksi dan bintang-bintang. Seberapa besar dimensi jagat raya? Besarnya ~1025 meter (13,7 milyar tahun cahaya). Dalam tiap meter kubik jagat raya terdapat 400 juta foton namun ‘hanya’ ada 0,4 nukleon (nukleon = proton + neutron, penyusun atom-atom termasuk yang menyusun tubuh manusia). Cahaya, demikian pula foton pada spektrum elektromagnetik lainnya, hanya bisa bergerak pada permukaan gelembung ini meski tetap saja bisa menemukan jarak terpendek untuk menempuh titik-titik yang terpisah jauh (ini lebih mudah dipahami jika kita mempelajari trigonometri segitiga bola).

Namun, Subhanallah, struktur yang luar biasa besarnya ini tidaklah statis. Ia terus mengembang, dan jika diproyeksikan jauh ke masa silam (tepatnya ke 13,7 milyar tahun silam), kita mengetahui saat itu jagat raya hanyalah berbentuk titik berdimensi ~10-35 meter dengan densitas 1096 kg/m3 dan bersuhu 1032 K. Inilah titik singularitas dentuman besar (alias big bang), awal lahirnya sang waktu. Apa isinya? Campuran quark dan lepton, partikel-partikel elementer penyusun nukleon, yang secara kasar bisa disebut “plasma” atau “asap” (bandingkan dengan Q.S. Fushshilat : 11). Dari titik awal ini jagat raya dengan cepat mengembang hingga pada 1 detik pertama saja dimensinya telah 10 tahun cahaya dan quark-quark didalamnya telah mulai membentuk nukleon. Dalam 3 – 20 menit pasca big bang, nukleon-nukleon mulai bereaksi membentuk Detron (inti Deuterium), Helium dan sebagainya sehingga komposisi jagat raya terdiri dari 75 % Hidrogen dan 24 % Helium, yang masih bertahan hingga kini. Namun dibutuhkan waktu 300.000 tahun pasca big bang hingga jagat raya ini benar-benar dingin sehingga proton bisa bergabung dengan elektron membentuk atom Hidrogen, demikian pula detron bergabung dengan elektron membentuk atom Deuterium dan sebagainya, tanpa terpecahkan kembali oleh foton (note : menariknya, coba bandingkan angka 300.000 tahun ini dengan Q.S. al-Ma’aarij : 4 dan Q.S. as-Sajdah : 4  secara bersama-sama).

Tafsir Ayat Isra’ Mi’raj

Ayat Isra’ Mi’raj yang sering kita dengar adalah :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya847 agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

1. Subhana = diartikan Maha Suci. Tetapi yg pas bisa kita pakai arti Maha Penggerak atau Maha Dinamis. Subhana bisa juga berasal dari kata ‘sabaha‘ artinya berenang. Mashdar lainnya adalah Tasbih, yang berarti gerak yang dinamis. Hakekat dari seluruh materi di alam semesta ini adalah bergerak, ber-rotasi dan ber-revolusi. Salah tiga dari materi alam semesta adalah Matahari, Bumi dan Rembulan. Rembulan atau Bulan ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Bumi. Bumi ber-rotasi dan ber-revolusi kepada Matahari. Matahari ber-rotasi dan ber-revolusi kepada pusat Bimasakti. Dan begitu seterusnya…

Jadi peristiwa Isra’ wal Mi’raj adalah fenomena pergerakan dan sangat dinamis, bukan sekedar aktifitas statis.

2. Asra = memperjalankan. Kata ini bentuk transitif (muta’addiy) dari kata saraa = berjalan. Di sini jelas bahwa Alloh Yang Maha Dinamis yang menentukan gerak dan diamnya, atau berjalan dan berhentinya hamba-Nya yakni Rasulullah SAW.

Jadi peristiwa Isr’a wal Mi’raj merupakan kehendak aktif Alloh SWT.

Berapa jauhnya perjalanan?
Secara manusiawi, jarak tempuh Isra’ adalah :
Mekkah – Palestina, sekitar 1.200 km. Selanjutnya, perjalanan Mi’raj seperti dijelaskan dalam surat An-Najm yang terbagi dalam dua tahap:

tahap 1: Gelombang ke Partikel
Ayat 1-11 surat An-Najm, menjelaskan perihal transfer dimensi dari Jibril kepada Rasululloh SAW yakni transfer dimensi cahaya kepada dimensi suara.

tahap 2: Partikel ke Geombang
Selanjutnya ayat ke 12 – 17 surat An-Najm, adalah menjabarkan praktikum Rasululloh SAW untuk melakukan transfer balik dari dimensi suara atau partikel menuju ke dimensi cahaya atau ‘gelombang elektromagnetik’.

Dan perjalanan saat itu tidak mengenal lagi hukum fisika. Dimensi waktu telah terlampuai. Jangkauan Rasululloh SAW seperti dikupas Pak Agus Musthofa dalam buku2nya, pandangan Rasululloh mampu mencakup semua dimensi di bawah layer malaikat.

