TRY OUT UN KIMIA DENGAN POWERPOINT

7 04 2011

Ujian Nasional 2010/2011 sebentar lagi akan dilaksanakan. Tentunya sekolah, guru dan siswa menyiapkan strategi agar semua siswa dapat lulus dengan memuaskan. Salah satu strategi yaitu mengadakan Try Out Ujian Nasional guna membiasakan siswa mengerjakan soal-soal yang diprediksikan akan keluar dalam ujian nasional.

Banyak pilihan software yang bisa digunakan oleh guru untuk membuat program aplikasi Try Out Ujian Nasioanl yang handal. Salah satu yang biasa saya gunakan adalah dengan software Wondershare Quiz Creator (WQC). Software WQC sangat handal digunakan dalam membuat soal-soal latihan bagi siswa. Bagi teman-teman guru semua, jika menginginkan WQC portable (tidak perlu di instal), silahkan klik unduh disini.

Perlu diketahu, ternyata Powerpoint juga bisa dimanfaatkan dalam membuat latihan soal yang cukup interaktif seperti WQC maupun flash dengan memanfaatkan pemprograman VBA bagi Powerpoint. Bagi teman-teman guru yang sudah terbiasa dengan powerpoint mungkin bisa menambah kemampuannya dengan memanfaatkan VBA.

Berikut ini saya buat contoh Try Out UN Kimia dengan menggunakan powerpoint.

Silahkan download disini

Bagi semuanya yang butuh kumpulan soal Try Out UN KIMIA silahkan unduh disini





LATIHAN UJIAN SEKOLAH MAPEL KIMIA

6 03 2011

Hai kamu-kamu kelas XII IPA, ini ada sedikit bocoran uppsss…. latihan soal ujian sekolah mapel kimia, pelajari ya…siapa tahu besok pas ujian sekolah keluar…he..he

 

 





Apotek, Buah Karya Peradaban Islam

12 08 2009

Peradaban Islam dikenal sebagai perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilimiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obatan sederhana dan campuran.  Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek atau toko obat.

Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk The valuable contributions of Al-Razi (Rhazes) in the history of pharmacy during the Middle Ages, mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. ”Apotek pertama di Baghdad didirikan oleh para apoteker Muslim,” ungkap al-Ghazal.

Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya.  Sejarah mencatat, apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey Chaucer (1342-1400). Ia dikenal sebagai apoteker asal Inggris. Apotek mulai menyebar di Eropa setelah  pada abad ke-15 hingga ke-19 M, praktisi apoteker mulai berkembang di benua itu.

”Umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama,” papar Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  Science in Medievel Islam .  Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal bertajuk  History of Arab, juga mengakui bahawa peradaban Islamlah yang pertama kali mendirikan apotek.

”Selain itu, peradaban Islam juga merupakan pendiri sekolah farmasi pertama,” ungkap K Hitti. Ia juga membuktikan bahwa umat Muslim di era kekhalifahan sebagai pencipta pharmacopoeia yang pertama. Perkembangan ilmu farmasi yang begitu cepat, membuat apotek atau toko-toko obat tumbuh menjamur di kota-kota Islam.

Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. ”Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat,” ungkap Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  Science in Medievel Islam .

Di era kejayaan Islam, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad – kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah – namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib – semacam badan pengawas obat-obatan – mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam.

Perkembangan  ilmu botani dan kimia telah mendorong umat Muslim untuk mengembangkan farmasi.  Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti  Muhammad ibnu Zakariya al-Razi (865-915 M) alias Razes turut mengembangkan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan.  Selain itu, dokter dan ahli farmasi Muslim lainnya  Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M) juga tercatat sebagai saintis perintis dalam bidang distiliasi dan sublimasi.

Tak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama yang mencetuskan  pharmacopoedia. Ia telah menjelaskan beragam jenis obat-obatan  untuk mengobati penyakit. Saintis Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya aoptek di era Islam adalah  al-Biruni (973-1050 M). Sang ilmuwan legendaris Islam itu telah menulis buku farmakologi yang sangat berharga bertajuk  Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan).

