METODE BELAJAR SMART

2 05 2012

By MazGuru

BELAJAR SMART merupakan materi MOS di SMA Islam Ahmad Yani Batang yang diamanahkan kepada saya untuk menyampaikannya. Alhamdulillah MOS telah berakhir dan sukses tanpa halangan apapun yang berarti. Tulisan ini merupakan review atas materi MOS yang saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi peserta didik dalam menempuh pendidikan sesuai dengan harapan.

KONSEP BELAJAR DALAM ISLAM

Belajar menurut pandangan agama Islam adalah wajib. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT :

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (١) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (٢) ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (٣) ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (٤) عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (٥)

“Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang menciptakan, (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (2) >Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (3) Yang mengajar [manusia] dengan perantaraan kalam [3]. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (5)” (Q.S. Al-‘Alaq : 1-5)

Konsep pendidikan Islam yaitu suatu ide atau gagasan  untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya  sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Dengan cara menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas  dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji (Fatih Syuhud dalam  Sidogiri.com).

BELAJAR SMART

Belajar SMART merupakan konsep belajar yang saya kembangkan guna melakukan proses pembelajaran. SMART sendiri merupakan kepanjangan dari :

S = SELALU DIAWALI DO’A

Do’a dan niat merupakan landasan tujuan dari suatu amal/perbuatan. Sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW :

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu)

Doa/niat sangatlah penting menurut pandangan Islam. Salah satu penelitian dari Prof Masaru Emoto membuktikan bahwa do’a-do’a dapat mempengaruhi kondisi air. Air yang diberi do’a-do’a, tulisan serta suara musik yang baik akan membentuk kristal yang sangat indah.

Menurut Emoto, air bisa “mendengar” kata2, “membaca” tulisan, dan “mengerti” pesan dan serta merekam pesan spt pita magnetik atau compact disk. Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dlm pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yg lain.

Ketika dibacakan doa untuk kesembuhan didepan sebotol air maka terekam kristal seperti gambar dibawah:

Ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan.

Ketika diputarkan musik symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga.

Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal akan hancur.

Kristal air ini merekam lagu ‘Imagine’ dari John Lennon. Spt lagunya, kristal ini unik dan indah. Setiap elemen tumbuh dg harmonis.

Saat diungkapkan ‘war’, kpd kristal air (sebelah kiri), maka bentuk kristal ‘peace’ (kanan) tertabrak oleh benda mirip pswt (WTC pd 9 Sept). Gb direkam sblm kejadian.

Selanjutnya ditunjukkan kata ”malaikat” : terbentuk rantai dg kristal hexagonal yg indah (gambar kiri) dan ketika ditunjukan kata “setan”, kristal berbentuk buruk dg bola api ditengah (gambar kanan).

Kristal air yang direkam dari mata air yg masih jernih di Jepang.

“Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al Anbiya : 30).

KESIMPULAN :

Do’a –> menggetarkan molekul air –> menciptakan kondisi sel baik –> merubah  kondisi fisik maupun mental –> menciptakan perilaku –> membentuk kebiasaan –> tercipta karakter baik

 

M = MOTIVASI DIRIMU

Motivasikan dirimu sendiri !!pertanyaan berikut perlu dijawab dan direnungkan agar motivasimu terlecut :

  • Untuk apa aku belajar ?
  • Apa manfaat belajar bagiku ?
  • Seandainya aku tidak belajar, apa akibatnya ?
  • dst.

Perlu diingat, bahwa TUGAS BELAJAR adalah WAJIB menurut pandangan ISLAM. Ingat ayat di atas dan ingat juga Sabda Nabi Muhammad :

عَنْ أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

(رواه ابن ماجه)

Dari Anas ibn Malik r.a ia berkata, Rasulullah saw bersabda:

“Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam”

(HR. Ibn Majah)

Pesan terkandung:

  • Setiap orang Islam wajib menuntut ilmu, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua ataupun anak muda.
  • Ilmu yang harus dituntut adalah semua ilmu yang berguna, yang mengajarkan kebaikan, baik itu ilmu-ilmu agama atau ilmu pengetahuan umum.
  • Orang Islam harus menjadi orang pandai, bukan orang yang bodoh.
  • Dengan ilmu orang akan mampu meraih cita-citanya, baik di dunia sampai di akhirat.