Kalau Mi’raj, maka secara masnusiawi Rasul SAW akan lepas dari Bumi. Dan lebar Bumi sekitar 12.700 km;
Lalu, kita manusia akan membayangkan, Rasul SAW lepas dari Tata Surya kita. Dan lebarnya 9 milyar km.

Berikutnya lepas Tata Surya masih harus lepas dari Galaksi kita yang panjangnya;

Selengkapnya Tour de universe ada di [ Cosmic Distance Scales ]

3. ‘Abdihi = hamba-Nya. Hamba adalah lemah, hamba adalah tidak berdaya. Di sini jelas, bahwa isra’ wal Mi’raj itu bukan kemauan Rasulullah SAW, karena beliau sebagai hamba yang hanya bergantung atas kehendak Alloh SWT dalam melakukan perjalannya.

Jadi dalam Isr’a wal Mi’raj, Rasululloh SAW tidak berjalan sendiri, tetapi di’bantu’ Alloh dalam melakukan perjalanan itu.

4. Lailan = Malam hari. Malam adalah simbol kebalikan dari siang. Dua istilah yang sangat erat dengan konsep waktu. Mengapa harus malam.?

Malam memiliki keheningan, malam menyibakkan kegelapan, yang merupakan arah dari pandangan mata yang tidak pernah akan berujung. Dan perjalanan Isra’ wal Mi’raj adalah perjalanan Rasul SAW yang tidak mampu dijejaki ujung finalnya. Alam semesta nan luas …

5. Masjidil Haram-Masjidil Aqsha = Dua starting point yang diberkahi. Dua lokasi yang dipilih Alloh dengan titik koordinat yang terpisah antara batas utara pergerakan tahunan Matahari. Dua lokasi sebagai kiblat pertama dan terakhir. Dan inilah tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Kalau kita mau berfikir.

Epilog

Begitu dahsyat peristiwa Isra Mi’raj hingga meninggalkan kesan mendalam untuk seluruh umat manusia hingga kini. Namun, dari tafsiran yang telah dipaparkan di atas, sekira dengan obat sebagai penawar penyakit, begitu pun hikmah perjalanan ini sebagai ikhtiar pembangun jiwa-jiwa yang sedang kebingungan, atau malah ‘mati’ dalam kebingungan.

Siapa pun ia jika mengira akal adalah Tuhan yang patut disembah, sains adalah Maha Guru tertinggi yang patut dipuji, maka ia bagai berada dalam dimensi yang terus memenjaranya untuk tidak menemukan kebenaran hakiki. Sebab, Kant pernah berkata (dalam avant propos Capra, 2000:xxii), bahwa ia secara meyakinkan dan sudah membuktikan jika nalar teoritis sama sekali tak mampu menangkap kebenaran metafisika. Dengan kata lain, sains tak bisa membuktikan Tuhan ada, juga tidak bisa membuktikan Tuhan tidak ada. Dengan ini, Kant sebenarnya hendak membatasi ekspansi sains, menyisakan ruang bagi iman.

Banyak tafsiran yang diutarakan para ulama terkait berita kontroversial ini. Namun, perlu menjadi catatan bahwa terlepas dari semua tafsiran: aqidah, sains, bahkan tasawuf sekalipun, ia ‘menggenjot’ penyemangat jiwa. Sebab Muhammad mampu ‘berlari’ menjadi hamba yang Insan Kamil untuk melesat menuju Tuhannya. Ia membuka diri untuk disesuaikan dan direkonstruksi demi menyempurnakan panggilan spesial Tuhannya.

Bukan saja Muhammad yang bisa ‘berlari menuju Tuhannya. Anda, saudara, dan kita semua bisa ‘berlari’ mengejar hakikat kecintaan kepada Tuhan. Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan pergi menuju tuhan dengan cara berjalan lanjut Kang Jalal (2008:69). Kita harus ‘berlari’ sebelum waktu kita di dunia habis dan berakhir. ‘Berlari’ dari segala yang menarik perhatian kita, menuju kepada yang satu, Allah. Sebab, “Barangsiapa yang mendekati Allah sesiku, Dia akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekati Allah sambil berjalan, Dia akan menyambutnya sambil berlari” (HR. Ahmad dan Thabrani). Jika begitu, bagaimana jika kita menuju-Nya dengan ‘berlari’, seberapa dekatkah Ia kepada hamba-Nya.

Kenyataan ini menuntun kita pada adanya evolusi dari hal yang sifatnya material menuju hal yang immaterial. Membimbing kita untuk Mi’raj atau pendakian menuju tahap demi tahap hingga sampai ke hakikat kecintaan kepada-Nya. Keberadaan hierarki dan proses pendakiannya yang merupakan ajaran tarekat yang dicontohkan Plotinus sebagai tokoh madzhab neoplatonisme (Purwanto, 2008:383). Menurutnya semua berasal dari Yang Satu atau to Hen dan semuanya berhasrat untuk kembali kepada Yang Satu. Manusia dapat melaksanakan pengembalian kepada Yang Satu dengan upaya menempuh tahap demi tahap, hingga akhirnya mampu ‘berlari’ menembus penyatuan dengan Yang Satu, atau dalam istilah Plotinus disebut ekstasis.