Dalam kitabnya itu, al-Biruni menjelaskan secara detail pengetahuan mengenai peralatan untuk pembuatan oba-obatan, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan tentang apotek. Ilmuwan Muslim lainnya, Ibnu Sina  alias Avicenna juga menulis tak kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan tersebut.  Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental  Canon of Medicine.

Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang berdiri serta berkembangnya apotek di dunia Islam adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008-1074). Kedua karya ilmuwan Muslim itu  telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul   De Medicinis universalibus et particularibus dan   Medicamentis simplicibus.

”Kaum Muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat,” papar Turner. Menurut Turner, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan sederet obat herbal yang terbukti berkhasiat untuk kesehatan, seperti, adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan.

Menurut K Hitti, kemajuan peradaban Islam dalam farmasi dan apotek ditopang oleh banyaknya buku dalam bidang farmakologi yang ditulis ilmuwan Muslim. K Hitti mencatat, buku farmakologi pertama di dunia Islam ditulis oleh  Jabir bin Hayyan.  Selain itu, ada pula karya  al-Razi, Ibnu Sina, Tabari dan d Majusi. ”al-Razi dan Ibnu Sina adalah dua dokter yang paling terkemuka di zamannya,” ujar K Hitti.

Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan dari  institusi rumah sakit. Hal itu sama halnya dengan  farmasi dan farmakologi yang juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah.

Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Menurut Howard R Turner, praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan, rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker merupakan profesi yang menopang geliat farmasi di dunia Islam. heri ruslan

Ilmuwan Muslim Penopang Apotek

* Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.

* Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)

Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang mata besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.

* Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M – 857 M)

Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi dan farmakologi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik.Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.

* Abu Hasan ‘Ali bin Sahl Rabban at- Tabari
At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mu’tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya.

Sumber :

http://www.republika.co.id/berita/48652/Apotek_Buah_Karya_Peradaban_Islam





JABIR IBNU HAYYAN, PENEMU ILMU KIMIA

12 08 2009

lmu kimia di kemudian hari berkembang sangat pesat dan dikenal banyak orang. Tapi, hanya sedikit yang tahu siapa sejatinya orang pertama yang menemukan ilmu eksakta tersebut. Adalah Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan (721-815 H), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia tadi.

Lahir di kota peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan. Sementara di Barat ia dikenal dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, meninggal sebagai ‘syuhada’ demi penyebaran ajaran Syi’ah. Jabir kecil menerima pendidikannya dari raja bani Umayyah, Khalid Ibnu Yazid Ibnu Muawiyah, dan imam terkenal, Jakfar Sadiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.

Ditemukannya kimia oleh Jabir ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. “Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia,” tulis sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam History of The Arabs. Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern.

Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Pada masamasa inilah, ia banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru di sekitar kimia. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya itu, sempat beberapa kali ia mengadakan penelitian soal kimia. Namun, penyelidikan secara serius baru ia lakukan setelah umurnya menginjak dewasa.

Dalam penelitiannya itu, Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Jabir mempunyai kebiasaan yang cukup konstruktif mengakhiri uraiannya pada setiap eksperimen. Antara lain dengan penjelasan : “Saya pertamakali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam “.

Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.

Teori Jabir

Pada perkembangan berikutnya, Jabir Ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi.

Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua ‘technique’ kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.

Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran.

Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat.

Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadlu’ dan berkepribadian mengagumkan. “Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar,” tulis Robert Briffault.

Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.

Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai ‘Bapak Ilmu Kimia Modern’ oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karyakarya Jabir Ibnu Hayyan.

Puaskah Jabir ? Tidak ! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.

Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah  (Rongga Dada Kearifan) .

Seluruh karya Jabir Ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfecdonis.

Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: “Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa, keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagianbagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur.”

Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:

  1. Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida,
  2. Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan
  3. Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.

Sampai abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia –termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al Sab’een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester pada 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Sementara buku kedua Kitab Al Sab’een, diterjemahkan oleh Gerard Cremona.

Berikutnya di tahun 1678, ilmuwan Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.

Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). “Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia,” tulis George Sarton. Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas ‘berterima kasih’ padanya.