Ingat juga, bahwa menuntut Ilmu (belajar) memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bagi kamu yang masih sekolah tentunya seluruh biaya pendidikan ditanggung oleh orang tuamu. Ingatlah kepada orang tuamu yang telah membiayai seluruh kebutuhanmu, termasuk biaya pendidikanmu yang tidak sedikit. Buatlah mereka bangga akan prestasimu ! Kapan lagi membahagiakan mereka berdua, kalau bukan sekarang saatnya !

A = AKTIF SELALU

  1. Aktif mendengarkan keterangan dari guru
  2. Aktif mencatat, catat point-point penting materi pembelajaran
  3. Aktif membaca buku (sehari minimal 10 menit)
  4. Aktif masuk kelas
  5. Aktif bertanya bila ada materi yang kurang paham (buat daftar pertanyaan tiap pertemuan)
  6. Aktif menjawab pertanyaan guru maupun teman
  7. Aktif mengerjakan tugas dan latihan soal
  8. Aktif mencari sumber belajar yang mendukung
  9. Aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif
  10. Aktif berdo’a

R = REVIEW (ULANGI KEMBALI)

Ulangi lagi belajar dan membaca materi pelajaran yang di dapat di sekolah.

  1. Tentukan waktu belajarmu, gunakan minimal 15 menit tiap hari untuk belajar
  2. Jika waktu belajarmu lebih dari 30 menit sehari, gunakan waktu jeda/istirahat sebentar agar tidak bosan.
  3. Gunakan gaya belajar yang sesuai dengan tipemu
  4. Manfaatkan seluruh indera dalam belajar
  5. Jangan menunda waktu untuk belajar
  6. Manfaatkan belajar kelompok tiap minggu

T = TAWAKKAL (BERSAERAH DIRI KEPADA ALLAH SWT)

Di kalangan masyarakat awam banyak orang yang salah paham tentang tawakkal. Menurut mereka tawakkal ialah menyerahkan diri secara bulat-bulat kepada Allah SWT, tanpa adanya usaha dan ikhtiar. Tawakkal dilakukan setelah kita berikhtiar dengan sekuat tenaga, maka itulah tawakkal yang sebenarnya.

Manusia boleh berusaha, tetapi hasil merupakan hak prerogatif Allah.

Tawakkal dilakukan setelah kita berusaha dengan keras dan berdo’a.

Hasil akhir merupakan hak Allah dan itu merupakan yang terbaik untuk kita.

Jangan takut gagal, karena dalam kegagalan kita dapat pelajaran

PRESENTASI BELAJAR SMART

Untuk memahami konsep BELAJAR SMART, saya membuat media presentasi yang di dalamnya juga terdapat pembahasan mengenai GAYA BELAJAR dan MULTIPLE INTELLIGENCES (KECERDASAN JAMAK).

Berikut gambarnya :

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Beberapa fitur presentasi belajar smart :

1. LOGIN

Anda akan diminta login sebelum memasuki presentasi. Klik tombol login untuk masuk presentasi.

2. Aplikasi Tes Gaya Belajar.

Saya sisipkan aplikasi untuk mengetahui gaya belajar siswa. Silahkan dijawab seluruh pertanyaan yang ada dan ikuti petunjuknya nanti akan dihasilkan skor mengenai gaya belajar yang dominan.

3. Aplikasi Tes Multiple Intelligent (Kecerdasan Jamak)

Tes ini hampir sama dengan tes gaya belajar. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kecerdasan jamak yang kamu miliki. Ikuti prosedur menjawabnya, nanti akan ditampilkan skor masing-masing kecerdasan jamak yang kamu miliki.

Silahkan di download, klik tombol di bawah ini !