Overall, maka bersegeralah ‘berlari’ untuk Mi’raj menuju Tuhan. Sebab Ia telah berfirman: “Oleh karena itu, bersegeralah berlari kembali menuju Allah” (QS.Al dzariyat:50). Mi’raj untuk menembus batas-batas kekotoran sifat manusia, menjemput Cahaya Ke-Tuhanan yang hanya diberikan bagi mereka yang spesial. Mereka yang berhasil menjadi pengikut Muhammad yang tidah hanya mengagumi dalam decak kagum tanpa penghayatan, tetapi penghayatan dalam pengamalan yang ikhlas.

Perjalanan yang ditempuh dari pecinta menuju yang dicintainya, hingga keadaan ini berada dalam vakum penyatuan. Cerminan penyatuan itu tertuang dalam sebuah hadits qudsi: “Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan melakukan ibadah-ibadah nawafil, hingga Aku mencintainya. Kalau Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan melindungi dirinya” (HR. Bukhari).

Daftar Pustaka

Al Quran dan terjemahnya.

Agus Mustofa, 2006, Terpesona di Sidratul Muntaha, Surabaya, Padma.

, 2008, Pusaran Energi Kabah, Surabaya, Padma.

Agus Purwanto, 2008, Ayat-ayat Semesta, Bandung, Mizan Media Utama.

Ahmad Fuad Pasya, 2004, Dimensi Sains Al Quran, Solo, Tiga Serangkai.

Bahaudin Mudhary, 1996, Setetes Rahasia Alam Tuhan, Surabaya, Pustaka Metafisika.

Fritjrof Capra, 2000, The Tao of Physics, Yogyakarta, Jalasutra.

Jalaluddin Rakhmat, 2008, The Road to Allah, Bandung, Mizan Media Utama.

M. Quraish Shihab, 1993, Membumikan Al Quran, Bandung, Mizan.

Syekh Yusuf al-Hajj Ahmad, 2006, Al Quran Kitab Sains dan Media, Jakarta, Grafindo.

Sumber :

1. http://istanakata.wordpress.com

2. http://belajarmengajar.blogspot.com

3. http://pakarfisika.wordpress.com

About these ads

Aksi

Information

34 tanggapan

17 06 2010
mai

SUBHANALLAH…

23 09 2010
wongcilik

ckckckck……ckckckck……..betapa bodohnya orang-orang yang mau diperdaya oleh sebuah kebohongan belaka. Buka mata buka hati…lihat fakta yang ada……bagi saya lebih baik jadi orang bodoh yang dibodohin daripada jadi jadi orang pintar yang dibodohin.

2 12 2010
biasa

hati2 dalam membawa ajaran agama ke ranah sains. dari paparan di atas, akan sangat mudah untuk dibantah. dari persoalan hati muhammad, hingga kecepatan buroq. jika mau dibawa ke disiplin ilmu pengetahuan yang benar, paparan diatas cuma jadi lelucon. salam

13 12 2010
smayani

Trims atas komentarnya

@ Wong cilik : kalua Anda Muslim, pasti Anda akan beriman atas peristiwa Isro’ Mi’roj

@ Biasa : Terima kasih atas masukkannya. Perlu kita ketahui, bahwa peristiwa Isro’ Mi’roj merupakan peristiwa super luar biasa sekali, didalamnya ada campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Artikel ini mencoba menjelaskan berdasarkan teori-teori yang telah dikenal umat manusia, terutama teori fisika kuantum. Secara nalar, kecepatan buroq menurut kami pribadi sangat lebih cepat dibandingkan cahaya. Perlu kita ketahui, Alpha Centauri adalah sistem bintang terdekat dari tata surya kita, dengan jarak 4,2 sampai 4,4 tahun cahaya. (WIkipedia). Padahal Nabi menumpuh gugusan galaksi menembus sampai langit tujuh hanya dalam waktu satu malam. Jelas disini, kecepatan Buroq supercepat dibanding cahaya.
Persoalan pembedahan hati Nabi Muhammad, mohon jangan disalahartikan hati biologis. Bisa saja itu pengertian yang lain, dan perlu diketahui pembedah disini adalah Malaikat Jibril dan Mikail dengan tugas khusus dan sudah diberi kemampuan khusus pula oleh Allah SWT.
Kami beriman atas peristiwa ini, walau ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini belum mampu menjangkaunya.

Semoga artikel ini mampu membuka pengetahuan kita untuk menguak misteri dibalik Isro’ Mi’roj.