Sumber : http://rumahislam.com/tokoh/3-ilmuwan/595–jabir-ibnu-hayyan-penemu-ilmu-kimia.html





UJI KUALITATIF UNTUK IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT I DAN II

29 04 2009

 

I.       PENDAHULUAN

Karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan manusia. Karena ia adalah sumber energi utama manusia. Contoh makanan sehari-hari yang mengandung karbohidrat adalah pada tepung, gandum, jagung, beras, kentang, sayur-sayuran dan lain sebagainya.

Karbohidrat adalah polihidroksildehida dan keton polihidroksil atau turunannya. selian itu, ia juga disusun oleh dua sampai delapan monosakarida yang dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum Cn(H2O)n. Rumus itu membuat para ahli kimia zaman dahulu menganggap karbohidrat adalah hidrat dari karbon.  

Penting bagi kita untuk lebih banyak mengetahui tentang karbohidrat beserta reaksi-reaksinya,  karena ia sangat penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Oleh karena itu, tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui cara identifikasi karbohidrat secara kualitatif, membuktikan adanya polisakarida dalam suatu bahan, membuktikan adanya gula pereduksi atau gula inversi, membedakan antara monosakarida dan poliskarida, membuktikan adanya pentosa, membuktikan adanya gula ketosa (fruktosa), membedakan karbohidrat berdasarkan bentuk kristalnya, mengidentifikasi hasil hirolisis pati atau amilum, dan mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa.

 

II.    TINJAUAN PUSTAKA

Teori yang mendasari percobaan ini adalah penambahan asam organik pekat, misalanya HSO4 menyebabakan karbohidrat terhidrolisis menjadi monosakarida. Selanjutnya monosakarida jenis pentosa akan mengalami dehidrasi dengan asam tersebut menjadi furfural, sementara golongan heksisosa menjadi hidroksi-multifurfural. Pereaksi molisch yang terdiri dari a-naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural tersebut membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Uji ini bukan uji spesifik untuk karbohidrat, walaupun hasil reaksi yang negatif menunjukkan bahwa larutan yang diperiksa tidak mengandung karbohidrat. Warna ungu kemrah-merahan menyatakan reaksi positif, sedangka warna hijau adalah negatif.

Untuk kegiatan praktikum kedua, yang mendasari perconaan uji iodium adalah penambahan iodium pada suatu polisakarida akan menyababkan terbentuknya kompleks adsorpsi berwarna spesifik. Amilum atau pati dengan iodium menghasilkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur, glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis bereaksi dengn iodium membentuk warna cerah coklat.

Pada uji benedict, teori yang mendasarinya adalah gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alkalis, menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata.

Ion Cu2+  dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Hal inilah yang mendasari uji Barfoed.

Pada uji bial, dasar dari percobaannya adalah dehidrasi pentosa oleh HCl pekat menghasilkan furfural dengan penambahan orsinol (3.5-dihidroksi toluena) akan berkondesasi membentuk senyawa kompleks berwarna biru.

Sedangkan dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural dengan penambahan resorsinol akan mengalami kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah jingga menjadi dasar dari uji Seliwanoff.

Pada uji Osazon, yang mendasarinya adalah pemanasan karbohidrat yang memiliki gugus aldehida atao keton bersama fenilhidrazin berlebihan akan membentuk hidrazon atao osazon. Osazon yang terbentuk mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang spesifik.

Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih dan terbentuk kembali bila didinginkan, namun sukrosa tidak membentuk osazon karena gugus aldehida dan keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas., sebaliknya osazon monosakarida tidak larut dalam air mendidih.

Sedangkan teori yang mendasari hidrolisis pati dan sukrosa adalah, pati (starch) tau amilum merupakan polisakarida yang terdapat pada sebagian besar tanaman, terbagi menjadi dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa (+- 20 %) memilki strusktur linier dan dengan iodium memberikan warna biru serta larut dalam air. Fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (+- 80 %) dengan struktur bercabang. Dengan penambahan iodium fraksi memberikan warna ungu sampai merah. Patai dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis menjdi senyawa-senyawa yang lebih sedrhana. Hasil hidrolisis dapat dengan iodium dan menghaislkan warna biru samapi tidak berwarna. Hasil akhir hidrolisis dapat ditegaskan dengan uji Benedict.

Sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas akan terhirolisis, lalu menghasilkan glukosan dan fruktosa. Hal ini menyebabkan uji Benedict dan uji Seliwanoff yang sebelum hidrolisis memberikan hasil negatif menjadi positif. Uji Barfoed menjadi positif pula dan menunjukkan bahwa hidrolisis sukrosa menghasilakn monosakarida.           

     +HCl

Sukrosa ———–> Glukosa + Fruktosa

 

III. METODOLOGI

Metodologi yang digunakan pada percobaan ini adalah dengan menggunakan alat-alat, bahan-bahan dan prosedur sebagai berikut :

Alat

1.      Tabung reaksi Pyrex

2.      Rak tabung reaksi

3.      Pipet tetes

4.      Lempeng tetes poselin

5.      Penjepit tabung reaksi

6.      Penangas air

7.      Alat pemanas

8.      Pipet ukur

9.      Mikroskop

Bahan

1.      Amilum, glikogen, dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1 %.

2.      Pereaksi Molisch

3.      H2SO4 pekat

4.      Larutan Iodium

5.      Pereaksi Benedict

6.      Pereaksi Barfoed

7.      Perekasi Bial

8.      HCl pekat (37 %)

9.      Perekasi Seliwanoff

10.  Fenilhidrazin-hidroklorida

11.  Natrium asetat

12.  HNO3 pekat

13.  HCl 2 N

14.  NaOH  %

15.  Kertas lakmus

 

Prosedur

  1. Uji Molisch
  1. Masukkan 15 tetes larutan uji kedalam tabung rekasi yang masih kering dan bersih
  2. Tamabahkan 3 tetes pereaksi Molisch. Campurkan dengan baik.
  3. Miringkan tabung rekasi, lalu alirkan dengan hati-hati 1 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung supaya tidak bercampur.
  4. Perhatikan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan yang menandakan reaksi positif karbohidrat.
  5. Catat hasil dan buatlah kesimpulannya.

 

 

  1. Uji Iodium
  1. Masukkan tiga tetes larutan uji kedalam tabung reaksi atau lempeng tetes porselin.
  2. Tambahkan dua tetes larutan Iodium
  3. Amati warna sepesifik yang terbentuk, catat dan buatlah kesimpulannya.
  1. Uji Benedict

1.      Masukkan 15 tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi Benedict ke  dalam tabung reaksi. Campurkan dengan baik.

2.      Didihkan di atas api kecil selama dua menit atau masukkan ke dalam penangas air mendidih selama 5 menit.

3.      Dinginkan perlahan-lahan. Perhatikan warna dan endapan yang terbentuk.

 

  1. Uji Barfoed

1.      Masukkan 10 tetes larutan uji dan 10 tetes pereaksi Barfoed ke dalam tabung reaksi. Campurkan dengan baik.

2.      Didihkan di atas api kecil selama satu menit atau masukkan ke dalam penangas air mendidih selama 5 menit.

3.      Dinginkan perlahan-lahan. Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata.

 

  1. Uji Bial

1.      Masukkan 5 mL larutan uji dan tambahkan 10 tetes pereaksi Bial dan 3 mL HCl pekat ke dalam tabung reaksi. Campurlah dengan baik.

2.      Panaskan di atas api kecil sampai timbul gelembung-gelembung gas ke permukaan larutan

3.      Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk. Terbentuknya warna biru menunjukkan adanya pentosa.

 

  1. Uji Seliwanoff

1.      Masukkan 5 tetes larutan uji dan tambahkan 15 tetes perekasi selliwanof ke dalam tabung reaksi

2.      Didihkan di atas api kecl selama 30 detik atai dalam penangas air selama 1 menit

3.      Hasil positif ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna merah jingga

 

  1. Uji Osazon

1.      Masukkan 2 mL larutan ke dalam tabungt reaksi

2.      Tambahkan seujung spatel fenilhidrazin-hidroklorida an kristal natrium asetat.

3.      Panaskan ke dalam penangas air mendidih selama beberapa menit (+- 30 menit)

4.      Dinginkan perlaha-lahan di bawah air kran

5.      Perhatikan kristal yang terbentuk dan identifikasi di bawah mikroskop.

 

  1. Hidrolisis Pati

1.      Masukkan ke dalam tabung rekasi Pyrex  5 mL larutan amilum 1 % kemudian tambahkan 2,5 mL HCl 2 N.

2.      Campurtlah dengan baik, lalau masukkan ke dalam penangas air mendidih.

3.      Setetlah tiga menit, ujilah dengan larutan iodium dengan cara mengambil 2 tetes larutan, lalu ditambah 2 tetes iodium dalam lempeng tetes porselin tetes. Catat perubahan warna yang terjadi.