Iklan




UAN & SNMPTN Dalam Pandangan Sufi

3 05 2011

Gara-gara setia mendampingi anak dan keponakannya belajar serius menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) dan bahkan mengantar mereka ziarah ke kubur wali agar dapat barokah dan lulus ujian, Sukiran jatuh sakit dan dirawat di RSUD. Ketika Sukiran menghadap Guru Sufi untuk meminta barokah doa bagi kesembuhan ayahnya, ia berpapasan dengan Sufi tua dan mengabarkan keadaan ayahnya yang sedang sakit. Tahu bahwa penyebab jatuh sakitnya Sukirin adalah UAN, Sufi tua menyayangkan kekeras-hatian ayah dari Sukiran itu yang enggan menuruti sarannya. “Aku sudah memberitahu bapakmu, untuk tidak terlalu serius menghadapi UAN bagi adikmu. Berkali-kali aku katakan, bahwa nasib manusia tidak ditentukan oleh gelar akademis dan ijazah sekolah,” kata Sufi tua.

“Tapi mbah,” sahut Sukiran tidak faham,”Kalau tidak serius belajar, nanti tidak lulus ujian. Kalau tidak lulus ujian, berarti tidak bisa ikut tes SNMPTN dan itu berarti tidak bisa kuliah adik saya.”

“He, apa kau pikir UAN itu seleksi evaluative hasil belajar tingkat nasional?” tanya Sufi tua.

“Ya pasti begitu toh mbah,” sahut Sukiran ketawa,”Namanya juga Ujian Akhir Nasional. Jadi itu seleksi evaluative hasil belajar tingkat nasional. Kan siswa yang ikut UAN juga skalanya nasional? Bagaimana toh mbah?”

“Kamu salah sangka, le. Sekali pun UAN itu singkatan Ujian Akhir Nasional, tapi UAN sekali-kali bukanlah sebuah seleksi evaluative hasil belajar secara nasional,” kata Sufi tua.

“Kenapa sampeyan bisa bilang begitu, mbah?” sergah Sukiran penasaran.

“Coba kamu pikir yang jernih,” kata Sufi tua dengan suara tenang,”Jika UAN itu sebuah seleksi evaluatif tingkat nasional, maka ijazah tanda kelulusan yang di dalamnya terdapat nilai kelulusan UAN hendaknya diakui keabsahannya secara nasional. Maksudnya, jika UAN memang hasil seleksi evaluatif belajar para siswa tingkat nasional, maka tanda kelulusan UAN harus diakui sebagai hasil belajar siswa pada tingkat nasional. Itu berarti, ijazah hasil seleksi evaluatif UAN langsung bisa digunakan untuk mendaftar masuk ke perguruan tinggi. Faktanya, ternyata hasil seleksi evaluatif yang disebut UAN itu hanya berupa selembar kertas yang tidak bisa dijadikan jaminan untuk masuk langsung ke perguruan tinggi. Siswa-siswa yang lulus UAN, wajib mengikuti ujian seleksi masuk ke perguruan tinggi, yaitu SNMPTN. Lalu untuk apa diselenggarakan UAN jika hasilnya tidak bisa dijadikan tolok-ukur kemampuan hasil belajar siswa, yang memungkinkan untuk mengikuti proses belajar-mengajar di perguruan tinggi? Untuk apa lulus UAN jika ternyata masuk PTN harus diuji lagi? Apakah itu bukan kemubadziran luar biasa?”

“Emm benar juga ya mbah?” gumam Sukiran mengangguk-angguk.

“Tahukah kamu, kenapa program mubadzir UAN itu diteruskan dan kenapa pula seleksi masuk perguruan tinggi semacam SNMPTN tetap juga dijalankan?” tanya Sufi tua.

“Wah kalau itu saya kurang tahu, mbah,” sahut Sukiran garuk-garuk kepala,”Soalnya saya ini kurang cerdas dan sempit wawasan. Bayangkan, mbah, masuk PTN saja saya gagal terus, apalagi ditanya UAN dan SNMPTN, tambah gak ngerti saya.”

“Kalau menurut aku, UAN dan SNMPTN itu terus dijalankan, sekalipun banyak yang tidak setuju dan bahkan protes, itu lebih disebabkan karena itu program banjir dana tahunan. Maksudku, dana untuk UAN dan SNMPTN itu tidak sedikit jumlahnya. Kalau sampai keduanya ditiadakan, bias bikin gigit jari orang-orang yang terlibat di dalam lingkaran pendidikan formal,” kata Sufi tua.