27 01 2011
Muluk

Perjalanan isra’ mi’raj itu bukan perjalanan diri jasmani tuan, tapi perjalanan ilmu. Dalam perjalanan itu, Muhammad menjalani alam bumi dengan ilmu jasmani, itulah ilmu fiqih, menjalani alam langit (tujuh lapis langit) dengan ilmu rohani, itulah ilmu shuluddin, dan menjalani alam nur (70.000 lapis nur) dengan ilmu nurani, itulah ilmu tasawuf. Jangan kita menghayalkan Muhammad berjalan naik ke atas dan menjumpai diri tuhan! sekali lagi saya tekankan, bahwa yg berjalan itu bukan diri, tapi ilmu.

28 01 2011
wongbodho

@ Muluk : ada sebuah cerita yang bisa kita jadikan ibroh, ada seekor semut merah bercerita kepada kelompoknya. Katanya dia telah bepergian dari pulau Jawa ke Amerika hanya menempuh beberapa jam saja. Semua teman-temannya tidak percaya, karena menurut semua bangsa semut hal tersebut mustahil.

Tapi, si semut merah berujar, bahwa dia terbawa oleh si pilot yang mengendarai pesawat terbang sehingga bisa mencapai Amerika dengan waktu beberapa jam saja.

Nabi Muhammad merupakan hamba terkasih dari Allah SWT yang DIPERJALANKAN oleh Allah SWT. Jadi tak ada yang tak mungkin bagi Allah, karena Allah Maha Kuasa melakukan apapun. Dalam pandangan manusia, mungkin Isro’Mi’roj merupakan peristiwa yang mustahil jika jasad manusia bisa menempuh perjalanan tersebut. Tapi perlu diingat, bahwa Nabi di ISRO-MI’ROJkan oleh Dzat Yang Maha Kuasa.

2 04 2011
ardi

asskum..
ma’af ikut koment
bismillah…
semoga kalian orang yang mengaku islam tidak membatasi kemampuan ALLAH SWT..
bagi mereka yang tidak percaya kalau Allah adalah Dzat Maha,, diatas segala sesuatu
mohon untuk istighfar..??? daya tampung otak kita teramat jauh tidak sebanding dengan ilmu Allah,, kalau butuh bukti insya allah Allah sendiri kelak yang akan memberikan bukti peristiwa itu..
..merasa benar dalam perspektif pikiran kita yang belum benar ( masih membatasi ke MAHA an ALLAH SWT ) tentang tauhid.. astaghfirullah…
terima kasih atas kesempatan ini semoga Allah memberikan hidayah kpd kita semua, amiin
asskum,

24 06 2011
koki_kiko

@ untuk yg gak percya….gak usah mrovokasi, urus kalian sdri aja, jgn sok tau & pinter….kayak Monyet tuh. Monyet ngurusi dirinya sdri.
@ u/ yg percaya >>> tingakatkan iman kalian & evaluasi diri sdri’ apa kita sdh jalankan perintahNya?
Ok….

28 07 2011
Rm

Salam..
waw. . . . . Pnjelasan yg panjang X lebar X tinggi = LUAS…!
LUAS jagad smua mlik Allah dn hak manusia utk ngublek2′y,,
jika kita ngrasa ga tau, wajib kita nyari tau,, hsil’y nongol deh ilmu…
Maka dari itu, kaji terus ilmu2 yg da agr bsa trungkap ilmu2 yg baru,,
entah benar ga’y pnjlasn tadi, kita manusia yg sangat..1000X sedikit ilmu… Jangn angkuh dngan ilmu yg cuma secuil. smoga dngan usaha kita mencari ilmu diberkahi Allah…
Amin,,
wasalam..

29 09 2011
alphard cooper

Saya percaya dalam keimanan dan saya percaya bahwa ini dapat dijelaskan secara ilmiah seperti dapat dijelaskan secara ilmiahnya terbelahnya laut merah, berpindahnya singgasana ratu bilqis oleh seorang manusia yang mempunyai ilmu dari al kitab karena ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lumpuh. orang yang tidak mempercayai hal tersebut adalah orang yang sampai sekarang tidak percaya bahwa manusia bisa membuat pesawat terbang bahkan bisa sampai ke bulan.

29 12 2011
scriptwizard

teori yang masuk akal, selama ini kita hanya bisa menerima tanpa mau menganalisa, sudah saatnya kita berpikir logis, dengan mengkaitkan agama dengan sains

7 02 2012
eddie welekk

percaya,tapi itu melalui mimpi,bukan ilmiah,,mustahil kalau logika,kita sendiri kalau mimpipun juga bisa,karena sama sama kehendak tuhan,walau baik ataupun buruk,salah ataupun benar,siang ataupun malam

20 04 2012
akq

kalau anda tidak mampu jagn iri/dengki pada saudara kita yang bisa berfikir

27 04 2012
Samad Suhari

ya Allah ampuni kami, assalamualaika ya rosululloh.. aku rindu sekali padamu.

2 06 2012
Hikmah Terjadinya Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW « saripedia.com

[...] http://www.pesantrenvirtual.com https://smayani.wordpress.com Share this:FacebookTwitterLinkedInEmailPrintLike this:LikeBe the first to like this post. [...]