4.      Lakukan uji iodium setiap tiga menit samapi hasilnya berwarna kuning pucat.

5.      Lakuakan hidrolisis selama 5 menit lagi

6.      Setelah didinginkan, ambil 2 mL larutan hasil hidrolisis, lalu netrelakan dengan NaOH 2 %. Uji dengan kertas lakmus

7.      Kemudaian lakuakan uji Benedict

8.      Simpulakan apa yang dihasilakan dari hidrolisis pati

 

  1. Hidrolisis Sukrosa

1.      Masukkan ke dalamtabung reaksi Pyrex 5 mL larutan sukrosa 1 % kemudian tambahkan 5 tetes HCl pekat.

2.      Campurlah dengan baik, lalu panaskan dalam penangas air medidih selama 30 menit.

3.      Setelah didiginkan, netralkan larutan dengan NaOH 2 % dan uji dengan kertas lakmus.

4.      Selanjutnya lakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed.

5.      Simpulkan apa yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa.

 

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Dari Praktikum 1, diperoleh hasil sebagaimana tertera di tabel. 1

Tabel. 2

No.

Zat Uji

Hasil Uji Molisch

Karbohidrat (+/-)

1.       

Amilum 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

2.       

Glikogen 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

3.       

Dekstrin 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

4.       

Sukrosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

5.       

Laktosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

6.       

Maltosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

7.       

Galaktosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

8.       

Fruktosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

9.       

Glukosa 1%

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

10.   

Arabinosa 1 %

Terbentuk cincin berwarna ungu

+

Pada uji Molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat. hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :

                                                  H                                      O

                                       

CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + H2SO4           ─C—H + 

                                                                                                                         

                                                                                                                         OH

Pentosa                                                                               Furfural             α-naftol

 

 

                                                              H                                                              

                                                                

CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + H2SO4 

Heksosa                             

 O

                                 

→ H2C─       ─C—H       +

                                                                    

      OH                                             OH

5-hidroksimetil furfural                α-naftol

                                                                                                         

Rumus dari cincin ungu yang terbentuk adalah  sebagai berikut:                

                               O

                              

 

 

                                                               ­__SO3H

H2C─       ─────C─────          ─OH

 

 

Cincin ungu senyawa kompleks

 

Pada uji Iodium, pada masing-masing zat uji memiliki indikasi yang berbeda-beda. dari sepuluh zat uji, Amilum, Glikogen, dan Dekstrin positif polisakarida.

Untuk uji Iodium, didapat hasil sebagaimana tertera di tabel 2.

Tabel . 2

No.

Zat Uji

Hasil Uji Iodium

Polisakarida (+/-)

1.       

Amilum 1 %

Terbentuk warna Biru Tua

+

2.       

Glikogen 1 %

Terbentuk warna Merah Coklat

+

3.       

Dekstrin 1 %

Terbentuk warna Merah Anggur

+

4.       

Sukrosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

5.       

Laktosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

6.       

Maltosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

7.       

Galaktosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

8.       

Fruktosa 1 %

Terbentuk warna Kuning

9.       

Glukosa 1%

Terbentuk warna Kuning

10.   

Arabinosa

Terbentuk warna Kuning

 

Pada uji Benedict, indikator terkandungnya Gula Reduksi  adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. hal teresebut dikarenakan terbentuknya hasil reaksi berupa Cu2O.

Hasil uji pada uji Benedict adalah sebagaimana tertera di tabel. 3

 Tabel 3

No.

Zat Uji

Hasil Uji Benedict

Gula Reduksi (+/-)

1.         