“Woo bener itu, mbah,” sahut Sukiran,”Untuk ikut tes SNMPTN saja, tiap-tiap calon mahasiswa harus bayar Rp. 150.000. Padahal, yang ikut tes SNMPTN se-Indonesia jumlahnya lebih 170.000 orang. Wow o wo, bermiliar-miliar itu.”

“Hehehe, cerdas juga kamu le,” tukas Sufi tua,”Tidak perlu dijelaskan sudah faham sendiri. Itu belum berkaitan dengan jumlah calon mahasiswa yang tidak lulus SNMPTN kemudian ikut program SPMB dan program Kemitraan, yang mengabsahkan tawar-menawar tarif masuk.”

“Iya mbah, tajir betul ya hasil dari seleksi-seleksian itu.”

“Tapi salahnya masyarakat juga yang sangat percaya dan sangat serius menghadapi program-program pengerukan dana itu,” kata Sufi tua.

“Salah satu korbannya adalah bapak saya yang masuk RSUD.”

“Kalau seriusnya dilanjutkan, bapakmu bias mati dan dijamin masuk neraka,” kata Sufi tua.

“Lho, kok bisa sampeyan bilang begitu mbah?” kilah Sukiran memprotes,”Apa dasar sampeyan menyatakan bapak saya jika mati akan masuk neraka?”

“Karena iman bapakmu sudah terhegemoni doktrin para pencari keuntungan yang mengatas-namakan pendidikan; terhegemoni doktrin para pencari keuntungan  yang menyatakan bahwa kesuksesan dan keberhasilan seseorang itu mutlak ditentukan oleh ijazah formal sekolah dan gelar kesarjanaan. Padahal, sebagai kaum beriman, hendaknya bapakmu yakin bahwa peruntungan nasib dan takdir manusia itu mutlak ditentukan Allah; Allah  Yang berwenang memberi petunjuk jalan lurus dan Allah  pula yang berwenang menggelar jalan sesat bagi manusia sesuai yang dikehendaki-Nya; Allah  Yang mutlak menentukan takdir baik dan takdir buruk makhluk-Nya; Dia Yang mutlak menentukan hidup dan mati makhluk-Nya; bahkan selembar daun jatuh pun, atas kehendak-Nya jua; lantas bagaimana keimanan itu diganti dengan doktrin membuta bahwa yang menentukan nasib baik manusia adalah ijazah dan gelar akademik kesarjanaan?” kata Sufi tua.

“Tapi mbah, kalau sekarang ini kita tidak kuliah, apa kata duniaaa?” Sukiran menjulurkan lidah.

“Tapi kalau gara-gara sekolah keimananmu menjadi berubah, apa kata akhiraaat?” sahut Sufi tua tertawa terkekeh-kekeh.

dalam catatan Agus Sunyoto





Dakwah vs Menakut-nakuti

21 04 2011

Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri

Seorang kawan budayawan dari satu daerah di Jawa Tengah yang biasanya hanya SMS-an dengan saya, tiba-tiba siang itu menelpon. Dengan nada khawatir, dia melaporkan kondisi kemasyarakatan dan keagamaan di kampungnya. Keluhnya antara lain,“Kalau ada kekerasan di Jakarta oleh kelompok warga yang mengaku muslim terhadap saudara-saudaranya sebangsa yang mereka anggap kurang menghargai Islam, mungkin itu politis masalahnya. Tapi ini di kampung, Gus, sudah ada kelompok yang sikapnya seperti paling Islam sendiri. Mereka dengan semangat jihad, memaksakan pahamnya ke masyarakat. Sasarannya jamaah-jamaah di masjid dan surau. Rakyat pada takut. Bahkan, na’udzu billah, Gus, saking takutnya ada yang sampai keluar dari Islam. Ini bagaimana? Harus ada yang mengawani masyarakat, Gus. NU dan Muhammadiyah kok diam saja ya?”

Baca entri selengkapnya »