18 06 2012
Hanya hary semata

Asalamu’alaikum wr wb,…..terimakasih kepada penulis dan rekan2 komentator sekalian atas tambahan ilmu dari ungkapan pikiran dan hati kalian semua, mohon maaf kalau sy tak mampu mengomentari karna keterbatasan berpikir saya, sy hanya mampu mendengarkan,…mohon doanya supaya sy dpt mengamalkan melalui perbuatan saya,.amin…Wasalam..

19 06 2012
Arusghie

Saya percaya dan meyakini peritiwa isro’ mi’raj nabi Muhammad saw secara mutlak
dan paparan diatas semakin meyakinkan saya bahwa Allah Maha Segalanya, tidak ada yang mustahil bagi Dia..

4 07 2012
akiadnani

Ass. Wr. Wb. Kita terbiasa hanya bicara hanya satu kalimat saja. Padahal surat Isra ayat 1 itu, memiliki beberapa rangkaian anak kalimat. Perhatikan: I. Dzat Yang Mahasuci telah memerjalankan seorang hambaNya di malam hari dari Masjilharam ke Masjidil Aqsha. II Yang telah Kami berkahi sekelilingnya. III. Untuk memperlihatkan (kepada)nya (Muhammad) sebagaian ayat-ayat Kami. IV. Sungguh Dia (Allah) Mahamendengar (lagi) Mahamelihat. Pada kalimat I, sudah menjadi kalimat sempurna dan mudah dipahami, meskipun pada prakteknya justru inilah yang menjadi perdebatan itu. Lantaran perjalanan Rasulullah lepas diperjalankan(kalmat mutaadiy) atau berjalan sendiri (kalimat lazim) sebagai manusia yang juga berlaku hukum-kemanusiaanya (terdiri dari materi, ruang dan waktu), inilah yang menyulut pertanyaan besar. Baik pada zamannya dahulu ataupun zaman kini. Apa lagi zaman sekarang diketemukan hukum gravitsi atau percepatan, bahkan sudah jelas bahwa sesuatu yang memiliki kecepatan tertinggi adalah foton (molekul cahaya). Andaikan waktu isra mi’raj itu sudah diketemukan pesawat jet, tak anehlah bisa terbang kemanapun asal sesuai dgn tujuan kapal terbang tsb. Waktu itu (zaman Rasulullah & para sahabat) jangankan pesawat jet, bikin sumur pompa atau dragon-pun belum dikenal. Coba kaji ulang (surat Isra juga) ayat 90 hingga ayat 93. Pada ayat 93, agar mereka, orang kafir, mengimani karasulan Muhammad SAW. meminta agar Rasulullah naik ke langit. Lalu Allah menolong nya untuk menjawab permintaan sebanyak tujuh macam itu: “BUKANKAH AKU INI SEBATAS MANUSIA SEBAGAIMANA ANDA-ANDA, hanya saja aku mendapat bisikan (wahyu dari Allah)”. Artinya, agar Muhammad membuat mata air, memiliki kebun lengkap dan sistem pengairannya, pecahkan langit berkeping-keping, datangkan Allah dan Malaikat hingga berhadapan dengan mereka, miliklah rumah dari emas atau TARQA FISSAMAA-I= TERBANG KELANGIT, LANTAS PULANG NYA BAWA OLEH-OLEH, KITAB YANG AKAN MEREKA BACA RAME-RAME, semuanya kandas alias tidak bisa dilaksanakan. Ini argumentasi Alquran. Apa lebih ngandel kepada argumentasinya Annas bin Malik, turun ke Ibnu Syihab, turun ke Yunuus, terus ke Al Laytsu, terus masih turun lagi ke Yahya bin Bukair, kemudin ditangkep (dicatat) oleh Imam Bukhari. Nah ini baru kish mi’rajnya. Belum lagi kisah Isra-nya atau kisah Isra sekaligus mi’raj. Ilmuwan hanya boleh ngoceh pada disiplin ilmunya. Kalau mau tahu benaratau salahnya tentang kisah itu, pakailah pembanding yang mutlak benar dan silahkan sanggah kalau mampu, yakni ALQURANUL KARIIM Ini baru komen kalimat ke I (satu). Lalu dalam kalimat kedua boleh Anda jawab, Yang telah Allah berkahi sekelilingnya itu apa atau siapa? Belum lagi kalimat yang ke III, ayat-ayat mana yang ingin Allah perlihatkan kepada Muhammad Al Mustafa SAW itu?. Kegagalan ummat Islam, termasuk ulamanya, lantaran beralquran kagak lengkap. Boro-boro satu surah (Al Isra sebanyak SERATUS SEBELAS ayat, apa lagi satu Alquran, satu ayat QS17:1 sajapun kagak tuntas. Tuan Penulis blog yang saintis ini, ngaji Alquran dulu. Mari kita sharing. Ana tunggu. 08158863049. Wassalam

25 07 2012
ifan malah

semoga saja ini bersifat sharing, bukan debat. :)

4 08 2012
satria aswaja

Menanggapi komentar Akiadnani :

Artikel ini membahas Isra’ Mi’raj dalam tinjauan sains dan tafsir. Silahkan aki baca dengan seksama. Artikel ini berusaha menjelaskan dengan teori fisika terkini, komentar-komentar diatas juga sebaiknya di baca agar tidak salah paham.