Amilum 1 %

Terbentuk warna hijau dan tidak terbentuk endapan

2.         

Glikogen 1 %

Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan

3.         

Dekstrin 1 %

Terbentuk warna biru dan endapan kuning

4.         

Sukrosa 1 %

Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan

5.         

Laktosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

6.         

Maltosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

7.         

Galaktosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

8.         

Fruktosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

9.         

Glukosa 1%

Terbentuk endapan merah bata

+

10.     

Arabinosa

Terbentuk endapan merah bata

+

Berikut reaksi yang berlangsung:

       O                                          O

                                                

R—C—H  + Cu2+ 2OH  R—C—OH + Cu2O

Gula Pereduksi                                           Endapan Merah Bata

 

Pada uji Barfoed, yang terdeteksi monosakarida membentuk endapan merah bata karena terbentuk hasil Cu2O. berukut reaksinya :

       O                                       O

                   Cu2+ asetat        

R—C—H  + ─────→  R—C—OH + Cu2O+ CH3COOH

n-glukosa                                                 E.merah

monosakarida                                              bata

 

Hasil uji pada uji Barfoed adalah sebagaimana tertera di tabel. 4

Tabel. 4

No.

Zat Uji

Hasil Uji Barfoed

Monosakarida (+/-)

1.       

Sukrosa 1 %

tidak terbentuk endapan

2.       

Laktosa 1 %

tidak terbentuk endapan

3.       

Maltosa 1 %

Tidak terbentuk endapan

4.       

Galaktosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

5.       

Fruktosa1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

6.       

Glukosa1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

7.       

Arabinosa 1 %

Terbentuk endapan merah bata

+

 

Pada uji Bial, terkandungnya pentosa dideteksi dengan indikasi terbentuknya warna biru pada zat uji, dan hal itu terbukti pada zat uji Arabinosa 1 %.

Hasil uji pada uji Bial adalah sebagaimana tertera di tabel. 5

Tabel. 5

No.

Zat Uji

Hasil Uji Bial

Pentosa  (+/-)

1.   

Maltosa 1 %

Bening

2.   

Galaktosa 1 %

Bening

3.   

Fruktosa 1 %

Berwarna Kuning

4.   

Glukosa 1 %

Bening

5.   

Arabinosa1 %

Berwarna Biru

+

 

 

Berikut, reaksinya :                  

 

                                                              H                                          O            CH3

                    -3 H2O                          

CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + HCl  ­───→         ─C—H + 

                                                                                                                            

                                                                                                                      OH  OH

Pentosa                                                                                     Furfural         orsinol

                                                                                                                   (kompleks

                                                                                                           berwarna biru)

 

Pada uji Seliwanof, ketosa terdeteksi pada zat uji Fruktosa dengan terbentuknya warna jingga; yaitu karena terbentuknya resorsinol.

Hasil uji pada uji Seliwanoff adalah sebagaimana tertera di tabel. 6

Tabel. 6

No.

Zat Uji

Hasil Uji Seliwanof

Ketosa  (+/-)

1.   

Sukrosa 1 %

Kuning Jingga

2.   

Galaktosa 1 %

Bening

3.   

Fruktosa 1 %

Merah Jingga

+

4.   

Glukosa 1 %

Bening

5.   

Arabinosa1 %

Bening

Berikut reaksinya :

CH2OH             OH                                                                                                                              O               OH   OH

                                            +HCl                                                

        H               CH2OH     ───    H2C—       —C—H  +                kompleks

                                                                                                                 berwarna

           OH   H                                      OH                                             merah jingga

                                                  5-hidroksimetil furfural         resorsinol

 

Pada uji Osazon, diperoleh hasil yang berbeda-beda. Masing-masing zat uji mempunyai bentuk yang khas. Hal tersebut dapat digunakan untuk membedakan antara setu karbohidrat dengan karbohidrat yang lain.

Hasil Uji Osazon adalah sebagaimana tertera di tabel 7

Tabel. 7

No.

Zat Uji

Hasil Uji Osazon

Bentuk Kristal

1.    

Sukrosa 1 %

Terbentuk Kristal

 

2.    

Maltosa 1 %

Terbentuk Kristal

 

3.    