Komentar sodara Aki seolah tidak percaya bahwa Nani Muhammad menjalani peristiwa Isro’ Mi’roj dengan membenturkan ayat satu dengan lainnya. Sebaiknya sodara Aki melihat konteks masing-masing ayat. Surat Al-Isra ayat 90 -93 menjelaskan mengenai bagaimana sikap orang kafir yang tetap tidak akan beriman karena hatinya sudah dibutakan oleh Allah.

Dalam kerangka upaya orang-orang musyrik membendung dakwah Nabi, mereka menuntut beliau agar menunjukkan mukjizat yang bersifat fisik-material. Mereka, misalnya, menginginkan agar gang-gang kota Makkah berubah menjadi sungai; gunung-gunung menjadi taman-taman yang indah; dan tanah-tanah yang subur ditumbuhi pohon dengan buah-buahan yang mudah dipetik.

Tuntutan yang mereka ajukan kepada Nabi itu semata akibat hati yang buta. Sebab mereka justru berpaling dari mukjizat yang terdapat dalam Al-Qur’an, berupa sistem aqidah, manhaj, moral dan sebagainya. Andai tujuan mereka adalah kebenaran, niscaya mukjizat Al-Qur’an yang bervariasi itu telah sangat memadai bagi mereka.(Lihat: Abdurrahman al-Sa’di, Tafsir al-Karim al-Rahman, h. 466-467)

Akan tetapi, sebaliknya yang terjadi. Mereka menolak kebenaran sejati. “Dan mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.’ Katakanlah: ‘Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. al-Isra/17: 90-93)

Penting diingat kembali bahwa mukjizat berupa keluarbiasaan secara fisik-material tidak akan pernah memberi dampak hidayah kepada jiwa yang pada dasarnya sakit. Sebab, andai demikian halnya, niscaya Bani Israil telah menjadi manusia-manusia yang paling beriman. Nabi Musa pada zamannya telah menunjukkan kepada Bani Israil demikian banyak mukjizat. Namun mereka tetap membangkang dan tidak mau menerima kebenaran.

Ingatlah ancaman Allah SWT dalam surat Al-Isra pula, yaitu ayat 97 :

وَمَن يَہۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِ‌ۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُمۡ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِهِۦ‌ۖ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيً۬ا وَبُكۡمً۬ا وَصُمًّ۬ا‌ۖ مَّأۡوَٮٰهُمۡ جَهَنَّمُ‌ۖ ڪُلَّمَا خَبَتۡ زِدۡنَـٰهُمۡ سَعِيرً۬ا (٩٧)

“Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan Barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat [diseret] atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya” (Al-Isra : 97)

Pernyataanmu :

1. “Apa lebih ngandel kepada argumentasinya Annas bin Malik, turun ke Ibnu Syihab, turun ke Yunuus, terus ke Al Laytsu, terus masih turun lagi ke Yahya bin Bukair, kemudin ditangkep (dicatat) oleh Imam Bukhari.”

Sungguh engkau telah melecehkan Sahabat, Tabi’in dan para muhadditsin yang sudah diakui ummat Islam. Apakah engkau berani mengingkari semua hadits mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj ?

2.. “Kegagalan ummat Islam, termasuk ulamanya, lantaran beralquran kagak lengkap. Boro-boro satu surah (Al Isra sebanyak SERATUS SEBELAS ayat, apa lagi satu Alquran, satu ayat QS17:1 sajapun kagak tuntas.”

Pernyaanmu ini akan menjadi bukti besok di akhirat. Engkau seolah merasa alim sejagat, merasa paling tahu mengenai Al-Qur’an dan melecehkan para mufassirin (ahli tafsir Qur’an) dan muhadditsin (ahli hadits).

Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus kepada kita semua.
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ
amiin

13 08 2012
musafir

Perbedaan itu adalah rahmat, perbedaan pemahaman akan menjadi rahmat apabila kita saling menghargai dan saling menghormati satu sm lainnya. namun sebaliknya, perbedaan akan menjadi laknat bila satu sama lain mengultuskan hawa nafsu bahwa pendaptnyalah PALING BENAR. Hanyalah Alloh yang paling benar, kita hanya diberikan kemampuan yang berbeda2 satu sama lainnya. maka dari itu marilah kita menghormati pendapat satu sm lainnya.

Bertaqwalah sesuai kemampuan.
Salam.

26 09 2012
Pradito

Saya heran dengan komentator yang kontra dengan tulisan ini. Tentulah Isra Mi Raj ini sebuah peristiwa yang bisa dikaji dari banyak sisi. Tulisan ini tidak mungkin akan menggambarkan semua tinjauan sisi peristiwa itu dengan komplit 100%. Kita bisa mengambil tulisan ini sebagai pelengkap pengetahuan kita, minimal sebagai wacana, kalau kita tidak paham dengan maksud yang dimau oleh penulis blog ini. Kenapa harus menonjolkan pertentangan dengan yang Anda pahami secara pribadi. Untuk penulis blog ini, salut! Ditunggu tulisan lainnya.

29 10 2012
m.ikhwan

Subhaanallah, ALLAH SWT yg patut di sembah. Sadar sebagai makhluk ciptaannya yg hanya memiliki ilmu setetes air di lautan

7 11 2012
dintaharara

Sy Setuju sengan MULUK,, Bahwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan ilmu. dan gak usah membuat analisa ke ranah sains untuk validasi isra’ mi’raj. Bagi saya Agama adalah demonstrasi kredibilitas para nabi. ketika metode lama (agama lama) tidak bisa menjelaskan konsep ketuhanan yang lebih komprehensif, muncul metode baru (agama baru) tentang konsep ketuhanan yang dianggap lebih baik. ketika ada riwayat yang dibungkus oleh agama, nabi membelah lautan, dan contoh lain yang sangat sektakuler, sebagai makhluk beragama kita WAJIB (pecaya ???). Dan kira2 TUHAN siapa yang lebih hebat, tuhan umat KRISTEN, BUDHA, HINDU, YAHUDI, BUDHA, ISLAM, ZEUS, atau 1 juta TUHAN lainnya yang sudah ter-nomenklatur dari dulu hingga sekarang???? dan kemudian apa produk dari agama??? “Kitab suci”. Kitab suci, dasarnya keyakinan, ga mau di-debat, terbitan siapa, kita juga ga tahu tapi nurut. beda dengan SIANS, dasarnya adalah hipotesa dan temuan pembuktian, tak ada tendensi, boleh di-argue.

DAN AKAN SANGAT KONYOL KETIKA ADA PERDEBATAN ANTAR AGAMA…SALING MENCACI, MENGHUJAT, MENCIBIR SATU SAMA LAIN……HARGAI UMAT AGAMA LAIN, DENGAN TIDAK MENCARI KEKURANGAN TENTANG KONSEP AGAMA. TINGGAL DIJALANI DENGAN IMAN MASING2 DAN KITA AKAN DAPAT IMBALAN SESUAI DENGAN APA YANG DIJANJIKAN AGAMA MASING2…

19 11 2012
Cupluk Harry

: )
good answer…..qur an, sains, heart ,is one way…..

25 05 2013
miphz

Penjelasan yg menarik. Pesan saya cuma satu, jangan pisahkan sains dengan agama sampai seolah-olah menjadi dua kutub yg perlu disatukan.

Menurut saya, sains atau bidang ilmu apapun adalah konstruksi yg tidak bisa dipisahkan dengan kekuatan Illahi. Jika pemahaman kita dari awal sudah memandang ini secara parsial, khawatir kedepannya justru menjadi bias.

Saran saya, kaji terus pandangan yg berbeda dari berbagai sumber lain, misal pemahaman dan tafsir ulama yg juga ada perbedaan pendapat tentang isra miraj ini.

Supaya pembahasan menjadi lebih kaya.

Sekian, terimakasih.

Miphz

5 06 2013
Ryan M.

Pemaparan yang bagus. Saya pribadi percaya bahwa Isra Miraj adalah perjalanan fisik nabi Muhammad, bukan perjalanan ilmu ataupun batin. Karena jika bukan perjalanan fisik, pastilah Al-Qur’an tidak akan membahasnya untuk kita jadikan contoh dan motivasi bahwa alam semesta masih memiliki banyak misteri untuk diungkap. Salam!

16 06 2013
Isra Miraj Menurut Sains | Jurnal Darussalam Perumnas Unib

[…] Baca pula link berikut ini disini. […]

18 06 2013
FAIH

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah

shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah

tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah

wa kulli majahid fillah bi ahlil badri ya Allah

Artinya :

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah

Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah

Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah

do moco sholawat ae yo mareng kanjeng Rosululloh SAW monggooooooooooooooooooo

18 06 2013
FAIH

Ayat Isra’ Mi’raj :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

23 07 2013
mr.herry

Saya hamba Allah yang beriman terhadap semua kehandak-Nya, karena Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

5 08 2013
berfikir logis

Saya mengutip pernyataan TS diatas, disebutkan bahwa:

“Lalu, pada abad ke-7 atau sekitar 1400 tahun silam, kita juga mendengar suatu peristiwa maha hebat dari tanah Arab. Persitiwa itu jauh lebih mengagumkan dari satelit ataupun sputik dan benda-benda langit lainnya. Peristiwa itu dinamakan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw. Muhammad tidak saja menembus ruang angkasa di sekitar bulan, bahkan sudah meluncur ke ufuk yang tertinggi , melalui sistem planet, menerobos ruang langit yang luas, berlanjut terus ke gugusan Bintang Bima Sakti, meningkat kemudian mengarungi Semesta Alam hingga sampai di ruang yang dibatasi oleh ruang yang tak terbatas. Kemudian sampailah Rasulullah Muhammad saw pada Ruang yang Mutlak yang dinamakan “Maha Ruang”. Inilah yang disebut “Dan dia Muhammad di ufuk yang tertinggi” (Mudhary, 1996:21).”