Galaktosa 1 %

Terbentuk Kristal

 

4.    

Glukosa 1 %

Terbentuk Kristal

 

 

 

 

Berikut reaksinya :

                 H    H  OH  H    H 

                               

CH2OH—C—C—C—C—C=O+H2NNHC6H5     (D-glukosa + fenilhidrazin)

                               

                OH OH  H  OH

 

 

                 H    H  OH  H    H 

                               

CH2OH—C—C—C—C—C=O+NNHC6H5 + H2  (D-glukosafenilhidrazon)

                               

                OH OH  H  OH

 

│2 C6H5 NHNH2

 

                 H    H  OH         H 

                                  

CH2OH—C—C—C—C—C=O+NNHC6H5  (D-glokosazon / Ozsazon kuning)

                               

                OH OH  H   NNH C6H5

 

Pada uji hidrolisis pati, hidrolisis sempurna apabila menjadi senyawa yang lebih sederhana yang terdeteksi pada perubahan warna. Hal ini terlihat padas perubahan warna setiap tiga menit disertai perbedaan hasil hidrolisis pula. Larutan hasil hidrolisis sebelum dilakukan uji Benedict untuk menentukan hasil akhir harus dinetralkan terlebih dahulu, karena semula masih dalam suasana asam. Berikut hasil uji Hidrolisis Pati adalah sebagimana tertera di Tabel. 8

Tabel. 8

Perlakuan

Hidrolisis (menit)

Hasil Uji Iodium

Hasil Hidrolisis

5 mL amilum 1 % ditambah 2,5 mL HCl 2 N kemudia dipanskan di penangas air mendidih

3

Biru

Amilopekstin

6

Ungu

Amilosa

9

Violet

Amilosa

12

Merah Tua

Ertitrodekstrin

15

Kuning Coklet

Akrodekstrin

18

Kuning Pucat

Maltosa

21

Pekat

Glukosa

Hasil Akhir dengan uji Benedict yaitu terbentuknya endapan merah bata

 

Pada uji Hidrolisis Pati ini dilakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed supaya dapat mengidentifikasi monosakarida-monosakarida yang terbentuk (glukosa dan fruktosa).

Sementara itu, yang dimaksud dengan gula inverse adalah gula yang dapat memutar bidang polarisasi, karena memiliki gugus aldehida dan keton bebas. Berikut hasil uji Hidrolisis Pati adalah sebagimana tertera di Tabel. 9

Tabel. 9

Perlakuan

Uji

Hasil Uji

5 mL sukrosa 1 % ditambah 5 tetes HCl pekat kemudian dipanaskan di penagas air mendidih

Benedict

Terbentuk Endapan Merah Bata

Seliwanoff

Terbentuk Merah Jingga

Barfoed

Terbentuk Endapan Merah Bata

 

V.     KESIMPULAN

 

1.      Amilum, glokogen, dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1 %. Terbukti positif karbohidrat

2.      Pada Amilum, Glikogen, dan Dekstrin adalah polisakarida

3.      Pada laktosa, Maltosa, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa terdapat gula inversi yaitu dengan terbentuknya endapan merah bata.

4.      Pada Sukrosa, Laktosa, dan Maltosa adalah monosakarida. Sedangkan, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa adalah disakarida

5.      Pada zat Uji Arabinosa, terdpaat pentosa dari uji Barfoed

6.      Pada Uji Seliwanof, Ketosa terdapat pada fruktosa

7.      Bentuk kristal karbohidrat pada hasil uji Osazon berbeda-beda sesuai dengan zat ujinya.

8.      Hasil hidrolisis pati dan amilum adalah amilopektin, amilosa, eritrodekstrin, akrodekstrin, maltosa, dan glukosa

9.      hasil hidrolisis sukrosa adalah monosakarida-monsakarida (glukosa dan freuktosa) yang terdeteksi pada uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed

 

 

 

VI.  DAFTAR PUSTAKA

 

Feseenden dan Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa Aksara. Jakarta

Jalip, IS. 2008. Praktikum Kimia Organik, Edisi  kesatu. Laboratorium Kimia Universitas Nasional. Jakarta