Okelah perjalanan yang kita bahas tidak usah kita sampai di gugusan terluar lama semesta, cukup sampai di gugusan terluar galaxi bimasakti saja.
Artinya untuk sampai ke luar gugusan bimasakti atau ujung milky way dibutuhkan sekitar 100 tahun cahaya (=500 triliun mil=805 triliun km). Silahkan cari di kaskus atau google. Kita asumsikan 100 tahun cahaya adalah dengan kecepatan cahaya yang ditembakkan selama 100 tahun atau 3.153.600.000 detik.
Artinya Nabi Muhammad telah menempuh waktu 100 tahun, dan ketika beliau kembali ke bumi okelah beliau mungkin tidak mengalami penuaan karena beliau telah menembus perjalanan waktu, dan oh iya satu lagi untuk mencapai kecepatan cahaya maka benda haruslah bermassa nol. artinya subatomik penyusun intisel akan saling melepaskan ikatan dan tubuh akan terceraiberai menjadi partikel atau debu. Oke kita anggap masalah peleburan tubuh dapat diatasi dengan berlandaskan teori Annihilasi. Silahkan cari artikelnya di google.

Kembali ke persoalan menembus waktu, kita anggap bahwa Nabi Muhammad melakukan perjalanan menembus waktu, artinya setelah nabi kembali ke bumi, bumi telah menua selama 100 tahun tetapi nabi masih tetap seperti ketika beliau berangkat. Namun kenyataannya mengapa setelah peristiwa perjalanan waktu tersebut Nabi masih bertemu dengan para sahabatnya? Mengapa nabi masih kembali ke lingkungan kehidupan normalnya maksudnya masih dengan era jaman waktu yang sama sebelum nabi berangkat? Mengapa Nabi tidak mengalami yang dinamakan “menembus waktu”??

14 10 2013
djoko suryo pratomo

Assalamu’alaikum,perbedaan itu adalah rahmat tuhan,saya teringat sebuah riwayat ketika nabi Muhammad SAW kita disuruh oleh jibril yang dirahmati Allah,untuk membaca,nabi berkata “saya tidak bisa membaca!”..
intisari dari riwayat tersebut adalah :
1 .kalam Allah =ilmu Allah,adalah nur yang bersemayam di hati.
2 .mempelajari kalam Allah harus memakai hati yang bersih.
3 .nabi Muhammad SAW ketika itu berkata :”saya tidak bisa membaca !”.hal ini menunjukkan kekeliruan nabi dalam memahami ilmu allah(Disini tuhan berkehendak menunjukkan kepada manusia bahwa nabi itu juga manusia biasa ),malaikat menganjurkan kepada nabi untuk memahami sesuatu dengan hati,bukannya dengan fikiran/otak.
4 .pemahaman dengan fikiran adalah ilusi/kayalan.fatamorgana/omong kosong.buktinya sangat banyak .bila saya sebutkan anda akan tercengang.
5 .pemahaman dengan hati adalah sesuatu yang diberkati.walaupun ada perbedaan pada hakikatnya adalah sama.mengapa ?perbedaan tersebut tergantung tingkatan spiritual seseorang.
6 .kesalahan terbesar umat manusia adalah memisahkan antara agama,ilmu,dan masalah sosial.
7 .sebelum mempelajari alam semesta mari bersama sama kita pelajari diri kita dahulu,mustahil kita mengerti alam semesta,kalau pribadi kita yang paling dekat saja tidak mengerti,apalagi menggunakanya.
8 .setelah itu kita pelajari : 1.syahadat [menyaksikan segala sesuatu dengan ilmu/nur], 2 .sholat [mengerjakan sesuatu dengan ilmu/nur], 3 .puasa [menahan sesuatu aktifitas karena ilmu/nur] 4 . zakat [berbagi pemahaman/ilmu/nur] 5 .haji [meninggalkan sesuatu dengan kekuatan ilmu/nur menuju kearah yang lebih utama.
9 .Mohon maaf tulisan saya terlalu panjang,karena saya baru mengamalkan penjelasan butir ke-8,urutan ke-4 [zakat].mudah mudahan diterima Allah SWT sehingga menjadi bekal saya seperti pada butir ke-8 urutan ke-5,Amin.
10 .tulisan saya boleh dikritik habis habisan.tetapi kebenaran itu hakiki.”wa makaru wamakarullah.wallahu khoirul maakirin ” !.
wa assalamu’alaikum !.

27 12 2013
gundala

ada yang bisa jawab pertanyaan dari @berfikirlogis gk??? point dari masalah dimensi ada di situ tuh??? apa ada dimensi baru juga yang belum diketahui.. sehingga waktu tidak hanya melambat atau mencepat tapi bisa di maju atau mundurkan..?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.